Bete banget sama diri sendiri, gatau mau mendahulukan yang mana. Foto Panitia, latihan PA, apa tryout? Semua nya dalam satu hari, satu waktu. Tempat nya beda. Mau ga masuk aja tiga tiga nya :( biar adil kan.
*peri baik muncul*
Harusnya sih emang milih salah satu, gue yakin kok allah ngasih ini krn allah tau gue mampu :)
Maaf ya yang baca ini, anggap aja ga liat, atau pura pura ga baca aja
Friday, 17 February 2012
Wednesday, 15 February 2012
Kelas Tiga Itu...
Semakin hari makin berasa aja kelas 3 nya. Tata tertib sama sekali ga di gubris. Ya emang sih buletin LJK pake pulpen pink dan ijo itu bukan termasuk bandel. Tapi bukan tata tertib yang itu yang ga di gubris, justru kami para pejuang 33 #cah dimana mana yang di pegang "soal". Harusnya upacara, tp karna lg seru ngerjain soal, jd di lama lamain turun ke lapangan nya. Dan pas imajiner turun kelapangan krn udah dijemput bu Rusika, teeernyata sudah ramai syekali hahaha. Agak malu juga sih diliatin gara gara dijemput guru buat upacara. Tp ya sudahlah, kami sama sekali ga peduli [ini ga pedulinya beneran] mau baju keluar belakangnya, mau dikelas sambil makan terang terangan! (tolong di garis bawahi terang terangan nya) sampe sampe si Ibu siro ikutan makan. Hkhkhkhk
Masing masing anak sekarang kayaknya udah sedia headset di tas nya. Kalo udah ada yang setres gara gara bosen dan akhirnya nyanyi nyanyi dgn volume gede, atau mainin gitar listrik di belakang kelas pake sound system dengan gaya rock 'n roll tanpa takut ngeganggu kelas sebelah, pasti yang lain langsung ngambil headset mereka dan kembali ke dunia angka. Yaaa! Kami imajiner adalah science students. Buat kami angka sudah seperti udara yang setiap harinya hadir di hidup kami. Kami dan udara saling membutuhkan, kami butuh udara untuk hidup, dan udara butuh hidup untuk kami. Kenapa demikian? Berikut penjelasan nya. Manusia bernafas = menghirup udara. Didalam tubuh manusia terjadi pertukaran udara pada alveolus dan keluar dengan wujud yang berbeda. Yap! Benar sekali, manusia mengeluarkan gas karbon dioksida. Dan proses itulah yang membuat kehidupan masih populer saat ini. Oh man, karbon dioksida tidak bisa di proses di tubuh, dia cuma buangan! Lalu apa yang harus kita lakukan kalau di dunia ini oksigen nya abis? Ooo tenang saja. Seperti yg tadi gue bilang, kami, manusia dan udara saling membutuhkan. Udara butuh hidup untuk kami. Mengapa demikian? Berikut penjelasannya. Lupa ya kalo di dunia ini yang hidup bukan cuma manusia? Ada pohon juga loooh, dan lo lo lo tau apa? Tau gaaaa? Pohon ngirup karbon dioksida men! Dan lo tau apa lagi? Dia ngeluarin oksigen men oksigen! Gila! Allah bnr2 merencanakan ini dengan penuh perhitungan. Tapi jgn lupa masih ada hewan yang juga makhluk bernyawa. Jadi si hewan buat apa dong? Ah ya sudah lain kali aja bahasnya. Back to topic please.
Apa ya lupa,
Oiya berasa banget kelas 3 nya. Sampe sebuah keajaiban didunia ini yaitu FISIKA, yang sejak kelas satu cuma gue ngerti gimana cara ngitung vektor dan jangka sorong. Tapi sekarang gue udah mulai ngitung men ngitung :') dan gue udah tau gimana cara ngitungnya. (cara?) yaa. Selama ini gue cuma mengali, kurang, bagi, dan tambah. Dan kalo ketemu jawaban yang cocok langsung gue jawab tanpa ragu sedikitpun. Hahaha murid macam apa gue ini.
Bahkan rumah pun jadi kaya sesuatu yang asing, gimana ga asing. Pergi pagi pulang malem nyampe rumah mandi tidur. Tiba tiba bangun lagi dan ternyata itu sudah pagi. Padahal rasanya baru tidur dua detik. Hmm..
Hey para pendahulu kami, apa kalian juga seperti ini?
Gue bukan mau ngeluh loh ini, cuma mau cerita. Karna cuma lewat cerita semua nya bisa terasa lega :') dan lo lo lo tau apa? Waktu gue nulis ini, gue lagi dirumah. Ga masuk sekolah hkhkhk. Gue bukan nya mau nunjukin kelemahan gue, tapi justru disini gue mau nunjukin bahwa gue kuat. Kalian tau gak teman teman, ngeliat kalian belajar, saling ngajarin, anteng ga berkutik di depan buku, itu rasanyaaaa perih loh, suatu saat gue bakal kangen banget sama suasan itu. Suasana kelas :') apalagi sang legendaris kita, BATIK MERAH..
Masing masing anak sekarang kayaknya udah sedia headset di tas nya. Kalo udah ada yang setres gara gara bosen dan akhirnya nyanyi nyanyi dgn volume gede, atau mainin gitar listrik di belakang kelas pake sound system dengan gaya rock 'n roll tanpa takut ngeganggu kelas sebelah, pasti yang lain langsung ngambil headset mereka dan kembali ke dunia angka. Yaaa! Kami imajiner adalah science students. Buat kami angka sudah seperti udara yang setiap harinya hadir di hidup kami. Kami dan udara saling membutuhkan, kami butuh udara untuk hidup, dan udara butuh hidup untuk kami. Kenapa demikian? Berikut penjelasan nya. Manusia bernafas = menghirup udara. Didalam tubuh manusia terjadi pertukaran udara pada alveolus dan keluar dengan wujud yang berbeda. Yap! Benar sekali, manusia mengeluarkan gas karbon dioksida. Dan proses itulah yang membuat kehidupan masih populer saat ini. Oh man, karbon dioksida tidak bisa di proses di tubuh, dia cuma buangan! Lalu apa yang harus kita lakukan kalau di dunia ini oksigen nya abis? Ooo tenang saja. Seperti yg tadi gue bilang, kami, manusia dan udara saling membutuhkan. Udara butuh hidup untuk kami. Mengapa demikian? Berikut penjelasannya. Lupa ya kalo di dunia ini yang hidup bukan cuma manusia? Ada pohon juga loooh, dan lo lo lo tau apa? Tau gaaaa? Pohon ngirup karbon dioksida men! Dan lo tau apa lagi? Dia ngeluarin oksigen men oksigen! Gila! Allah bnr2 merencanakan ini dengan penuh perhitungan. Tapi jgn lupa masih ada hewan yang juga makhluk bernyawa. Jadi si hewan buat apa dong? Ah ya sudah lain kali aja bahasnya. Back to topic please.
