Tuesday, 30 October 2012
Dengan amat jelas!
"Pergi sekarang atau tidak sama sekali!"
Tapi laki laki itu tetap diam.
Ia menjawab perintahku dengan matanya yang tajam, seperti bicara "bahkan kamu tidak tahu kenapa langit bisa berubah kelabu," lalu apa setelah ini?
Apakah ia akan membuka mulutnya dan berkata "aku mencintaimu, sungguh,"
Dan haruskah aku menjawab pernyataan itu dengan pertanyaan, "benarkah?"
Tapi kenyataan mulut laki laki itu tetap bungkam.
Dan aku? Aku harus mengira ngira apa yang sedang ia pikirkan. Dan tentunya menjawab pertanyaan dari matanya melalui mataku, "Ia kelabu karena menyerah pada alam, pada jalannya."
Lalu ia berdiri, menghapus jarak antara bibirnya dan telingaku, dengan lirih laki laki itu berkata, "kalau alam yang menghendakinya, baiklah." lalu ia menjauh, dan pergi
"salahkan saja terus alam yang tidak pernah bersalah, kamu punya pilihan. Tapi bodohnya kamu memilih yang lain."
Friday, 26 October 2012
Thursday, 18 October 2012
Peduli Apa?!
Saturday, 6 October 2012
Sahabat Pena III
Iya shane, itu cinta. Yang sedang kamu rasakan itu cinta namanya. Kamu akan menunggu, bahkan sampai waktu yang tak hingga lamanya. Kamu ingat banyak bilang cinta datang karna terbiasa? Suatu saat kamu tidak akan rela kehilangan tukang susumu itu shane, hihi
Sekarang sudah berbeda shane, kakak tua ku entah menghilang kemana. Aku tidak mau menunggu. Bukan karena aku tidak cinta, tapi ini hanya soal bagaimana aku menjaga perasaanku sendiri. Satu, dua, bahkan berbulan bulan ini banyak sekali yang hadir di sekelilingku shane. Tapi tidak ada yang bisa sehangat matanya, mata kakaktuaku yg ada di sangkar, yang sudah dibawa jauh oleh pemiliknya. Pemilik sahnya.
Kecuali orang itu.. Laki laki tampan dengan sejuta pesona. Dia memulai sesuatu dan tentu aku menyambut harapan itu meski hanya kepalsuan. lalu layakkah aku protes jika suatu saat benar benar akan terjadi antara aku dan dia hanya ada ruang hampa? Karena di dalamnya tidak ada kehidupan yang bisa berjalan shane.
Aku belajar mengatur perasaanku sedemikian kerasnya. Mematok, sampai batas mana aku boleh terlena dengan senyumnya yang mematikan itu.
Cinta tidak pernah sesederhana ucapannya, aku bahkan bisa runtuh ketika aku salah menempatkan kapan aku harus memikirkannya. Miris shane, ia selalu hadir setiap aku mencoba untuk sadar dari dunia khayal yang aku bangun sendirian. Dan kembali lagi aku harus terseok menunggu harapan demi harapan..
Always miss you,
Lyna
Friday, 21 September 2012
They're..
Thursday, 20 September 2012
Don't Judge a Book by its Cover (masih berlaku)
Yak. Sama.
Gue juga mikir gitu.
*suatu pagi* gue lagi beres beres rumah, maklum, kodrat sebagai wanita, tiba tiba ada plastik udah lecek warna putih tapi kusam. Pikiran gue langsung menerawang ke masa lalu. Gue baru inget kemaren nyokap dari puncak. Mungkin oleh oleh. Tapi entah ini apa. Plastik putihnya berukuran lumayan besar. Tapi di plintir plintir kayak orang meres cucian basah, kebayangkan? Akhirnya gue buka dan gue lihat isi di dalamnya. Ada wafer berlapis coklat, dengan karamel dan crispy *ngaco
Ada benda itu. Shock bukan main, speechless parah, koma sejenak. Dalem hati gue keheranan, masa iya nyokap gue...
Ah gak mungkin.
