Malam ini bulan muncul dari pinggir telaga, menggariskan kilauan cahaya di atas air tawar. Bau air dan wewangian tanah menguasai inderaku. Meski pelan pelan isak bersahutan tanpa air mata, hati sesak bukan main pura pura bahagia.
Sunday, 20 November 2016
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
Aku pun, ikut menghitung hari. Menggeratak cara lain lagi bagaimana rela menjadi sekejap yang aku bisa. Seakan-akan di tepas kesakitan menu...
-
Langkahku tercekat asa yang pupus di depan mata. Jauh di batas cakrawala kini matahari menepi. Meski pelan pelan, nyata bahwa malam semakin ...
-
Kamu masih menjadi lawan bicaraku bahkan pukul tiga pagi. Untuk selanjutnya, mungkin dua atau tiga tahun lagi. atau mungkin selamanya aku ak...
-
Nanti, suatu saat aku akan cerita yang indah indah. Ketika aku sudah berhasil melewati masa ini. Ketika ada yang menyebut namamu, hatiku b...
No comments:
Post a Comment