Apa ya lupa,
Oiya berasa banget kelas 3 nya. Sampe sebuah keajaiban didunia ini yaitu FISIKA, yang sejak kelas satu cuma gue ngerti gimana cara ngitung vektor dan jangka sorong. Tapi sekarang gue udah mulai ngitung men ngitung :') dan gue udah tau gimana cara ngitungnya. (cara?) yaa. Selama ini gue cuma mengali, kurang, bagi, dan tambah. Dan kalo ketemu jawaban yang cocok langsung gue jawab tanpa ragu sedikitpun. Hahaha murid macam apa gue ini.
Bahkan rumah pun jadi kaya sesuatu yang asing, gimana ga asing. Pergi pagi pulang malem nyampe rumah mandi tidur. Tiba tiba bangun lagi dan ternyata itu sudah pagi. Padahal rasanya baru tidur dua detik. Hmm..
Hey para pendahulu kami, apa kalian juga seperti ini?
Gue bukan mau ngeluh loh ini, cuma mau cerita. Karna cuma lewat cerita semua nya bisa terasa lega :') dan lo lo lo tau apa? Waktu gue nulis ini, gue lagi dirumah. Ga masuk sekolah hkhkhk. Gue bukan nya mau nunjukin kelemahan gue, tapi justru disini gue mau nunjukin bahwa gue kuat. Kalian tau gak teman teman, ngeliat kalian belajar, saling ngajarin, anteng ga berkutik di depan buku, itu rasanyaaaa perih loh, suatu saat gue bakal kangen banget sama suasan itu. Suasana kelas :') apalagi sang legendaris kita, BATIK MERAH..
Friday, 10 February 2012
Warna Kami
Teredam suara meleguh mati
Lari dari kepalsuan dunia rapuh melayang
Serentak menghardik dia yang bukan harusnya
Terpaku di titik puncak parabola
Menatap lekat kepada semua raut di hadapannya
Menangkap arti dari tatapan yang membalas tajam
Kesimpulan terangkum di isi raga yang tidak nyata
Terlena oleh jingga yang hangat, tersampaikan oleh ketenangan sang hijau.
Senyum menjadi warna, kuning yang abadi dengan keceriaan nya.
Hilang terapit diantara biru yang dingin, yang menusuk diantaranya. Ungu itu angkuh, menatap dengan kemarahan sang dewa api, merah yang membara.
Melantun sayup sayup nyanyian kematian, tajamnya tepat pada sasaran.
Hitam!
Lari dari kepalsuan dunia rapuh melayang
Serentak menghardik dia yang bukan harusnya
Terpaku di titik puncak parabola
Menatap lekat kepada semua raut di hadapannya
Menangkap arti dari tatapan yang membalas tajam
Kesimpulan terangkum di isi raga yang tidak nyata
Terlena oleh jingga yang hangat, tersampaikan oleh ketenangan sang hijau.
Senyum menjadi warna, kuning yang abadi dengan keceriaan nya.
Hilang terapit diantara biru yang dingin, yang menusuk diantaranya. Ungu itu angkuh, menatap dengan kemarahan sang dewa api, merah yang membara.
Melantun sayup sayup nyanyian kematian, tajamnya tepat pada sasaran.
Hitam!
Wednesday, 8 February 2012
Cerita
Dari mana awal mulanya sebuah cerita?
Apakah terdefinisi dari atom yang saling berinteraksi?
Atau mungkin sel sel yang tersusun dari asam amino membentuk protein sebagai salah satu zat penyusun kehidupan?
Ini tentang alam!
Kehendaknya mutlak menentukan cerita.
Terbagi menjadi kisah yang bahagia dan pilu.
Ia menyampaikan perintah otoriternya untuk kami atas nama manusia dan sekelilingnya untuk merasakan jutaan cerita, jutaan kisah.
Satu masa ketika kepiluan masuk merambat menguasai aura kehidupan,
Sebenarnya hanya satu yang di butuhkan oleh kami para manusia.
Satu pelukan.
Hanya melaluinya alam luluh,
Merubah tangis menjadi senyum.
Menghemat tenaga dengan mengurangi kontraksi otot bila kami menangis.
Tapi alam punya kehendak,
Kehendaknya mutlak menentukan cerita.
Mengambil satu satunya pelukan dengan hak otoriternya.
Memaksa kami para manusia menerima tanpa perlawanan.
Menatap pelukan itu justru ada pada tempat yang bukan kewajibannya.
Miris!
Apakah terdefinisi dari atom yang saling berinteraksi?
Atau mungkin sel sel yang tersusun dari asam amino membentuk protein sebagai salah satu zat penyusun kehidupan?
Ini tentang alam!
Kehendaknya mutlak menentukan cerita.
Terbagi menjadi kisah yang bahagia dan pilu.
Ia menyampaikan perintah otoriternya untuk kami atas nama manusia dan sekelilingnya untuk merasakan jutaan cerita, jutaan kisah.
Satu masa ketika kepiluan masuk merambat menguasai aura kehidupan,
Sebenarnya hanya satu yang di butuhkan oleh kami para manusia.
Satu pelukan.
Hanya melaluinya alam luluh,
Merubah tangis menjadi senyum.
Menghemat tenaga dengan mengurangi kontraksi otot bila kami menangis.
Tapi alam punya kehendak,
Kehendaknya mutlak menentukan cerita.
Mengambil satu satunya pelukan dengan hak otoriternya.
Memaksa kami para manusia menerima tanpa perlawanan.
Menatap pelukan itu justru ada pada tempat yang bukan kewajibannya.
Miris!
