Berlari
melompat
berguling
teriak
memukul
menendang
mencaci
dan memaki
semua tanpa lawan
sesungguhnya dibalik ketidak pedulian sebuah kata, justru mata yang selalu berbicara
meski terkadang air membuat suara tidak jelas dan semakin tidak menentu.
Darah yang seolah olah mendidih, meraung, berusaha berkata dan terus berteriak. Sayangnya getaran mereka jauh melebihi batas kemampuan telinga manusia.
Bersembunyi didalam ketakutan, meraba apa yang setidaknya masih bisa tersentuh oleh selembar tipis kulit ari.
Hanya rangkaian dari ribuan huruf tetapi mampu membuat darah darahku kembali berteriak, menangis karena kulit ari terluka. Meskipun itu hanya bagian terluar. Karena sesungguhnya jauh didalam aku sangat kuat.
Tapi kembali, aku bersembunyi dalam sebuah ketakutan, memusatkan fikiranku pada sebuah logika tentang cinta. Tentang apa yang ingin diceritakan oleh darahku sampai mereka harus berputar, berlari, menyiksa diri mereka menyapa jutaan meter pembuluh pada setiap hembusan nafas.
Saat bulu bulu tipis diatas setiap kulit ari ku ikut melindungi dari goresan luka, sesungguhnya aku tahu mereka lelah, karena itulah aku ingin berhenti mencintaimu
Tuesday, 28 September 2010
Sunday, 26 September 2010
Karena Aku Suka September
“apa yang kamu fikirkan tentang hujan?”
“tidur”
“hah, sederhana sekali pendapatmu tentang hujan”
“lalu apa? Air? Kesedihan? Atau langit yang sedang menangis? Ah itu kuno. Jangan ikuti gaya para penyair saat mereka sedang membuat puisi. Buatlah apa yang kamu fikirkan menjadi apa yang akan kamu utarakan. Saat hujan aku selalu ingin tidur. Jadi itulah makna hujan untukku”
“memangnya siapa yang bilang aku memaknai sebuah hujan sebagai tangisan dan kesedihan. Jangan sok tahu. Bagaimana kamu bisa mengetahui sebuah pendapat jika belum belum kamu sudah mengatakan apa yang sesungguhnya hanya ada dipikiranmu”
“lalu apa?”
“hujan itu bermain payung”
“hah? Hahah itu lebih konyol dari tidur. Apa maksud kamu tentang bermain payung? Umurmu sudah 16 tahun fira jangan seperti anak kecil yang sukanya bermain payung dan hujan hujanan diluar. Aku akan berpura pura tidak mengenalmu meski kamu jatuh, rambutmu rontok, payungmu terbang, kakimu hilang, bajumu lepas sekalipun”
“ihhhh kamu jahat banget. Aku hanya suka bermain payung. Tidak selebay apa yang barusan kamu katakan. Lagipula siapa juga yang mau orang lain tahu aku mengenal kamu. Aku tidak sudi punya teman seperti kamu. Jelek!”
“loh memangnya sejak kapan kita berteman? Kamu hanya tetangga yang umurnya lebih muda setahun dariku. Itu saja. Selebihnya kita tidak punya hubungan apa apa kan?”
“oh yaudah kalau begitu kenapa kamu masih dikamarku sekarang? Cepat pergi kalau tidak aku potong jari jarimu pakai gergaji! Cepaaaaattt!”
“hahaaaa akhirnyaaa, sebenarnya sudah sejak tadi aku ingin pergi dari sini wek :p”
“oteeeeengggggg jangan pernah minta makan lagi kesini!!!!!!!!!!”
*****
“oteeeenngggg cepet kita udah terlambat nanti ga boleh masuk sama pak satpam”
“iyaa bawel siapa suruh tadi gak bangunin, biasanya tiap pagi rame banget membangunkan aku lewat telfon”
“aku kan lagi marah jadi untuk apa bangunin kamu”
“dihhh yaudah gausah bareng naik motor sama aku, naik ojek sana”
“ih kok gitu, kamu mau aku bilang sama mama kamu kenapa rena hamil?”
“heh! Berisik banget yaudah cepetan turun. Eh iya satu lagi rena hamil bukan gara gara aku woyyy!”
“ihh masih aja mungkir diakan pacar kamu yeee”
“GA PEDULIIII! Cepetan turun aku tunggu dibawah. Lama lama kaca jendela kamar aku bisa pecah kalo tiap hari denger kamu teriak teriak”
“woo emang jendela kamu aja yang pecah, jendela aku udah 3x ganti kaca gara gara kamu tau”
*****
“sedang apa sendirian disini?, menangis lagi? Pasti gara gara tio lagi kan?”
“aku putus”
“wah berita bagus hahaha akhirnya mata batin kamu terbuka juga. Aku udah capek bilangin kamu.”