Terus kenapa ada kotoran manusia di meja makan?! Perbuatan siapa ini? Gue udah berfikiran buruk bahwa ini tanda gak bagus buat masa depan gue. Hampir gue netesin air mata. Tapi gajadi, ngapain nangis buat hal yg belom pasti.
*nyokap pulang dari pasar*
D : mah! Mamah.. Ini eek nya siapa mah? Kok diplastikin?
M : mana eek si dhes
D : ini mah *nunjukin plastik*
M : ini bukan ta*i kakaaaaak.
D : hah? Terus apaan?
M : ubi. Ubi cilembu.
D : ~ *lemes*
Dan harus diketahui, ubi ini ubi paling enak yang pernah gue makan.
Sekian
Monday, 17 September 2012
Abon~
Rara : apaan si du
Edu : nepokin sapi sampe jadi abon hwkwkhwkwk
Singgih : ngejemur sapi sampe mati aja berapa lama yak bruakakakak gmana nyampe jd abon
..
Friday, 14 September 2012
Insiden Kuah Soto
Ada yang pernah bilang, jangan pernah anggep hidup lo atau diri lo itu sial. Karna otomatis kita bakal jauh dari bersyukur. Kalo di pikir pikir bener juga sih, mana ada orang yang ngucap “Ya allah alhamdulillah saya sial hari ini.” Kalaupun ada pasti cuma satu atau dua dari seluruh jumlah rakyat indonesia, dan itu yang satu tinggal di RSJ, yang satu tinggal di hutan sendirian. So, “apapun yang” terjadi kita harus merasa bahwa kita itu beruntung, dan senantiasa bersyukur.
Em.. tapi gini, apa gue harus merasa beruntung ketika gue numpahin kuah soto se-kuali, panas, kuning di pagi hari yang indah? Mau nangis.. bukan karena gue ga suka bau nya, atau gue gak bisa bersihin. Tapi bayang bayang kain pel langsung menghantui pikiran gue. Ini berminyak banget. Pasti lama bersihinnya. Di satu sisi tiba tiba jam teriak “WOOOY HARUS NGAMPUS JAM SETENGAH 8!” oh my god..
Gue muter otak, bener bener mikir di mana letak keuntungannya? Tapi buru buru gue sadarin diri karena kalo kebanyakan mikir gue pasti telat. Dan yap benar saja, ini sama kayak bayangan yanng muncul di kepala gue tepat satu detik setelah gue numpahin kuah sotonya. Gue bener bener megang kain pel, terus lagi nuang sabun, sambil meratapi nasib seandainya gue gak begini, seandainya gue gak begitu. Penyesalan emang selalu dateng belakangan. Kalimat ini klise tapi bermakna besar. Coba aja kita telaah lebih dalam..
*berfikir*
*berfikir*
*berfikir*
*berfikir*
Bener juga ya.
Oke. Saatnya berangkat ke kampus (ceilehh kampus, maklum masih norak. Kadang kadang gue suka nyebut sekolah). Sebelumnya gue udah pengakuan dosa ke nyokap atas kejadian yang tidak disengaja. Yang tadinya dari semalem niat sarapan soto ayam, gak jadi gara gara udah empet duluan. Walaupun di kualinya masih ada sisa sisa kehidupan si kuah, sekitar dua mangkok.
Di jalan gue masih berfikir keras, dimana letak keuntungannya? Oh mungkin dengan gue bersih bersih dapurnya jadi wangi. Ah engga juga. Atau mungkin dengan gue bersih bersih sebelum ngampus, otak gue jadi fresh? Ah engga juga. Malahan jadi ilfeel sama soto dan kepikiran. Atau mungkin dengan gue numpahin kuah soto bakal ada ibu peri, dan tring gue jadi cantik. Ah apa apaan otak gue kenapa mikir kesitu. Gue mikirin terus, dari bu Rita mulai ngajar, sampe selesai ngajar. Masih gak nemu juga. Apa kesimpulannya gue ini sial?