Sunday, 5 February 2012
Saturday, 28 January 2012
Mixed Mood
Hari ini bener bener campur aduk banget. mulai dari masalah misscom sama wibi yang ngebuat gue ngerasa bersalah banget. sampe ngobrol ngobrol sm metalnya magnifico yang bikin semangat gue menggebu gebu.
tapi satu hal yang gue mau bilang ke siapa pun yang baca ini, gue gak sepenuhnya salah. Karna ada pihak pihak lain yg juga salah. dan kesalahan itu yang jd penyebab kenapa gue salah. Yah intinya sebenernya kita harus peka, saling ngerti. Gue gak nyalahin wibi, bagas, siapa pun termasuk diri gue sendiri. Karna gue tau banget allah nyiptain gue, wibi, bagas, atau siapa pun itu untuk gak sempurna. Beda pendapat emang udah hal biasa, ini yang gue inget dari kata kata ibam pas sesi curhat kemaren. Tapi yang gue sayangin, kenapa pendapat muncul sebelum kalian, mereka, atau mungkin gue mengenali sesuatu dengan baik.
Mlm gue banget banget ga tenang mikirin hari ini, pagi pagi akhirnya bisa nangis juga walaupun orang rumah taunya gue nangis gara gara rebutan remote sm ade gue, tapi itu bener bener ngeluarin semuanya. Semua kesedihan gue, kekecewaan gue, kebingungan gue. Sedih karna apa yang gue liat bnr2 tergambar jelas, ga semua peduli sm angkatan sndri. Kecewa sm diri sendiri karna apa yg gue lakuin, itu blm maksimal dimata orang lain, blm bisa bikin semua orang puas sama hasil kerja gue, kecewa karna gue ngerasa apa yg gue lakuin itu ga semua bisa terima. Bingung karna gue udah gatau lagi gimana nyikapin kalian semua. Disatu sisi gue pgn tegas, tp disisi lain gue tau kalo gue ngelakuin itu akan makin banyak yang bakal ga suka sama gue.
Gue nyadar, sangat amat nyadar apa yang kalian fikir tentang gue. Tp gue manusia, ada di tengah tengah antara massa dan panitia itu ga gampang. Gue pgn, bgt! Ngikutin apa mau kalian, bahkan ngeliat kalian ketawa aja itu satu kpuasan buat gue. pgn bgt bisa nyesuain jadwal kalian. Tp gue jg ga bisa apa apa krn gue cuma petugas. Petugas yg menghubungkn kalian dgn panitia. Dan buat merangkul 224 anak itu ga semudah bagas wibi atau ibam yg emang udah punya nama dan wibawa.
Kegalauan gue ga berenti walaupun mata gue udah bengkak pagi pagi, ngeliat anak smansa yang cuma setengah yg dateng, dan ujan yang tiba tiba deres. Itu rasaaaanya...
Sakit! Bgt! Bukan karna marah. Tapi karna gue ngerasa gagal. Bgt bgt gagal.
Tapi akhirnya huruf S Tetep jadi walaupun ga penuh dengan 224 anak.
Makasih buat SCHOLASTIC, makasih buat Kakak kakak magnifico yang bener bener udah buka mata gue. Makasih bgt! Buat metalurgiers, yg udah minjemin jaket nya ke gue, indri, kevin. Taun depan gue gak minjem lagi kak, kita foto bareng bareng pake jakun :)
tapi satu hal yang gue mau bilang ke siapa pun yang baca ini, gue gak sepenuhnya salah. Karna ada pihak pihak lain yg juga salah. dan kesalahan itu yang jd penyebab kenapa gue salah. Yah intinya sebenernya kita harus peka, saling ngerti. Gue gak nyalahin wibi, bagas, siapa pun termasuk diri gue sendiri. Karna gue tau banget allah nyiptain gue, wibi, bagas, atau siapa pun itu untuk gak sempurna. Beda pendapat emang udah hal biasa, ini yang gue inget dari kata kata ibam pas sesi curhat kemaren. Tapi yang gue sayangin, kenapa pendapat muncul sebelum kalian, mereka, atau mungkin gue mengenali sesuatu dengan baik.
Mlm gue banget banget ga tenang mikirin hari ini, pagi pagi akhirnya bisa nangis juga walaupun orang rumah taunya gue nangis gara gara rebutan remote sm ade gue, tapi itu bener bener ngeluarin semuanya. Semua kesedihan gue, kekecewaan gue, kebingungan gue. Sedih karna apa yang gue liat bnr2 tergambar jelas, ga semua peduli sm angkatan sndri. Kecewa sm diri sendiri karna apa yg gue lakuin, itu blm maksimal dimata orang lain, blm bisa bikin semua orang puas sama hasil kerja gue, kecewa karna gue ngerasa apa yg gue lakuin itu ga semua bisa terima. Bingung karna gue udah gatau lagi gimana nyikapin kalian semua. Disatu sisi gue pgn tegas, tp disisi lain gue tau kalo gue ngelakuin itu akan makin banyak yang bakal ga suka sama gue.
Gue nyadar, sangat amat nyadar apa yang kalian fikir tentang gue. Tp gue manusia, ada di tengah tengah antara massa dan panitia itu ga gampang. Gue pgn, bgt! Ngikutin apa mau kalian, bahkan ngeliat kalian ketawa aja itu satu kpuasan buat gue. pgn bgt bisa nyesuain jadwal kalian. Tp gue jg ga bisa apa apa krn gue cuma petugas. Petugas yg menghubungkn kalian dgn panitia. Dan buat merangkul 224 anak itu ga semudah bagas wibi atau ibam yg emang udah punya nama dan wibawa.
Kegalauan gue ga berenti walaupun mata gue udah bengkak pagi pagi, ngeliat anak smansa yang cuma setengah yg dateng, dan ujan yang tiba tiba deres. Itu rasaaaanya...
Sakit! Bgt! Bukan karna marah. Tapi karna gue ngerasa gagal. Bgt bgt gagal.
Tapi akhirnya huruf S Tetep jadi walaupun ga penuh dengan 224 anak.
Makasih buat SCHOLASTIC, makasih buat Kakak kakak magnifico yang bener bener udah buka mata gue. Makasih bgt! Buat metalurgiers, yg udah minjemin jaket nya ke gue, indri, kevin. Taun depan gue gak minjem lagi kak, kita foto bareng bareng pake jakun :)
Tuesday, 24 January 2012
Gejolak Elegi
Kelam mata berpijak, berjalan mengikuti kemana udara bergerak. Beku mendapati hantaran arus bolak balik, tersengat hangus mencakar kekosongan dengan respon seadanya.
Bahasa tubuh telah merendahkan diri sendiri, memohon dengan lutut yang menyatu dengan bumi. Dengan pandangan yang terpaku di sekeliling. Matanya kenal betul apa yang terjadi, tak acuh meski akunya berhati.
Membiarkan ini hilang perlahan oleh terkaan dan simpulan makna tersirat yang sarat akan kekeliruan.