“dia selingkuh tenggg, tio jahat”
“tuh kan aku bilang juga apa. Makanya jadi perempuan jangan terlalu bodoh sampai mudah sekali tertipu. Gunakan otakmu, jangan hanya mau menjunjung tinggi perasaan yang sebenarnya hanya emosi. Pakai logika! Bodoh!”
“SUDAAAAAHH! Aku sedang sedih jangan memarahiku lagi. Cepat kamu pergi saja! Aku gak mau lihat muka kamu”
“maaf”
“engga”
“firaaaa”
“apa?!”
“ayo kita main payung diluar, hujannya deras pasti seru”
“engga”
“ra, maaf”
“jangan peluk aku”
“aku gak akan lepas kalau kamu masih marah”
“aku sedang sedih kenapa kamu tambah membuatku sedih :(“
“iyaa maaf yaa aku janji akan mencukur semua rambut yang ada di tubuh pria brengsek itu, sampai dia terlihat botak seperti ayam yang baru dipotong”
“hehehe jangan berkata seperti itu, aku jadi langsung membayangkannya”
“haha lalu aku gantung di tiang bendera sampai dia matang dipanggang matahari”
“haha iya kemudian malamnya kita kasih ke kolor ijo yang sedang lapar biar dia memakan tio sampai habis”
“iyaaa :)”
“tapiiiiii”
“apa?”
“inikan September, dan selalu hujan. Mana mungkin ada matahari”
“yaudah kita awetkan aja dulu”
“haha iyadeh tapi dirumah kamu yaa aku ga mau mengotori rumahku”
“ih enak aja, kasih aja dia ketukang daging”
“haahahaa iyaaa, oteeeng ketek kamu bau jangan peluk lagi cepat lepas”
“iyaaa bawel, udah gak sedih lagi kan?”
“iyaa engga ko”
“yaudah aku pulang yaaa, daaah”
“daaah”
*****
“TAARAAAAAAAA”
“apaan nih? Siapa yang ulang tahun?”
“memangnya kalo bikin kue harus ada yang ulang tahun”
“ya engga sih, tumben aja ra. Buat siapa?”
“ya buat akulah”
“terus kenapa dibawa kesini?”
“bantuin aku yaaa”
“bantu apa?”
“bantu menghabiskannya”
“waahh ini baru bagus, sini!”
“hehe iyaa iya ini, kamu lagi ngapain ko kayaknya lagi berfikir keras, kan jarang jarang kamu mikir”
“woo enak banget kalo ngomong, aku lagi inget inget siapa aja nama cewek aku disekolah”
“haha makanya punya cewek jangan kebanyakan, ko tumben? Undah insaf teng? Ah gak yakin deh aku mana mungkin orang kaya kamu bisa inshaf, gak mungkiiiin gak mungkinnnnn”
“ih apasih jangan sok tau deh, bukan aku yang mau macarin mereka, tapi mereka yang rebutan jadi pacar aku. Kamukan tau sendiri aku paling ga bisa tegas nolak cewek, jadiiii yaaa terima aja semuanya”
“terus buat apa diinget inget? Bukannya kamu udah ga peduli sama mereka?”
“iya justru itu, elsa bilang kalo aku mau jadi pacarnya aku harus mutusin semua pacar aku ra”
“hah jadi gara gara si elsa, emang seberapa cantik sih si elsa sampai segitunya kamu ngerelain cewek cewek kamu yang bnayak itu”
“cuuuuaaanntiikk banget fir, levelnya dewa banget deh”
“oh”
“looohh mau kemana?”
“pulang”
“kuenya?”
“abisin aja sendiri”
“kan ujaannnn”
“aku bawa payung”
“oyaudah dadaaaahh muaaah cintaku hati hati yaaa haha”
*****
“firaaaaaaa”
“yes aku diterima sama elsa hahahaaaaaaa”
“oh selamat ya”
“mau aku traktir apa nih?”
“ga usah”
“ayooo jangan malu malu”
“gak mau aku gak laper, pulang sana aku ngantuk.”
“yah mentang mentang ujan pengennya tidur mulu”
“bukannya kamu juga gitu?”
“iyasih hehe”
“yaudah sana pulang”
“iya iya muah”
“HEEEEHH jangan cium cium jidat nanti aku bisa jenong gara gara kamu”
“hahaaa bodo”
“huh”
*****
“haloo”
“heh bangun”
“iyaaaa -_____- tumben kamu yang bangunin”
“iyadong”
“paasti ada alesannya”
“iyalaah”
“apa? Nanti sarapan dirumah aku ya teng. Aku bikinin nasi goreng yang enak”
“heem kayaknya gabisa ra, aku mau bareng elsa pagi ini. Kamu sama papa kamu aja ya berangkatnya?”