Masa sih? Tiba tiba muncul pertanyaan di otak gue. “apa ada orang yang lebih beruntung dari gue saat itu?” jawabannya, BANYAK. Yak makin pesimis aja deh. Dan ternyata muncul lagi satu pertanyaan terakhir, “apa ada orang yang lebih sial dari gue saat itu?” dan jawabannyaaaaaa……. BANYAK! Terharu banget akhirnya nemuin jawaban yang pas. Di situlah letak keberuntungan gue, gue lebih beruntung dari orang orang yang lebih sial di luar sana. Mungkin ada yang saat itu numpahin sayur basi, atau mungkin ada yang numpahin tempat sampah. Ya pokoknya lebih sial deh. Lagipula kita Cuma ga boleh bilang diri kita sial kan? Bukan ga boleh bilang orang lain sial. Jadi sekarang gue bisa bersyukur dengan ikhlas. Jadi inget bidara pernah bilang, kalo mau bersyukur, liatnya ke bawah, jangan ke atas. Dengan begitu kita bakal lebih banyak bersyukur.
Saturday, 8 September 2012
"Pak Pos, tolong antarkan,"
Lapor kak.
Aku udah kuliah loh sekarang.
Maaf laporannya lewat sini, aku belum sempet ke makam kalian. Belakangan ini musim kemarau, pasti tanah di sana kering ya kak? Banyak banget yang mau aku ceritain. Dari mulai perjuangan yang luar biasa dan tiap hembusan nafas yang bener bener terasa berat, sampai berujung kekecewaan berulang kali. Dilema yang amat sangat buat ngambil keputusan untuk masa depan aku kak, masa depan adek. Kebahagiaannya mama. Misi itu belum berhasil kak, maaf. Aku sendirian.
Aku sering berfikir, seandainya kalian ada disini. Aku gak perlu nyari kemana mana bahu buat bersandar. kak, bukankah lambat laun air akan tumpah bila terus menerus dituang ke gelas yang sama? Lalu apa aku salah bila menjadikan hatiku sekeras baja? Aku gak punya hak untuk menjadi lemah kak. Tapi terkadang ada masa masa yang benar benar sulit dan aku butuh kalian.. dan untuk cerita yang banyak sekali itu, aku bahkan bingung mulai darimana. Biar aja waktu yang tahu kak. jangan khawatir. Kalian baik-baik ya J
Saturday, 1 September 2012
Welcome My September
Aku melihat ada tanda,
Langit yang menjadi abu abu
Dan pandangan yang bernuansa cokelat. Seperti foto orang jaman dahulu, yang hanya memiliki dua warna. Kalau tidak putih, ya cokelat. Pandanganku melihat kegelapan, langit nampaknya sudah tidak sabar. Angin semakin ribut dengan masalahnya sendiri. Aku yakin, mungkin kalau wajahku aku usap dengan kapas, pasti banyak debu yang terlihat. Semua orang sama sama berambisi ingin cepat sampai di rumah. Tapi aku? Aku menikmati sore ini, benar benar menikmatinya. Jalanan yang begitu lenggang memberikan kebebasan untukku merasakan pertandanya. Daun daun begitu gembira, mereka menari nari. Hewan hewan yang biasanya berterbangan sudah mencari tempat berlindung. Tapi tidak denganku, aku menikmatinya, setiap mili angin yang aku hirup di jalanan. Dingin, tapi menyenangkan.
Aku hanya tertawa,
Ya.. Tertawa.
Karena benar adanya, hujan datang. Sesekali aku memejamkan mata. Mencoba mengingat setiap detik yang terjadi, saat titik-titik hujan jatuh tepat di kulitku. Dan betapa aku merindukan wangi ini. Wangi tanah kering yang seketika basah terkena air hujan. Atmosfer yang terasa lembab dan hangat. Dan air yang turun dari langit di atasku. Begitu lama sampai aku bisa merasakan ini lagi, hujan di bulan september.
Tuesday, 21 August 2012
Sahabat Pena II
Hey, maaf aku baru membalas emailmu. Kamu tau lyn, aku senyum senyum sendiri saat tahu bahwa kamu sedang jatuh cinta. Aku memang tidak begitu mengerti bagaimana cinta, tapi aku yakin itu pasti menyenangkan. Walaupun ada kalanya sakit itu tetap ada.