Kenyataan nya justru sama sekali tidak terlihat dimana letak hati itu. Semua tergambar jelas tanpa perlu alibi. Merampas paksa dalam kebisuan.
Bahasa tubuh telah merendahkan diri sendiri, memohon dengan lutut yang menyatu dengan bumi. Dengan pandangan yang terpaku di sekeliling. Matanya kenal betul apa yang terjadi, tak acuh meski akunya berhati.
Membiarkan ini hilang perlahan oleh terkaan dan simpulan makna tersirat yang sarat akan kekeliruan.
Kenyataan nya justru sama sekali tidak terlihat dimana letak hati itu. Semua tergambar jelas tanpa perlu alibi. Merampas paksa dalam kebisuan.
Sunday, 22 January 2012
Sunday, 8 January 2012
"Pertama"
Wajah itu sudah memperlihatkan perasaan cemasnya sejak tadi ia berdiri, sudah 12 menit yang lalu angkot menurunkan Raisa di tepi jalan tempat ia janjian sama Ray. Tapi tidak dilihatnya batang hidung cowok itu. Raisa mencari tempat yang bisa ia duduki, tapi tetap bisa memantau tempat ia berdiri sekarang. ia duduk di kursi tua yang terbuat dari kayu yang berada di samping warung kecil-kecilan di belakangnya. Hanya sekitar dua meter dari tempat ia berdiri. Warung itu terlihat kosong, sepertinya Si Pemilik belum berniat untuk membuka warungnya. Dari kursi itu dipandanginya setiap tempat yang memungkinkan sebagai arah datangnya Ray. Jelas saja, sampai pagi ini pun Raisa tidak tau tempat tinggal Ray. Mereka berkenalan lewat dunia maya. Dan ini pertama kali mereka bertemu! Ya pertama! Setelah tiga tahun lama nya mereka berada dalam satu ikatan yang sebenarnya terpisah. Matanya terus waspada, meskipun tidak pernah bertemu tatap, tapi Raisa tau betul bagaimana wajah cowok itu, bahkan sampai seberapa luas bekas kehitaman di bawah matanya yang menandakan Ray sering terjaga dalam malamnya.
Hari ini memang bukan hari kerja, sepanjang jalan di hadapan Raisa terlihat lenggang, hanya ada beberapa motor dan mobil yang muncul sepersekian detik lalu menghilang lagi. Para pengguna jalan memanfaatkan dengan baik kelenggangan yang jarang sekali mereka rasakan di padatnya ibu kota setiap pagi nya, apalagi jam-jam berangkat sekolah dan kantor.
20 menit berlalu, tidak juga ditemukannya Ray meskipun dari sudut matanya yang paling ujung.
“Lagi nyariin siapa sih?” tanya seorang cowok yang baru datang dan langsung menempatkan diri duduk di samping Raisa.
Sedetik lalu Raisa menoleh dengan perlahan, menjawab pertanyaan cowok yang berada disampingnya “Nunggu tem…” ucapannya terhenti setelah melihat Ray sangat dekat disampingnya. “Raaaaayyyyyyyy!!!!!! Lama banget sih, aku nunggu daritadi tau!” protes Raisa merajuk.
“Iya maaf maaf sa, aku kesiangan,” akunya dengan kejujuran sambil memperlihatkan cengiran yang lebar menandingi lebarnya jalan Raya di depan mereka, menjelaskan apa yang sebenarnya memang terjadi tanpa sedikitpun rasa tidak enak untuk mengatakannya. Walaupun cewek di sampingnya ini pasti akan tambah kesal mengetahui alasan mengapa Ray telat.
Dengan wajah yang tidak bisa menyembunyikan kesal, Raisa berdiri. Berusaha meredam kekesalannya itu, karena ia tidak mau pertemuan pertama mereka justru malah kacau. “Ayooo, kita mau kemana?” tanyanya berusaha melupakan bahwa Ray sudah telat hampir setengah jam.
“Kerumah aku aja yuk, entar agak sorean baru kita nonton. Nonton pertama looohhh” Ray ikut berdiri, senyum khasnya mengembang, siapapun pasti tau bahwa Ray sangat bahagia pagi ini. Langsung diraihnya kelima jari Raisa dan mengelus punggung ibu jari lawan bicaranya menggunakan ibu jarinya yang berukuran lebih besar dan lebih kasar. Meskipun permukaan telapak tangan Ray kasar layaknya tangan laki laki, Raisa bisa merasakan kelembutan dari genggaman itu. genggaman pertama…
Motor itu melaju cepat, membelah jalan yang mulai ramai. Diliriknya jam di pergelangan tangan yang menggenggam stang motor, jam menunjukan pukul sembilan. Matahari yang tadi terasa hangat mulai menjelaskan dirinya yang sebenarnya, melalui suhunya.
Ray mempercepat laju motornya, memasuki perumahan standar kota jakarta. Mungkin akan sangat terlihat mewah jika perumahan itu tertanam di daerah lain –selain ibu kota yang terkenal sangat sesak oleh pendatang–. Dosennya hanya memberikan batas waktu hingga siang nanti, tepat jam 12.00. tidak ada toleransi untuk mahasiswa nya yang mengirim tugas lebih dari jam yang sudah ditentukan. sekalipun melahirkan adalah alasannya.
Ray tersenyum, masih di atas motornya yang besar, membiarkan tangan kanannya mandiri menopang motor itu agar tetap seimbang dalam lajunya. Tangan kirinya diletakkan di atas tangan Raisa yang melingkar di pinggangnya. Mengusapnya lembut. Mereka lebih banyak diam. Entah karena canggung atau malu karena ini pertemuan pertama. Tidak lama setelah Ray merengkuh tangan itu dalam tangannya, Ray menghentikan motornya, dan mempersilakan Raisa beranjak dari jok motornya. Dalam beberapa detik Ray sudah memasukan motornya ke garasi. Meraih tangan Raisa yang sedari tadi berdiri di teras menunggu Ray yang sedang sibuk di dalam garasi, sesekali melihat sekeliling teras rumah Ray yang dipenuhi bunga anggrek.
Dengan cepat Ray meraih tangan pacarnya –pacar? Apa ini bisa disebut pacar? Mulai sekarang anggap saja begitu keadaannya. Karena tidak satupun dari mereka tau hubungan itu disebut apa– lalu ditariknya masuk kedalam rumah. Dengan malu malu Raisa mengimbangi langkah Ray, matanya berkeliling, tidak ada siapa siapa. Sepi.
“Di atas aja ya Sa,” tanya Ray meskipun lebih terlihat seperti pernyataan.