“tut tut tut tut”
“yah kok dimatiin, bodo ah”
*****
“teng ayoo pulang aku laper”
“ra kamu pulang sendiri dulu yaa? Aku mau pergi sama elsa maaf yaa tayangkuuu”
“ah yaudah seterah!”
“terserah raaaa”
“iya itu!”
*****
“ngapain kamu kesini?”
“mau minta makan, dirumah gak ada makanan. Ujan bikin laper deh -,-”
“yaudah sana makan”
“galak banget sih”
“bodo”
“kamu marah ra?”
“engga”
“terus kenapa gak jadi galak?”
“bukannya biasanya juga galak? Kan sama kayak kamu”
“tapi beda”
“…”
“…”
“…”
“raaaaaaa”
“sayang banget sama kamu sampai gak rela kamu punya orang lain”
“hah haha karna itu haha kamu cemburu yaaaaaaaaa ”
“engga”
“hahahahahahhahahah”
“kenapa ketawa?”
“pengen aja”
“oohh”
“sini”
“ngapain?”
“mau dipeluk gak nih?”
“gak”
“udaah sini ah”
“hemmm”
“elsa itu cuma pacar ra, sebentar lagi juga putus. Aku juga sayang banget sama kamu sampe gak rela ada orang yang nyakitin kamu. Aku gak mau minta kamu jadi pacar aku karna aku gak pernah mau putus sama kamu sayang. ”
“teenggg :(“
“ini tanggal berapa yaa?”
“30 kenapa emangnya?”
“September sebentar lagi berakhir loh ra”
“iyaaa”
“kenapa sedih gitu mukanya?”
“aku gak mau September berakhir”
“kenapa?”
“karna aku suka September”
“tidur”
“hah, sederhana sekali pendapatmu tentang hujan”
“lalu apa? Air? Kesedihan? Atau langit yang sedang menangis? Ah itu kuno. Jangan ikuti gaya para penyair saat mereka sedang membuat puisi. Buatlah apa yang kamu fikirkan menjadi apa yang akan kamu utarakan. Saat hujan aku selalu ingin tidur. Jadi itulah makna hujan untukku”
“memangnya siapa yang bilang aku memaknai sebuah hujan sebagai tangisan dan kesedihan. Jangan sok tahu. Bagaimana kamu bisa mengetahui sebuah pendapat jika belum belum kamu sudah mengatakan apa yang sesungguhnya hanya ada dipikiranmu”
“lalu apa?”
“hujan itu bermain payung”
“hah? Hahah itu lebih konyol dari tidur. Apa maksud kamu tentang bermain payung? Umurmu sudah 16 tahun fira jangan seperti anak kecil yang sukanya bermain payung dan hujan hujanan diluar. Aku akan berpura pura tidak mengenalmu meski kamu jatuh, rambutmu rontok, payungmu terbang, kakimu hilang, bajumu lepas sekalipun”
“ihhhh kamu jahat banget. Aku hanya suka bermain payung. Tidak selebay apa yang barusan kamu katakan. Lagipula siapa juga yang mau orang lain tahu aku mengenal kamu. Aku tidak sudi punya teman seperti kamu. Jelek!”
“loh memangnya sejak kapan kita berteman? Kamu hanya tetangga yang umurnya lebih muda setahun dariku. Itu saja. Selebihnya kita tidak punya hubungan apa apa kan?”
“oh yaudah kalau begitu kenapa kamu masih dikamarku sekarang? Cepat pergi kalau tidak aku potong jari jarimu pakai gergaji! Cepaaaaattt!”
“hahaaaa akhirnyaaa, sebenarnya sudah sejak tadi aku ingin pergi dari sini wek :p”
“oteeeeengggggg jangan pernah minta makan lagi kesini!!!!!!!!!!”
*****
“oteeeenngggg cepet kita udah terlambat nanti ga boleh masuk sama pak satpam”
“iyaa bawel siapa suruh tadi gak bangunin, biasanya tiap pagi rame banget membangunkan aku lewat telfon”
“aku kan lagi marah jadi untuk apa bangunin kamu”
“dihhh yaudah gausah bareng naik motor sama aku, naik ojek sana”
“ih kok gitu, kamu mau aku bilang sama mama kamu kenapa rena hamil?”
“heh! Berisik banget yaudah cepetan turun. Eh iya satu lagi rena hamil bukan gara gara aku woyyy!”
“ihh masih aja mungkir diakan pacar kamu yeee”
“GA PEDULIIII! Cepetan turun aku tunggu dibawah. Lama lama kaca jendela kamar aku bisa pecah kalo tiap hari denger kamu teriak teriak”
“woo emang jendela kamu aja yang pecah, jendela aku udah 3x ganti kaca gara gara kamu tau”
*****
“sedang apa sendirian disini?, menangis lagi? Pasti gara gara tio lagi kan?”
“aku putus”
“wah berita bagus hahaha akhirnya mata batin kamu terbuka juga. Aku udah capek bilangin kamu.”