Jangan sedih lyn. meskipun ia adalah kakak tua yang ada di sangkar, bukankah itu tandanya ia akan selalu dekat denganmu? Bukan elang yang akan terbang bebas dan tidak tahu kapan pulang. Cintai dia dengan tulus lyn. Bukan dengan keinginan.
Kehidupanku di sini tidak jauh berbeda. Pergi pagi, pulang sore, lalu aku bekerja. Aku baru pulang saat jarum kecil di jam tanganku tepat berada di angka sebelas. Saat itu jalanan sudah sepi, hanya ada orang orang seperti aku yang menghabiskan waktu untuk kuliah dan bekerja. Rasanya sulit membagi waktu merasakan bagaimana rasanya jatuh cinta.
Oh ya lyn,
Ada... Seseorang, setiap pagi dia memberi aku setangkai bunga dan sebotol susu segar. Entah itu bunga mawar, lily, anggrek, sedap malam, bahkan bunga mataharipun pernah ia berikan. Ia meletakkan bunga dan susu itu di depan pintu rumahku. Tapi anehnya, aku tidak pernah melihatnya. Melihat embun pagi itu. Mungkin terlalu pagi sampai aku selalu kehilangan waktu untuk berterimakasih padanya.
Pernah suatu hari aku kehilangan bunga pagiku, seharian aku menunggu di depan rumah. Tapi ia benar benar hilang. Rasanya seperti.. Ada yang sakit di dadaku. Apa ini cinta lyn? Beginikah rasanya? Apa ini yang kamu juga rasakan?
Love too,
Shane
Friday, 17 August 2012
Berapa orang?
Thursday, 16 August 2012
Pemimpin
Nah~ suatu hari, ya kira kira seminggu sebelum lebaran. Nyokap ke pasar. Pulang pulang bawa belanjaan berendong petong (mohon maaf gue ga tau berendong petong dalam kamus bahasa indonesia artinya apa) pake motor dan tiba tiba gue ngeliat sesuatu yang janggal lagi tiduran dengan kaki terikat di tempat injekan kaki motor matic. Oh meeeen, itu ayam! Idup! Gede banget!
Hm.. Oke, tenang. Nyokap emang dulu waktu kecil suka bgt melihara2, contohnya kayak bebek, kambing, ayam, dll. Nyokap gue itu dulu wkt kecil rambutnya keriting dahsyat. Ngebayangin nyokap giring giring kambing sama bebek tiap sore itu langsung kepikiran artis cilik dari papua yang jadi temennya si bedil di sinetron blangkon ajaib. Entah kenapa..
Dengan penuh kasih sayang, nyokap ngegendong ayam jago dan dibawa ke belakang rumah. Kakinya di iket di pot kembang yang dari besi. Biar ga kemana mana. Soalnya kalo ga diiket, ga kuat meen, be*ol di mana mana.
Sebenernya yang di atas ini baru prolog nya aja, yg mau gue ceritain adalah berikut :
Kemaren sore, nyokap sakit. Biasalah tugas gue itu adalah ngerokin. Krn rmh lg berantakan gara gara lg di cat, ngerokinnya dilaksanakan di kamar gue, yang jendelanya langsung berhadapan dengan singgasana si ayam. Mungkin ade gue bosen kali ya ga ada kerjaan, jadi dia ngambil beras buat ngasih makan si ayam. cerita berikut ini dimohon tidak dilakukan di rumah, entah karna iseng atau emang punya potensi jadi orang jahat, beras yang mau dikasih ke ayam, di gesek gesek dulu di ketek ade gue. Jadilah nasi asam saudara saudara. Silahkan kalo kalian mau memaki maki ade gue untuk kelakuan yang ini. Gue ikhlas..
Sambil ngasih makan, ade gue kan bawel orangnya. Ga berenti berenti ngoceh, apa aja di sebut sama dia. Yang penting ga diem.
*ngomong lewat jendela*
Ade : kak, entar kalo udah dipotong ayamnya, kaka makan palanya kak (sambil ngegodain si ayam)
Dhesna : ga mau, aku takut liat mukanya
Ade : yeeh, bagus biar jadi pemimpin entar
Dhesna : dih paan si masih aja percaya (tangan masih ngerik)
Mungkin karena males nanggepin jadi ade gue diem, dia masih ngelempar lempar beras buat ayam. Tapi tiba tiba dia ngedumel sendiri
"pemimpin. pemimpin upacara menyiapkan pasukan upacara."