“Papa mama kemana Ray? Cila mana?” matanya masih berkeliling, siapa tau ada seseorang disini yang bisa disapanya.
“Tadi waktu aku pergi jemput kamu sih masih ada, tapi sekarang gak tau pada kemana. Tiba tiba garasi udah kosong, nyari sarapan kali. Entar juga balik. Entar aja ya ngenalinnya, ayoo cepetan” dengan tergesa gesa tanpa sadar genggaman Ray terlepas, dia membuka pintu kamarnya dan langsung menyalakan laptop untuk finishing tugas dari dosennya yang killer. Bahkan sampai ia melupakan Raisa yang sebenarnya masuk dengan langkah ragu ragu ke dalam kamar Ray. Hanya beberapa detik dan tiba tiba Ray ingat Raisa yang tadi dibawanya, seketika Ray menoleh dan didapatinya Raisa duduk di atas kasur dengan sikap kaku seperti orang yang akan memberikan kesaksian palsu di depan jaksa dan hakim.
“Ya ampun Saaa kamu ngapain disitu. Sini!” dengan ragu Raisa menuruti perintah Ray untuk mendekat ke arah nya. Berbeda dengan biasanya saat mereka online telepon, Raisa sejak tadi lebih banyak diam. Ray sudah menyadarinya, ia tahu Raisa agak canggung dengan pertemuan itu. Tapi Ray mencoba mencairkan suasana sehangat mungkin.
“Ah iya iya” jawab Raisa sedikit terkejut
“Nih sini,” Ray meraih tangan Raisa dan menarik nya sampai Raisa terduduk di sampingnya. “Sebentar ya sa, tinggal finishing kok. Kalo kamu mau nonton tv nyalain aja tvnya.” Ray menunjuk remote yang berada di atas kasurnya.
“Tugas apa sih Ray? Sini aku bantuin deehhh,” Raisa mulai terbiasa dengan tatapan Ray yang langsung mengenai matanya. Menikmati ekspresi yang selama ini hanya ia baca dan ia dengar. Seketika senyumnya menipis, menarik pipinya yang merona sehingga menimbulkan gundukan pipi dibawah matanya.
“Yah kamu, masih sma ga usah belaga deeh. Ini kan bukan mainan,” tolak Ray tanpa niat ingin mengecewakan niat tulus Raisa.
“Huu yaudah aku nonton tv aja deh.” Raisa berseru dan beranjak dari tempat ia duduk ke atas tempat tidur Ray. Rapi, berbeda dengan kebanyakan kamar cowok lainnya.
Ray berdiri, lalu berjalan keluar kamarnya. Kegiatan itu tidak dipedulikan Raisa. Ia sibuk mengonta-ganti acara tv yang sebenarnya tidak ditontonnya. Akhirnya Raisa berdiri, memutuskan untuk melihat lihat seisi kamar Ray saja, di kamar Ray terdapat dua buah meja belajar yang letaknya bersebrangan. Diatasnya Ray meletakkan laptop dan alat alat elektronik lainnya. Di ujung meja di dekat speaker kecil yang biasa ia hubungkan dengan laptop, sebuah frame berwarna merah berdiri kokoh, melindungi sebuah foto didalamnya agar tidak rusak oleh debu. Ada papa dan mama Ray berdiri bergandengan, di depannya Ray sedang mengacak acak rambut cila. Cila yang terlihat anggun, memperlihatkan wajah marah karena kesempurnaannya dirusak oleh kakak kesayangannya. Umur mereka terpaut 13 tahun, buka jarak yang sebentar. Foto itu terasa sangat bahagia. Tawa mereka terlepas menghambur ke setiap mata yang melihatnya. Bisa terlihat keluarga itu sangt bahagia. Tanpa sadar Raisa ikut tertawa.
“Kamu liat apa Sa?” tiba tiba Ray masuk dengan tangan yang penuh dengan gelas dan makanan, dan lengan dan dadanya mengapit botol yang berisi air dingin. Sontak Raisa langsung berlari kecil menghampiri Ray.
“Sini sini aku bantuin,” pinta Raisa sembari mengambil botol yang diapit Ray dengan tangan dan tubuhnya dan meletakkan botol itu dimeja belajar dan disusul Ray kemudian.
“Kamu kalo mau nonton dvd buka aja laci yang itu,” ditunjuknya sebuah laci yang sedikit terbuka. “Tapi jangan buka yang di plastik biru ya. Itu khusus pria dewasa. Kamu masih kecil.”
“Iyaaaa, udah sana kerjain tugasnya cepet Ray”
“Iya, sebentar ya sayang,” Ray mengecup kening Raisa lembut, pelan, hangat, dan sangat cepat. Ciuman pertama yang didaratkan Ray di keningnya. Pertama…
Seketika degup jantung Raisa menjadi cepat dan tidak beraturan. Langsung dibukanya laci itu dan mengobrak abrik isinya. Menutupi wajahnya yang salah tingkah.
Raisa membawa beberapa dvd dan dicoba nya satu per satu, tapi tidak ada yang menarik perhatian Raisa untuk tau lebih jauh kelanjutan cerita film tersebut.
“Ray..”
“Apa?” Ray menjawab tanpa tolehan, ia sedang serius mengoreksi tugasnya sebelum ia kirim ke dosennya.
“Aku bebas ngapain aja kan?” tanya Raisa yang mulai merasa bosan
“Iya boleh, asal gak telanjang ya sa, entar aku gak konsen ngerjainnya.”
Saat itu pula sebuah jitakkan melayang keatas kepala Ray. Membuatnya mengerang kesakitan.
Raisa lalu berdiri, keluar dari kamar Ray dan mencari cari letak dapur. Pengakuan Ray yang mengeluh lapar saat membawa gelas dan beberapa cemilan, memunculkan ide untuk membuatkan Ray sarapan. Nasi goreng spesial dengan telur mata sapi setengah matang segera datang 20 menit kemudian.
“Ray, sarapan dulu,”
“Apatuh Sa? Asiiiikkkk!!!” Ray langsung menghampiri Raisa yang membawa sepiring penuh nasi goreng buatannya. Tanpa babibu lagi Ray langsung melahapnya. Benar-benar mirip orang yang 2 hari tidak makan, memancing senyum geli Raisa. “Terakhir makan kapan Ray?” goda Raisa melalui senyumnya.
“Bhaawu hemaeem”
“Hah? Telen dulu baru ngomong,”
“Baru semalem Sa,” Ray mengulang jawabannya sambil meraih gelas di sampingnya.