“dia selingkuh tenggg, tio jahat”
“tuh kan aku bilang juga apa. Makanya jadi perempuan jangan terlalu bodoh sampai mudah sekali tertipu. Gunakan otakmu, jangan hanya mau menjunjung tinggi perasaan yang sebenarnya hanya emosi. Pakai logika! Bodoh!”
“SUDAAAAAHH! Aku sedang sedih jangan memarahiku lagi. Cepat kamu pergi saja! Aku gak mau lihat muka kamu”
“maaf”
“engga”
“firaaaa”
“apa?!”
“ayo kita main payung diluar, hujannya deras pasti seru”
“engga”
“ra, maaf”
“jangan peluk aku”
“aku gak akan lepas kalau kamu masih marah”
“aku sedang sedih kenapa kamu tambah membuatku sedih :(“
“iyaa maaf yaa aku janji akan mencukur semua rambut yang ada di tubuh pria brengsek itu, sampai dia terlihat botak seperti ayam yang baru dipotong”
“hehehe jangan berkata seperti itu, aku jadi langsung membayangkannya”
“haha lalu aku gantung di tiang bendera sampai dia matang dipanggang matahari”
“haha iya kemudian malamnya kita kasih ke kolor ijo yang sedang lapar biar dia memakan tio sampai habis”
“iyaaa :)”
“tapiiiiii”
“apa?”
“inikan September, dan selalu hujan. Mana mungkin ada matahari”
“yaudah kita awetkan aja dulu”
“haha iyadeh tapi dirumah kamu yaa aku ga mau mengotori rumahku”
“ih enak aja, kasih aja dia ketukang daging”
“haahahaa iyaaa, oteeeng ketek kamu bau jangan peluk lagi cepat lepas”
“iyaaa bawel, udah gak sedih lagi kan?”
“iyaa engga ko”
“yaudah aku pulang yaaa, daaah”
“daaah”
*****
“TAARAAAAAAAA”
“apaan nih? Siapa yang ulang tahun?”
“memangnya kalo bikin kue harus ada yang ulang tahun”
“ya engga sih, tumben aja ra. Buat siapa?”
“ya buat akulah”
“terus kenapa dibawa kesini?”
“bantuin aku yaaa”
“bantu apa?”
“bantu menghabiskannya”
“waahh ini baru bagus, sini!”
“hehe iyaa iya ini, kamu lagi ngapain ko kayaknya lagi berfikir keras, kan jarang jarang kamu mikir”
“woo enak banget kalo ngomong, aku lagi inget inget siapa aja nama cewek aku disekolah”
“haha makanya punya cewek jangan kebanyakan, ko tumben? Undah insaf teng? Ah gak yakin deh aku mana mungkin orang kaya kamu bisa inshaf, gak mungkiiiin gak mungkinnnnn”
“ih apasih jangan sok tau deh, bukan aku yang mau macarin mereka, tapi mereka yang rebutan jadi pacar aku. Kamukan tau sendiri aku paling ga bisa tegas nolak cewek, jadiiii yaaa terima aja semuanya”
“terus buat apa diinget inget? Bukannya kamu udah ga peduli sama mereka?”
“iya justru itu, elsa bilang kalo aku mau jadi pacarnya aku harus mutusin semua pacar aku ra”
“hah jadi gara gara si elsa, emang seberapa cantik sih si elsa sampai segitunya kamu ngerelain cewek cewek kamu yang bnayak itu”
“cuuuuaaanntiikk banget fir, levelnya dewa banget deh”
“oh”
“looohh mau kemana?”
“pulang”
“kuenya?”
“abisin aja sendiri”
“kan ujaannnn”
“aku bawa payung”
“oyaudah dadaaaahh muaaah cintaku hati hati yaaa haha”
*****
“firaaaaaaa”
“yes aku diterima sama elsa hahahaaaaaaa”
“oh selamat ya”
“mau aku traktir apa nih?”
“ga usah”
“ayooo jangan malu malu”
“gak mau aku gak laper, pulang sana aku ngantuk.”
“yah mentang mentang ujan pengennya tidur mulu”
“bukannya kamu juga gitu?”
“iyasih hehe”
“yaudah sana pulang”
“iya iya muah”
“HEEEEHH jangan cium cium jidat nanti aku bisa jenong gara gara kamu”
“hahaaa bodo”
“huh”
*****
“haloo”
“heh bangun”
“iyaaaa -_____- tumben kamu yang bangunin”
“iyadong”
“paasti ada alesannya”
“iyalaah”
“apa? Nanti sarapan dirumah aku ya teng. Aku bikinin nasi goreng yang enak”
“heem kayaknya gabisa ra, aku mau bareng elsa pagi ini. Kamu sama papa kamu aja ya berangkatnya?”