Gue : ???%&>@€/*
Wednesday, 15 August 2012
Buku baru buat adek o:)
Berhubung bentar lagi lebaran, malu dong kalo rumah berantakan. Ya jadinya dengan berat hati gue merelakan waktu gue buat beresin meja belajar si ade yang super super berantakan, banyak barang yang ditumpuk gara gara rumah lg dicat. Dari spion motor sampe foto om gue waktu kecil ada di situ (ngapain coba ada dimeja belajar ade gue? Mungkin ade gue sering memandang foto itu kalo lg belajar. Oh iya, ade gue cowok) . Tapi gue gak mau dong ngeberesin sendiri, gue panggil deh si ade buat bantuin. Lebih tepatnya sih mandorin. Ini yang punya meja siapa, yang beresin siapa.
Ade gue itu bukan orang yang rapi. dalam 1 tahun aja, Di tiap buku tulis per mata pelajaran, dia cuma make paling sekitar 10-12 lembar. Sisanya bersih kecuali sampul yang udah rombeng ga ketolong. Buku2 tulisnya yg msh banyak sisa, gue kumpulin. Siapa tau bisa buat coret2an.
Nah, ada satu buku tulis yang masih bagus bgt. Dan isinya cuma 2 lembar yg udah kepake. Dalem hati ni orang boros bgt.
Akhirnya..
dhesna : dee, nih de kalo ini dirobek, kamu jadi punya buku tulis baru deh. Masih bagus tau *sambil ngerobek 2 lembar yg tadi*
Ade : *cuma planga plongo liat2in koleksi kartu yugi. (Ya taulah perbandingan ngeliat2 barang sama beres2 meja belajar itu 9:2)* *ngerespon omongan gue seadanya*
...
...
Hening *cuma ada suara buku*
...
...
Ade : bentar deh kak *pasang muka mikir sambil ngeliatin kertas yg gue robek*
Dhesna : apaan
Ade : *sadar* *kaget* kak!!!! Itu PR aku, baru dikasih kemaren blm aku kerjain! Ngapa dirobek?!
Dhesna : hah? Yah ._. Maaf dehh~
Thursday, 9 August 2012
Cinta Pada Merpati
“Mata adalah saksi
Dan diam bukan berarti bisu
Kematian telah hadir
Membunuh cahaya
Perlahan redup
Redup
Semakin redup
Dan pada akhirnya kegelapanlah yang bertahta”
Tatapan sendu itu berkelana pada lamunan yang tidak kunjung berakhir. Ada ruang yang sudah lama membeku di dalam hati Seya. Menyadari kehampaan yang semakin lama semakin menyudutkannya. Membawa Seya jauh tertinggal di masa lalu.
Kekosongan perlahan berbisik padanya, bahwa segalanya akan terlewati dengan tenang. Tapi kehidupan sontak melumpuhkan angan dan harapan Seya. Membunuh mimpinya. Memaksa dirinya lumpuh termakan sang waktu.
“Apakah setelah ini akan baik baik saja?”
Seya menjaga dirinya dalam memori yang tertinggal, membiarkan tangisnya tumpah tak terbendung. Nanar matanya bercerita bahwa Seya menyimpan rindu, yang teramat dalam. Yang menjadikan siangnya segelap malam, mati rasa sampai terikpun terasa lebih dingin dari es di kutub. “Bu,” pelan terdengar mulut Seya terbuka, memanggil satu nama yang tidak mungkin datang.
Mata Seya melihatnya, tapi tubuhnya terpaku, diam seperti patung. Ia menatap dari jauh apa yang sedang terjadi dalam radius tujuh meter di hadapannya. Seya menarik kakinya, menyembunyikan tubuhnya di balik pohon kecapi tua yang besar, ia menatap lekat-lekat apa yang sedang terjadi di sana. Perlahan mata cokelat Seya memerah, terbelalak tapi hanya bisa diam membisu, menjadikan atmosfer di sana menjadi semakin beku.