“Tapi cara makan kamu kayak orang gak makan berhari hari tau Ray,” Raisa tertawa, tangannya sibuk membolak-balik halaman buku tahunan saat Ray SMP, sambil sesekali melihat kelahapan Ray memakan nasi goreng buatannya.
“Abiiiiissssss!!” seru Ray setelah suapan terakhir masuk ke mulutnya. Raisa hanya tersenyum, akhirnya bisa masak untuk Ray. Meskipun Raisa bukan cewek yang hobi masak, tapi bisa dijamin bahawa setiap masakan yang dibuatnya pasti enak, apalagi masakan ini untuk Ray, masakan pertama…
Ray menggeser piringnya ke samping laptop, meneruskan kembali pekerjaannya. Membiarkan Raisa puas meledeknya karena melihat wajah imut Ray sewaktu SMP, beda sekali dengan wajah Ray sekarang yang ditumbuhi kumis yang sangat tipis yang menandakan dia sudah dewasa.
“Send!!!!” Ray meng-klik mouse sambil menyebutkan apa yang dikliknya, memamerkan kepada Raisa bahwa tugasnya sudah dikirim.
“Bagus deeh kalo udah selesai,” komentar Raisa sekenanya, kepalanya tidak berpaling, tetap sibuk dengan buku tahunan Ray saat SMP.
Ray mengerti, seharusnya memang hari ini adalah jatah Raisa bersamanya. Setelah 3 tahun mereka menjalin hubungan tanpa pernah menatap satu sama lain. Cowok itu mendekati Raisa, duduk disampingnya. “Ngeliatin apa sih?” tanyanya basa basi
“Ini Ray, liat deh kasian banget temen kamu ketutupan yang ini,” Raisa menunjuk foto yang ia maksud dengan telunjuknya. “terus yang ini, masa lagi merem di foto,” tawa mereka pecah.
Tapi setelah itu Ray langsung berdiri, berjalan menuju lemari, mengambil satu buah kaus, celana jins berikut pakaian dalamnya.
“Kamu mau ngapain Ray?” tanya Raisa, matanya mengikuti langkah Ray. Mendapati Ray sedang memilih-milih pakaian yang mau ia pakai. Pipinya memerah saat ray menenteng pakaian yang cukup asing untuk Raisa, pakaian dalam! Ni cowok gak ada malu-malunya sama sekali ya sama gue, Batinnya.
“Aku mandi dulu ya Sa.”
“Mandi? Lah emang tadi jemput aku? Gamandi dulu?”
“Hehe kan tadi aku bilang aku kesiangan sayang,”
“Iiiihh jorok dasar,”
“Yee biarin, tetep ganteng kan?” Raisa tidak menjawab, sebagai gantinya, sebuah bantal kecil melayang, mendarat di pundak Ray.
“Aduh,” Ray mengerang pelan, tidak sakit sebenarnya. “sebentar ya sa, gak lama.” Ray berjalan menuju ke kamar mandi yang ada di dalam kamarnya. Jadi tidak perlu keluar kamar, tapi tidak seperti hari-hari biasanya yang dengan bebas keluar kamar mandi dengan handuk melilit di pinggangnya. Kali ini ia harus membawa baju yang akan ia kenakan ke dalam kamar mandi.
Raisa berdiri, matanya menemukan sesuatu yang menarik, sebuah lukisan di sebuah kanvas berukuran sedang, menggantung di depan meja belajar Ray, meskipun terlihat abstrak, tapi Raisa bisa dengan jelas mengetahui objek lukisan yang ada di hadapannya.
Puas memperhatikan lukisan itu, ia duduk sambil melihat lihat isi meja belajar Ray, bentuknya sederhana tapi tetap elegan. Di sebelah kiri ada tiga buah lemari. Ray meletakkan buku buku kuliahnya di dalam. Disusun dengan rapi, sesuai isi dan tinggi buku itu. beberapa disampul dengan plastik bening supaya tidak mudah rusak. Tidak sedikit ia menyimpan buku buka tua. Ray suka membaca, batin Raisa. Diatas lemari buku, Ray meletakkan dokumen-dokumen dan disimpannya di dalam map, warna yang mendominasi tumpukan map itu adalah warna hitam. Di bagian tengah ada beberapa bingkai foto, ada Ray sewaktu bayi, sejajar dengan fotonya sewaktu TK, SD, SMP, SMA. Semua diletakkan berurutan sesuai tingkatannya. Disebelah foto Ray saat SMA, ada sebuah foto lama, warnanya masih coklat dengan tingkatan warna yang berbeda. Seorang perempuan muda berdiri di foto itu, Raisa mengira-ngira sepertinya itu nenek Ray. Matanya kembali menjelajah, di tempat terpisah sebuah foto tergeletak tanpa bingkai, tapi Ray menyandarkannya di tumpukan buku dengan posisi 60 derajat, sehingga dengan jelas Ray bisa melihat foto itu setiap ia beraktivitas di meja belajarnya. Raisa diam, matanya tetap tertuju pada foto itu. raut mukanya berubah masam, mengira-ngira lagi siapa pemilik wajah yang ada di foto itu. larut dalam lamunan.
“Saaaa..” tidak lama Ray keluar dari kamar mandi dan menghampiri Raisa yang terduduk di depan meja belajarnya. wangi sampo terurai dari rambut Ray, harum sekali.
“Udah mandinya Ray?,” tanya Raisa basa basi, tidak ada ekspresi.
“Udah dong,” Ray menghampiri Raisa. Membelai lembut rambut Raisa, mencium puncak kepala Raisa yang masih duduk. Raisa hanya diam, masih berfikir keras, berusaha menghilangkan semua perkiraannya.
“Kamu lagi ngapain sayang?” tanya Ray, menarik tangan Raisa, menuntunnya agar berdiri. Ditatapnya baik-baik wajah Raisa, berusaha menghapal setiap detailnya. Jari nya tidak lepas dari jari jari mungil Raisa. Menarik tubuh gadis itu mendekat kearahnya, mendaratkan sebuah kecupan di atas bibir Raisa. Perlahan, lalu dilepasnya. Raisa hanya tersenyum, ciuman pertama..
Ray menarik tubuh Raisa ke dalam pelukkanya. “sebentar ya saaa, jangan di lepas,” mata Ray bercerita bahwa saat itu ia sangat bahagia. Sudah 3 tahun ia ingin melakukannya, memeluk Raisa. Raisa tidak berkata apa-apa, ia hanya menjawab permintaan Ray dengan pelukan yang lebih erat, pelukkan pertama…
“Ray…” panggil Raisa, masih dalam rengkuhan Ray
“Hhmm?..” tangan Ray mengusap lembut rambut Raisa. Menunggu apa yang tadi ingin di katakan Raisa.