“tut tut tut tut”
“yah kok dimatiin, bodo ah”
*****
“teng ayoo pulang aku laper”
“ra kamu pulang sendiri dulu yaa? Aku mau pergi sama elsa maaf yaa tayangkuuu”
“ah yaudah seterah!”
“terserah raaaa”
“iya itu!”
*****
“ngapain kamu kesini?”
“mau minta makan, dirumah gak ada makanan. Ujan bikin laper deh -,-”
“yaudah sana makan”
“galak banget sih”
“bodo”
“kamu marah ra?”
“engga”
“terus kenapa gak jadi galak?”
“bukannya biasanya juga galak? Kan sama kayak kamu”
“tapi beda”
“…”
“…”
“…”
“raaaaaaa”
“sayang banget sama kamu sampai gak rela kamu punya orang lain”
“hah haha karna itu haha kamu cemburu yaaaaaaaaa ”
“engga”
“hahahahahahhahahah”
“kenapa ketawa?”
“pengen aja”
“oohh”
“sini”
“ngapain?”
“mau dipeluk gak nih?”
“gak”
“udaah sini ah”
“hemmm”
“elsa itu cuma pacar ra, sebentar lagi juga putus. Aku juga sayang banget sama kamu sampe gak rela ada orang yang nyakitin kamu. Aku gak mau minta kamu jadi pacar aku karna aku gak pernah mau putus sama kamu sayang. ”
“teenggg :(“
“ini tanggal berapa yaa?”
“30 kenapa emangnya?”
“September sebentar lagi berakhir loh ra”
“iyaaa”
“kenapa sedih gitu mukanya?”
“aku gak mau September berakhir”
“kenapa?”
“karna aku suka September”
Saturday, 25 September 2010
myEVERYTHING
Terlelap, hangat, lelah
nyaman, tenang, penuh cinta
tak terjaga dalam malam. Hanya beberapa saat dan kembali membuka mata
peluh menetes sebelum mentari terlihat. Gelap, dan gemericik air menjadi suaranya.
Aku sungguh yakin dibalik warna merah yang merona ia menyembunyikan segumpal besar rasa lelah.
rangkulan hangat ketika ia kembali menginjakan kaki dilantai rumah, sedikit mengeluh karena buah hatinya sudah sulit untuk dipeluk.
Tapi tetap tersenyum meskipun hatinya merindukan masa lalu yang kecil.
Ibu...
nyaman, tenang, penuh cinta
tak terjaga dalam malam. Hanya beberapa saat dan kembali membuka mata
peluh menetes sebelum mentari terlihat. Gelap, dan gemericik air menjadi suaranya.
Aku sungguh yakin dibalik warna merah yang merona ia menyembunyikan segumpal besar rasa lelah.
rangkulan hangat ketika ia kembali menginjakan kaki dilantai rumah, sedikit mengeluh karena buah hatinya sudah sulit untuk dipeluk.
Tapi tetap tersenyum meskipun hatinya merindukan masa lalu yang kecil.
Ibu...
Tuesday, 21 September 2010
Aku Ingin Menyentuh Pelangi
Gadis itu menangis sesunggukan, tidak ada yang mendengar. Tidak ada yang datang untuk menenangkannya. Kekecewaan yang dirasakannya hanya bisa diungkapkan dengan air mata. Mimpi yang membuat ia kembali menangis, mungkin sepele untuk mereka yang sudah dewasa atau beberapa anak kecil yang memiliki uang banyak untuk mewujudkan semua impiannya. Rere, gadis itu selalu bermimpi untuk menyentuh pelangi. Berjalan di atasnya dan berujung di sebbuah istana di atas awan. Seperti cerita dongeng yang sering diceritakan teman temannya sehabis mereka menonton televisi, salah satu benda yang juga tidak dimiliki Rere. Rere hanya bermain dengan boneka kecil yang dibuatkan ibunya dari kain bekas, memang bukan penjahit yang handal, oleh karena itu Rere sering di ejek oleh temannya karena masih saja menyimpan boneka butut dan aneh itu. meskipun begitu Rere tidak pernah membiarkan bedut kotor, yaa begitulah Rere memanggil boneka buatan tangan ibunya, sebelum ia ditinggalkan seorang diri oleh ibunya untuk pergi ke kota mengadu nasib.
Rumah panggung kecil yang terbuat dari kayu itulah satu satunya yang melindungi Rere saat ini. Rumah yang tadinya masih kokoh saat ditinggalkan oleh ayah Rere. Seorang pahlawan yang merelakan nyawanya dimedan perang. Meninggalkan istri dan seorang bayi mungil yang cantik dan sederhana dengan wajahnya yang terlihat teduh. Bayi yang ditinggalkan itu sekarang sudah menjadi gadis kecil yang hebat. Yang awalnya terpaksa belajar memasak untuk dirinya sendiri, dan seorang kakek yang sudah lumpuh termakan waktu. Usianya yang sudah senja itu tidak lagi memungkinkan dirinya untuk mengurus Rere seperti yang diamanatkan oleh ibu Rere setahun silam.