Seketika nyanyian kematian mulai beralun, iramanya mencekam mengisi hening yang sejak tadi tercipta melalui tangis yang terbungkam. Bulu putih indah telah ternodai oleh bercak darah. Meskipun mata adalah saksi, tapi diam bukan berarrti bisu.
Cukup lama setelah binatang buas itu beranjak dari tempatnya. Seya memulai langkahnya, mengumpulkan sisa sisa kekuatan yang ia miliki. Dengan gemetar dan penuh keraguan Seya menghampiri ibunya. Bukan, sisa jasad ibunya. Bulu-bulu putih saat ini sudah berterbangan, cuaca memang sedang berangin, tidak sedikit daun daun kering yang ikut berputar-putar mengikuti permainan angin.
“Bu, kenapa setragis ini?”
Tubuh Seya yang sudah tidak berdaya itu berusaha tetap berjalan meskipun terseok, hatinya hancur. Sedikit demi sedikit Seya berusaha mengumpulkan sisa potongan tubuh ibunya yang hanya berupa bulu bulu halus dan sepotong kaki yang sudah kehilangan satu jarinya.
Dengan kakinya, Seya menggali tanah di tempat itu, tempat ibunya kehilangan satu satunya nyawa yang dimilikinya. Seya terus menggali sampai lubang yang ia buat dapat menenggelamkan jasad ibunya yang tidak seberapa besar. Udara yang semakin dingin, semakin menusuk ke dalam tulangnya, ke dalam hati Seya. Kenyataan mengatakan bahwa mulai sekarang Seya sebatang kara.
“Bu, apakah aku sanggup sendirian” sambil menutup kembali lubang yang sudah berisi bulu putih berlumur darah dan sepotong kaki yang tidak utuh, Seya hanya bisa mengeluh. Takdir ini tidak adil, pikirnya. Dan mulai saat ini hanya akan ada satu buah selimut di dalam sarang, hanya akan ada sedikit cacing segar dan itupun hanya untuk sendiri., hanya akan ada tangisan tanpa penenangnya.
“Selamat jalan Bu,” pohon-pohon di sekitar Seya seolah mengerti hati Seya. Satu per satu daun kering mulai berjatuhan. Mereka melepaskan diri dari tangkainya seolah merasa terpanggil oleh alam, sama seperti ibu Seya yang telah melepaskan diri dari belenggu kehidupan, dan menuju kedamaian yang paling abadi.
Di sini, di dunia yang juga semakin renta tinggalah Seya yang harus tetap bertahan dan berjuang meneruskan hidupnya meski seprang diri, sama seperti pohon yang harus tetap tumbuh meskipun ia telah kehilangan bagiannya yang berharga.
Daun-daun yang berguguran disambut hangat oleh angin, ia membawa daun-daun kering itu terus berterbangan. Angin mencoba mengulur waktu agar daun daun itu lebih lama menyentuh tanah. Enta apa tujuan angin melakukannya, tapi jelas terlihat bahwa usahanya berhasil. Daun-daun itu terus saja menari, membuat putaran di udara, meliuk kesana kemari, mengelilingi Seya dan berkata melalui bahasanya, “Tenang Seya, ada kami,” bisikinya di telinga Seya yang kecil.
Angin terus saja mempermainkan dedaunan yang sudah tidak berdaya itu, tapi mereka menyambutnya dengan hangat. Tubuh mereka yang rapuh membuat mereka menyerah pada kehendak alam, dan dengan tenang menuruti apa yang diinginkan alam pada kehidupannya.
“Bu, apa di surga ibu makan enak? Apakah di sana ibu bisa mendapatkan anak cacing yang masih merah seperti yang sering kita perebutkan? Aku meridukanmu Bu,” mata indah Seya menggambarkan kesedihannya, menunjukan bahwa hatinya masih terluka karena kehilangan. Ia tertunduk malu pada ranting ranting yang juga telah ditingalkan oleh dedaunan yang menua, yang masih tetap bersemangat sampai ia benar benar menjadi butiran abu.