“Itu foto siapa Ray?” Raisa melepas pelukannya, menunjuk foto tak berbingkai yang diletakkan Ray di atas meja belajarnya.
“Itu mira,”
“Dia siapa?”
“Pacar aku, baru jadian..”
Mata Raisa terbelalak mendengar pernyataan itu, pacar? Hatinya berteriak, tubuhnya melemas, ia tersenyum lirih. Menarik tangan Ray, masuk kedalam pelukannya lagi. Diam dalam hitungan detik, “Aku pulang yaa?” bisik Raisa tetap dengan senyum, meskipun senyum yang ini tidak terlihat oleh Ray.
“Kenapa pulang?” tanya Ray, meskipun sebenarnya Ray tau apa yang membuat atmosfer di sekitar mereka terasa begitu dingin. Begitu menyakitkan.
Senyum Raisa tidak terbuka, tetap tipis dan lirih. Ia tidak berniat sama sekali untuk menjawab pertanyaan Ray. Membiarkan cowok itu menikmati pelukan mereka, pelukan terakhir..
Gak perlu dipertahanin lagi Ray, ini wanita kesekian yang hadir di antara kita. bisiknya dalam hati.
Sunday, 1 January 2012
DYS :)
"kita itu kayak sepasang rel kereta api, saling membutuhkan. tapi mau usaha sebesar apapun, kita gak akan mungkin bersatu. karena kita emang di ciptakan untuk berpisah" Katanya.
Friday, 30 December 2011
Memories..? yap, Memories About You. in 2011
Menjelang akhir tahun 2011, banyak banget kenangan yang mungkin gak akan cukup waktu semalaman cuma untuk ceritain semuanya disini.
malam tahun baru setahun silam,
gue tahu dia bukan orang yang romantis. dan tiap kali akmal nyoba bikin suasana romantis, itu jatohnya bakal jadi lucu. hasilnya malah gue ketawa bukannya terharu. tapi justru usaha itu yang selalu bikin gue sadar, akmal sangat amat menyayangi gue. dan mungkin gue bisa di bilang bodoh, karena ga pernah sadar seberapa besar cinta itu buat gue. tapi lagi lagi gue juga mau menegaskan, gue gak pernah menyesali setiap keputusan yang gue buat.
walaupun gue gak suka suaranya, tp kembang api malam itu berhasil bikin gue gak bisa ngomong apa apa, cuma bisa mendongakkan kepala gue dan menikmati betapa cantiknya mereka.
dan ulang tahun gue yang ke 17, semakin nyadarin gue betapa akmal sangat mencintai gue :'). dia ngumpulin semua temen temen deket gue, ya walaupun gak semuanya dateng. ngerjain gue sampe gue nangis ggak berenti berenti. dateng kesekolah gue yang notaben nya dia bukan siapa siapa di smansa. nganterin gue pulang dengan terigu dimana mana. dia gak malu :)
tapi sayangnya semua harus berakhir, di 2011. cuma gue yang tau alasannya.
malam tahun baru setahun silam,
gue tahu dia bukan orang yang romantis. dan tiap kali akmal nyoba bikin suasana romantis, itu jatohnya bakal jadi lucu. hasilnya malah gue ketawa bukannya terharu. tapi justru usaha itu yang selalu bikin gue sadar, akmal sangat amat menyayangi gue. dan mungkin gue bisa di bilang bodoh, karena ga pernah sadar seberapa besar cinta itu buat gue. tapi lagi lagi gue juga mau menegaskan, gue gak pernah menyesali setiap keputusan yang gue buat.
walaupun gue gak suka suaranya, tp kembang api malam itu berhasil bikin gue gak bisa ngomong apa apa, cuma bisa mendongakkan kepala gue dan menikmati betapa cantiknya mereka.
"ini tempatnya romantis banget loh yang, makanya
aku pengen ngajak kamu. tuh liat tuh yang itu bagus banget. tuuuh tuh yang itu."
dan yang gue lakukan saat itu cuma tersenyum, melihat tingkag akmal yang pecicilan tapi tetep nyoba buat romantis.
pada saat nya tiba jam 00.00 tepat, suara riuh semakin menjadi jadi, gue bisa liat ada kebahagiaan disana. di tawanya. meskipun saat ini itu cuma kenangan, rasanya terlalu bodoh gue buat meninggalkan itu sebagai kenangan yang mungkin dilupakan.kita punya jalan masing masing mal, aku tahu kamu pasti akan dapet cewek yang jauh lebih baik untuk kamu. dimata allah :), kamu tau..? aku sangat ingin jadi sahabat kamu. tapi aku tahu, masing masing kita butuh waktu. waktu untuk menjadikan kepahitan yang lalu sebagai kenangan yang patut untuk diingat
tapi sayangnya semua harus berakhir, di 2011. cuma gue yang tau alasannya.
"aku cuma bisa bilang maaf, walaupun aku tau maaf itu gak mengubah apapun yang pernah terjadi.
dan terimakasih udah jadi bagian dari 2011-ku yang indah"
Monday, 26 December 2011
....
Ya Allah.. Kenapa sebegini sulitnya buat ngambil keputusan
Didalam sana sangat amat terasa sakit. Sudah cukup lama aku menghindar :'(
Didalam sana sangat amat terasa sakit. Sudah cukup lama aku menghindar :'(
Sunday, 25 December 2011
Rambut Rasa Gula
*keluar kamar sambil ngeringin rambut*
(abis creambath pake makarizo yg rasa madu) -rasa? Emang ada rasanya?-
M => mama
D => dhesna
(abis creambath pake makarizo yg rasa madu) -rasa? Emang ada rasanya?-
M => mama
D => dhesna
M : kaka kamu pake apaan sih? (dirambut maksudnya)
D : hehe kenapa mah? Wangi yaaa? Syusyusyu *ngibas ngibasin rambut*
M : bau(bau bukan wangi)nya kaya teh KEBANYAKAN(banyak banget) gula
D : *cengo* manis dong berarti mah? Huehehe (membela diri)
M : ya coba aja kamu bikin teh segelas gulanya sekilo. Minum deh. Manis apa enek?
D : *speechless*
Tak Lebih Dari Setetes Darah!