Amanda Regina, gadis kecil yang periang itu sudah berusia 7 tahun sekarang. Usia yang masih sangat kecil untuk ditinggal seorang diri di rumah yang hampir mendekati hutan. Ia sering menangis saat hujan turun dengan cahaya yang terlihat jelas dari jendela rumah Rere, dan suara yang begitu keras yang terdengar dari awan. Temannya pernah bilang itu adalah suara awan yang sedang bertengkar dan akan memangsa anak anak yang sedang sendirian, tangisan Rere semakin keras setiap dia mengingat perkataan temannya itu. Rere takut sendiri, tapi ia lebih takut jika harus pergi kerumah kakek pohar. Kakek itu selalu memarahi Rere dan Rere tidak pernah tau apa sebabnya. Itulah yang membuat Rere lebih memilih dirumahnya sendiri memeluk boneka bedutnya, menangis dan terus menangis karena ketakutan hingga akhirnya Rere terlelap ditempat tidur nya yang tua dan kusam.
******
Pagi ini matahari sepertinya sedang bahagia, Rere pergi kesungai dan membawa beberapa rok nya untuk dicuci. Ia tidak pernah lupa membawa bedut di kantung bajunya. Ukuran boneka itu tidak terlalu besar sehingga Rere tidak sulit untuk membawanya kemana mana. Dan diperjalanan pulang Rere bertemu dengan galuh sahabatnya.
“Rereeeee..”
“Ehhh galuh apa itu yang kamu bawa?”
“tadi aku mencuri kue mamaku, makanlah kamu pasti belum sarapan yaakan?”
“tidak ah nanti aku dimarahin sama mama kamu”
“makanya cepat kamu bawa pulang re biar mamaku gak lihat”
“heem oke deh aku emang laper sih hehee”
“huuhh dasar malu malu kucing” sambil tangannya menjitak kasar kepala Rere
“aduuuuhh!!!”
“hahahahahaahahahah dadaaaahhhh” dan galuh pergi berlari pulang. Sebenarnya ia
ingin berlama lama bersama Rere, tapi ibunya akan marah jika tau galuh bersama Rere, gadis yang dianggap tidak jelas latar belakang keluarganya. Bahkan tidak sedikit tetangga yang memperlakukan Rere sama seperti ibunya galuh.
Meskipun begitu Rere senang karena hari ini ia tidak perlu memasak, galuh membawakan banyak sekali makanan untuknya. Galuh adalah sahabat Rere satu satunya, anak anak lain hanya mendekati dan berteman dengan Rere hanya jika membutuhkan bantuan Rere saja. Kadang kadang Rere tertawa sendirian jika mengingat cerita kehidupannya, itu seperti cerita yang ada ditelevisi seperti apa yang diceritakan galuh. Dimana gadis kecil yang sengsara dan tidak mempunyai teman akan didatangi oleh ibu peri seperti ibu perinya Cinderella meskipun sebenarnya Rere tidak pernah tau bagaimana wujud Cinderella yang sering dieluh eluhkan cantik oleh teman temannya. Tapi Rere bersyukur tidak mempunyai ibu tiri dan saudara jahat seperti Cinderella.
Galuh sangat merindukan Rere, begitupun dengan Rere. Ia selalu sendirian dan berharap galuh datang saat itu untuk menemaninya. Tapi ibu galuh adalah wanita yang sangat keras, jika ia sudah melarang, galuh tidak akan bisa berbuat apapun.
******
Hari ini meskipun hari masih siang tapi hujan membuat langit gelap seperti malam. Tapi Rere tidak menangis, dia malah tertawa, yaa tertawa sendiri. Rere teringat apa yang galuh lakukan jika ia melihat Rere menangis. Ia mengepakan tangannya seperti ayam dan bernyanyi potong bebek angsa. Dan saat itu Rere akan langsung tertawa.
“tok tok tok”
Rere terkejut mendengar suara itu, dia bukan cepat cepat membukakan pintu tapi justru mengumpat di bawah tempat tidur dan menenggelamkan suaranya supaya yang mengetuk itu menyangka tidak ada siapapun didalam rumah. Rere menyangka yang mengetuk pintu rumahnya itu adalah awan yang akan memakannya karena sedang bertengkar dan lapar.
Rere menangis lagi, ia takut, sangat takut. Ia tidak mau mati dimakan awan. Walaupun Rere berusaha tidak mengeluarkan suaranya, awan itu tetap saja mengetuk pintunya.
“tok tok tok, Rereeeee”
Suara itu, Rere mengenalnya. Itu galuh, terlihat senyumnya begitu lega setelah mengetahui itu adalah galuh. Rere kemudian cepat cepat membukakan pintu.