“Mana mungkin aku menyamakan ibu seperti daun daun itu, bodoh. Tentu saja mereka punya semangat, karena mereka punya harapan. Karena suatu saat yang sudah pasti, daun daun muda akan tumbuh menghijau, seperti ditakdirkan untuk menyelimuti ranting saat malam, melindungi ranting saat hujan, dan tentunya membuat pohon pohon itu merasa hidup untuk kali kedua.” Air muka Seya menolak uluran tangan mentari yang bersinar terang. Seya membiarkan tubuhnya yang amat ringkih bersembunyi di dalam sarangnya. “ tapi ibu, apakah bisa ibu tumbuh seperti daun daun muda itu? Mereka tidak sama, daun daun itu tidak sama seperti ibu yang mati untuk selamanya, tidak! Bukan! Mereka tidak bisa disamakan dengan ibu! Tidak!” dialognya bersama alam membuat Seya kesal sendiri, membayangkan kemunafikan dunia yang mengaku mengerti kesedihan yang ia rasakan, namun tidak sedikitpun belasungkawa yang ia perlihatkan. Kehidupan terus berjalan.
Seya pergi keluar sarangnya, ia berlari di udara. Memamerkan air matanya pada dunia. Daun daun di sekitar sarangnya mulai menguning karena terkena sinar matahari. Pantulan cahaya di bagian daun yang melengkung menghasilkan kilauan-kilauan yang cantik. Tidak semua daun bisa menikmati hangatnya matahari, daun-daun yang tumbuh di bagian bawah tetap gagah seperti pahlawan yang menawarkan kesejukan kepada siapapun yang berteduh di bawah mereka. Awan di langit berjalan dengan lambat, dan dengan mudah Seya mendahului gerakan mereka. Seya mengepakkan sayapnya dengan lantang. Ia ingin pergi, kemanapun itu, yang penting pergi.
Air mata Seya terus menetes, menghampiri bumi yang dengan setia menunggu anaknya datang kembali menapak di tanah. Bumi membiarkan anaknya itu terbang sejauh yang ia inginkan. Berharap harap cemas, semooga kelak kesedihan itu bisa hilang terbawa angin yang Seya temui entah di bumi bagian mana.
“Bu, kalau sudah begini aku harus benci pada siapa?”
Saturday, 4 August 2012
Ansambel Imajiner
New Familly
hrrrggg KPSPP (kegiatan pengenalan sistem pendidikan politeknik) akhirnya selesai. sekarang udah resmi deh jadi mahasiswa. mahasiswa POLITEKNIK NEGERI JAKARTA, gue ngambil jurusan TEKNIK SIPIL program studi JALAN DAN JEMBATAN konsenterasi JALAN TOL. panjang ya haha. program studi gue yang ini ada kerja sama sama jasa marga, jadi katanya sih nanti ada praktek ngebengkel langsung di jasa marga nya. terjun langsung ke lapangan. seru banget kalo lagi ngebayangin bakal maen maen sama aspal, pasir, kayu, semua mua deh. maco lah intinya.
Di PNJ sipil itu adanya di gedung B, nah kelas gue di tingkat 1 ini kebagian di ruang B-215. yang isinya cuma 22-24 orang, belom pasti ada berapa isinya. kayaknya sih 22, tapi kemaren nambah satu lagi. pokoknya sekitar segitulah, dan ceweknya cuma ada tujuh orang, tujuh meeeeenn, haha sepinyooo. yagapapa lah ya. mereka itu yang bakal jadi keluarga gue buat bareng bareng selama 4 tahun ke depan. bukan waktu yang sebentar, makanya gue sebut keluarga. soalnya bakal hampir tiap hari ketemu orang orang itu. sama kayak sekolah aja sih, tapi yang ini skelas nya 4 tahun.
New Familly :
Septya Retiara
Tiara Dwi Elfita
Meyla Astrid Monica
Fativa Indah S
Binta Ninda M.M
Chandra Septiadi
Tri Setiastomo
Bungaran Modivoni
Akbar Prabunata Wiguna
Topan Tawakal
Abdul Reza
Abdul Arif Amrullah
Danu Gangsar S
Mohammad Rachmad R
Daru Seto Bagus A
Baharuddin Singgih
Ibnu Yusuf P
Aida Guswan Hamid
Edward Mangara
Wednesday, 1 August 2012
Smansa oh smansa..