Ada ruang yang sudah lama membeku di dalam, terenyuh dan tersadar akan dilema yang kian menepi. Tidak seperti yang terlihat mata, namun hati. Kekosongan yang perlahan berbisik lirih, bahwa segalanya mungkin akan terlewati dengan tenang. Meskipun alunan kehidupan sontak melumpuhkan segalanya. Membunuh harapan meskipun itu tak lebih dari setetes darah. Gelap! Kelam!
Menghadirkan butiran tangis diantaranya, memaksa dirinya lumpuh termakan sang waktu yang merengkuh dan menatapnya tajam. terlukis wajah cemas mematung. Menggambarkan kerapuhannya dalam menghadapi kehidupan.
Mengembalikan memori yang sengaja dikubur dalam-dalam. Membiarkan tangisnya tumpah tak terbendung. Mengelus hatinya seolah menahan perih yang begitu kronis. Tatapan mata yang kosong, menceritakan semuanya. Ada kerinduan yang teramat mendalam..
Menghadirkan butiran tangis diantaranya, memaksa dirinya lumpuh termakan sang waktu yang merengkuh dan menatapnya tajam. terlukis wajah cemas mematung. Menggambarkan kerapuhannya dalam menghadapi kehidupan.
Mengembalikan memori yang sengaja dikubur dalam-dalam. Membiarkan tangisnya tumpah tak terbendung. Mengelus hatinya seolah menahan perih yang begitu kronis. Tatapan mata yang kosong, menceritakan semuanya. Ada kerinduan yang teramat mendalam..
Friday, 23 December 2011
Happy Mom's Day ♥
Happy mom's day maa..
Terimakasih untuk pengorbanan yang mungkin aku gak tau seberapa besar pengorbanan itu, dan maaf kalau sampai hari ini aku cuma bisa kasih cinta walaupun cuma aku yang tau seberapa besar cinta ini :)
Dalam proses, pasti selalu ada jatuh bangun. Bahkan mungkin lebih banyak jatuhnya. Tapi saat finalnya nanti, aku JANJI aku pasti berhasil mah, ini janji!
Terimakasih untuk pengorbanan yang mungkin aku gak tau seberapa besar pengorbanan itu, dan maaf kalau sampai hari ini aku cuma bisa kasih cinta walaupun cuma aku yang tau seberapa besar cinta ini :)
Dalam proses, pasti selalu ada jatuh bangun. Bahkan mungkin lebih banyak jatuhnya. Tapi saat finalnya nanti, aku JANJI aku pasti berhasil mah, ini janji!
Thursday, 22 December 2011
Pena Untuk Menangis
Entah mau mulai ini dari mana, aku rindu sekali bercerita lewat pena. Mentransfer seluruh kepenatanku di kehidupan nyata. Seharian full aku berkutat tanpa gerakan yang berarti di depan sebuah novel, karangan Dewi Lestari, “Perahu Kertas”, hari ini tanggal 21 Desember 2011, ingin sekali rasanya bilang, “Mbak Dee, bantu aku menulis”. yang membuat aku tak henti hentinya kagum adalah caranya menggambarkan karakter yang mungkin hanya ada dalam khayalannya, seorang wanita gila dengan segala ketololannya yang sangat percaya diri. Sebenarnya bukan soal itu, aku melihat makna yang tersirat. Yang ternyata ini terjadi di kehidupan seorang dhesna cindra bhumi. Menulis, melukis, beracting mungkin, itu duniaku. Mama benar, entah mereka akan membawa aku kemana kalau saja aku memilih mereka sebagai jalanku. Jalan untuk sukses. Tapi dewi lestari mengajarkan aku sesuatu yang lain, yang mungkin akan terasa sangat pahit. Tapi inilah kenyataannya, aku harus menjalani apa yang bukan menjadi keinginanku untuk mendapatkan keinginanku itu sendiri. Kalimatnya mungkin sedikit sulit dicerna, tapi mbak dee, aku mengerti. aku tahu apa yang seharusnya dan tidak seharusnya aku pilih untuk jangka waktu yang pendek ini. 6 bulan mbak, dan aku sudah harus menentukan pilihan sekarang. Dan meskipun pada kenyataannya aku sudah memilih, tapi kenyataan itu pula yang menyadarkan aku bahwa ini begitu terasa sesak, bahkan mungkin perih. Aku tidak pernah menyesal atas apa yang sudah aku putuskan, aku Cuma ingin bercerita. Melalui pena penaku yang mungkin saat ini mereka juga ikut menangis. Aku Cuma butuh ada yang mendengarkan aku tanpa harus berkomentar apapun. Karena aku terlalu takut untuk mendengar apa pendapat mereka semua tentang pilihanku, pendapat yang tidak akan pernah sama dari mulut ke mulut.
Aku hanya ingin ada yang merangkul pundakku, seraya ia berkata “gak apa apa, pasti bisa”, atau “apapun hasilnya, itu yang terbaik mennurut allah”. Tapi lagi lagi kenyataan berkata lain, mereka sibuk dengan obsesi mereka masing masing. aku iri, sangan amat iri, bukan karena mereka didukung oleh banyak orang dan aku tidak. Aku iri karena mereka tau seberapa kuat keinginan mereka sedangkan aku tidak. Satu satu nya yang bisa buat aku tetap berkutat tak bergerak hanyalah wanita itu, yang makin lama wajahnya semakin sayu meskipun tidak ada yang bisa menandingi kecantikannya didunia ini, setidaknya untukku. tapi seberapa cantikpun, ia tetap tidak bisa bersandiwara menutupi kelelahannya. Dan rambut yang perlahan memutih, menusuk tajam leherku. Rasanya tidak rela waktu begitu serakah mengambil sisa hidupnya dengan kerapuhan yang perlahan datang. Mama…
Mungkin saat ini aku hanya butuh menangis, itu saja…
Subscribe to:
Posts (Atom)
Aku pun, ikut menghitung hari. Menggeratak cara lain lagi bagaimana rela menjadi sekejap yang aku bisa. Seakan-akan di tepas kesakitan menu...
-
Apa yang pertama kali kalian pikirin waktu ngeliat pict ini? Warnanya yang coklat dengan gradasi yang abstrak dan lapisan mengkilat begitu k...
-
Aku pun, ikut menghitung hari. Menggeratak cara lain lagi bagaimana rela menjadi sekejap yang aku bisa. Seakan-akan di tepas kesakitan menu...
-
Tentang menjuranya aku di bawah langit dan kami menangis bersahutan, setidaknya ia berkawan erat dengan bulan Juni. Sementara aku gelisah...