“Rere kamu menangis lagi?” melihat bekas air mata diwajah Rere galuh langsung menegurnya
“iya gara gara kamu”
“loh ko aku?”
“iya aku kira kamu awan yang mau memakan aku”
“hahahahahaahahahaha bodoh masih saja percaya cerita itu”
“memangnya itu bohong?”
“haha tidak tidak, itu benar kok”
“terus kenapa kamu ngetawain aku?”
“karena muka kamu jelek kalo nangis”
Rere langsung menghapus air matanya, ia tidak mau di ejek jelek oleh galuh.
“kamu kenapa datang? Inikan lagi hujan, nanti mama kamu marah”
“engga kok, mama memperbolehkan aku datang kerumahmu”
Rere heran, baru pernah galuh diperbolehkan mamanya untuk main kerumah Rere.
“hmm kita main apa yaa”
“re aku mau bilang sesuatu ke kamu”
“aku sudah tau”
“tau darimana?”
“kamu sering bilang kayak gitu, kamu mau bilang aku jelek kan? Aku ttauuuuuuu >,<”
“haha bukan”
“lalu apa? Aku cantik yaaa :D”
“aku mau pergi”
“kemana?”
“mama mau menyekolahkanku dilampung”
“lampung itu dimana?”
“itu tempat yang sangat jauh”
“jauhnya seperti ke langit?”
“engga lebih jauh lagi kayaknya”
Dan saat itu pula Rere menangis lagi tidak peduli akan terlihat jelek oleh galuh, setelah ibunya pergi sekarang galuh yang akan pergi bahkan lebih jauh dari langit. Tempat dimana ada pelangi. Untuk menyentuh pelangi saja Rere tidak bisa, apalagi menemui galuh di tempat yang lebih jauh dari itu.
Galuh memeluknya, mengelus lembut rambut Rere. Ketulusan kasih sayang dua orang bocah kecil yang harus dipisahkan oleh jarak yang mereka saja tidak mengetahui seberapa jauh jarak itu membuat galuh ikut menangis. Dan pelukan seorang figur kakak untuk Rere tidak akan lagi dirasakannya.
*****
Hari itu tiba, galuh dan keluarganya berangkat kebandara. Sambil menangis Rere berlari kerumah galuh dan menggenggam erat bedut ditangannya, ia mengumpat di belakang ayunan sambil berjongkok dan melihat galuh pergi menaiki mobilnya. Rere menangis semakin keras, meskipun ia tidak mengerti apa yang membuatnya menangis.
Rere hanya takut sendirian lagi. Dan hujanpun turun lagi, September yang mendung sama seperti hati Rere. Ibu, Rere merindukan ibunya. Ia memeluk erat boneka yang ditinggalkan ibunya itu dan tiada hentinya menangisi galuh.
Rere meninggalkan ayunan itu dan kembali kerumahnya. Hujan semakin lebat dan awan masih saja bertengkar. Kabut menutupi jalan dan sekitar rumahnya. Rere terus menangis dan menangis. Menyatukan dahi dan lututnya sambil menggenggam bedut.
Samar terdengar suara yang sedikit tertutup oleh hujan.
“potong bebek angsa, angsa dikuali. Nona minta dansa dansa empat kali. Sorong
kekanan, sorong kekiri lalalalalalalaaalala”
Itu suara galuh, mereka berdua sama sama basah kuyup. Rere terkejut melihatnya.
“kenapa kamu kembali lagi?”
“aku cuma mau ngasih ini,….” Dan kecupan itu mendarat diatas pipi Rere.
“jangan pergi” dengan tatapan nya yang senduh dan berair Rere memohon agar galuh
tidak meninggalkannya.
“jangan menangis lagi yaa, kalau kamu masih menangis aku tidak akan kembali selamanya”
Akhirnya galuh berlari pergi dan ini benar benar pergi. Semakin lama punggung bocah itu semakin tidak terlihat dan hilang tertutup kabut. Rere bejanji tidak akan menangis lagi. Kasih sayang dua bocah kecil yang tulus itu menjadi pemicu besar yang membuat Rere berjanji tidak akan menangis lagi. Karena Rere masih ingin bertemu galuh, yaa mungkin nanti.
Rumah panggung kecil yang terbuat dari kayu itulah satu satunya yang melindungi Rere saat ini. Rumah yang tadinya masih kokoh saat ditinggalkan oleh ayah Rere. Seorang pahlawan yang merelakan nyawanya dimedan perang. Meninggalkan istri dan seorang bayi mungil yang cantik dan sederhana dengan wajahnya yang terlihat teduh. Bayi yang ditinggalkan itu sekarang sudah menjadi gadis kecil yang hebat. Yang awalnya terpaksa belajar memasak untuk dirinya sendiri, dan seorang kakek yang sudah lumpuh termakan waktu. Usianya yang sudah senja itu tidak lagi memungkinkan dirinya untuk mengurus Rere seperti yang diamanatkan oleh ibu Rere setahun silam.