Kangen ngegeng motor, ngurusin kostum, kain, makeup-in orang tiap ada event, rapat humas, bahkan gue kangen lantainya, papan tulisnya, dindingnya, tiangnya, absolutely gurunya. Dan di manapun ga ada yang bisa kayak smansa :')
Sunday, 15 July 2012
syahdunya malam
Malam sunyi yang menangis, entah karena bahagia atau terluka. Luka adalah ujian dan bahagia adalah hadiahnya. Dan kini aku merasakan keduanya, kesyahduan rintik hujan yang jatuh di atas dedaun kering. Percikan air yang jatuh ke dalam kubangan. Dan rintih hewan hewan kecil yang kedinginan.
Aku menikmati perihnya..
Pada luka yang menyelimuti malamku
Pada darah yang menetes dari hati
Pada cinta yang aku rasa menyakitkan
Aku menikmatinya..
Friday, 29 June 2012
Sahabat pena?
Kamu tau shane, saat ini fikiranku seperti berputar, melayang-layang. Kadang aku merasa ini menyenangkan, tapi nyatanya justru yang aku rasakan adalah sakit. Apalagi kalau bukan.. Iya aku jatuh cinta shane. Dan aku percaya sekarang, bahwa bahagia itu sederhana. Seperti saat tanggannya menggenggamku dengan amat erat. Ini memang terdengar berlebihan, tapi itulah cinta. semua akan dibuat lebih olehnya. lucunya, saat itu aku berusaha setenang mungkin, padahal mungkin saja dia mendengar detak jantungku yang meletup-letup.
Apalagi saat tanpa sengaja aku masuk ke pelukannya, shane. sekarang justru aku yang bisa mendengar irama jantungnya. kalau boleh, sebenarnya aku ingin lebih lama berada di sana, di dadanya yang mungkin tidak terlalu berotot, tapi tetap nyaman. rasanya hangat..
Tapi kenyataan menyadarkanku terlalu cepat, tidak seharusnya begini. Mungkin kamu bingung kenapa aku bilang 'tidak seharusnya begini'. Ibaratnya seperti aku mencintai kakak tua yang ada di sangkar, bukan elang yang bebas di alam.
kamu harus tau,
Senyumnya, shane..
Aku selalu ingat senyum itu. Beberapa kali aku melihat keraguan yang sama di sana, apa mungkin perasaannya sama shane? Sama denganku? entahlah. dia seperti pemain yang pintar memainkan drama. kadang aku dibuatnya melayang, tersanjung, berbunga-bunga, ya apalah itu namanya, dan tiba-tiba aku dihempaskan lagi. ironisnya itu terjadi bukan hanya sekali.
Aku pernah terjebak di matanya shane. meskipun hanya sebentar, lagi lagi aku sangat bahagia karena kesederhanaan itu.
Satu hal yang selalu menjadi favoritku, matanya cokelat. sama seperti matamu, tapi cokelat miliknya lebih muda. Kadang aku berkhayal, andai saja mata indah itu bisa menatapku lebih lama. Aku hanya butuh 3 detik untuk mengatakan aku mencintainya. Meskipun hanya mata yang bicara.
Shane, andai kamu disini. Mungkin gak akan sesakit ini rasanya..
Love,
Lyn
Aku pun, ikut menghitung hari. Menggeratak cara lain lagi bagaimana rela menjadi sekejap yang aku bisa. Seakan-akan di tepas kesakitan menu...
-
Apa yang pertama kali kalian pikirin waktu ngeliat pict ini? Warnanya yang coklat dengan gradasi yang abstrak dan lapisan mengkilat begitu k...
-
Aku pun, ikut menghitung hari. Menggeratak cara lain lagi bagaimana rela menjadi sekejap yang aku bisa. Seakan-akan di tepas kesakitan menu...
-
Tentang menjuranya aku di bawah langit dan kami menangis bersahutan, setidaknya ia berkawan erat dengan bulan Juni. Sementara aku gelisah...
