Amanda Regina, gadis kecil yang periang itu sudah berusia 7 tahun sekarang. Usia yang masih sangat kecil untuk ditinggal seorang diri di rumah yang hampir mendekati hutan. Ia sering menangis saat hujan turun dengan cahaya yang terlihat jelas dari jendela rumah Rere, dan suara yang begitu keras yang terdengar dari awan. Temannya pernah bilang itu adalah suara awan yang sedang bertengkar dan akan memangsa anak anak yang sedang sendirian, tangisan Rere semakin keras setiap dia mengingat perkataan temannya itu. Rere takut sendiri, tapi ia lebih takut jika harus pergi kerumah kakek pohar. Kakek itu selalu memarahi Rere dan Rere tidak pernah tau apa sebabnya. Itulah yang membuat Rere lebih memilih dirumahnya sendiri memeluk boneka bedutnya, menangis dan terus menangis karena ketakutan hingga akhirnya Rere terlelap ditempat tidur nya yang tua dan kusam.
******
Pagi ini matahari sepertinya sedang bahagia, Rere pergi kesungai dan membawa beberapa rok nya untuk dicuci. Ia tidak pernah lupa membawa bedut di kantung bajunya. Ukuran boneka itu tidak terlalu besar sehingga Rere tidak sulit untuk membawanya kemana mana. Dan diperjalanan pulang Rere bertemu dengan galuh sahabatnya.
“Rereeeee..”
“Ehhh galuh apa itu yang kamu bawa?”
“tadi aku mencuri kue mamaku, makanlah kamu pasti belum sarapan yaakan?”
“tidak ah nanti aku dimarahin sama mama kamu”
“makanya cepat kamu bawa pulang re biar mamaku gak lihat”
“heem oke deh aku emang laper sih hehee”
“huuhh dasar malu malu kucing” sambil tangannya menjitak kasar kepala Rere
“aduuuuhh!!!”
“hahahahahaahahahah dadaaaahhhh” dan galuh pergi berlari pulang. Sebenarnya ia
ingin berlama lama bersama Rere, tapi ibunya akan marah jika tau galuh bersama Rere, gadis yang dianggap tidak jelas latar belakang keluarganya. Bahkan tidak sedikit tetangga yang memperlakukan Rere sama seperti ibunya galuh.
Meskipun begitu Rere senang karena hari ini ia tidak perlu memasak, galuh membawakan banyak sekali makanan untuknya. Galuh adalah sahabat Rere satu satunya, anak anak lain hanya mendekati dan berteman dengan Rere hanya jika membutuhkan bantuan Rere saja. Kadang kadang Rere tertawa sendirian jika mengingat cerita kehidupannya, itu seperti cerita yang ada ditelevisi seperti apa yang diceritakan galuh. Dimana gadis kecil yang sengsara dan tidak mempunyai teman akan didatangi oleh ibu peri seperti ibu perinya Cinderella meskipun sebenarnya Rere tidak pernah tau bagaimana wujud Cinderella yang sering dieluh eluhkan cantik oleh teman temannya. Tapi Rere bersyukur tidak mempunyai ibu tiri dan saudara jahat seperti Cinderella.
Galuh sangat merindukan Rere, begitupun dengan Rere. Ia selalu sendirian dan berharap galuh datang saat itu untuk menemaninya. Tapi ibu galuh adalah wanita yang sangat keras, jika ia sudah melarang, galuh tidak akan bisa berbuat apapun.
******
Hari ini meskipun hari masih siang tapi hujan membuat langit gelap seperti malam. Tapi Rere tidak menangis, dia malah tertawa, yaa tertawa sendiri. Rere teringat apa yang galuh lakukan jika ia melihat Rere menangis. Ia mengepakan tangannya seperti ayam dan bernyanyi potong bebek angsa. Dan saat itu Rere akan langsung tertawa.
“tok tok tok”
Rere terkejut mendengar suara itu, dia bukan cepat cepat membukakan pintu tapi justru mengumpat di bawah tempat tidur dan menenggelamkan suaranya supaya yang mengetuk itu menyangka tidak ada siapapun didalam rumah. Rere menyangka yang mengetuk pintu rumahnya itu adalah awan yang akan memakannya karena sedang bertengkar dan lapar.
Rere menangis lagi, ia takut, sangat takut. Ia tidak mau mati dimakan awan. Walaupun Rere berusaha tidak mengeluarkan suaranya, awan itu tetap saja mengetuk pintunya.
“tok tok tok, Rereeeee”
Suara itu, Rere mengenalnya. Itu galuh, terlihat senyumnya begitu lega setelah mengetahui itu adalah galuh. Rere kemudian cepat cepat membukakan pintu.
“Rere kamu menangis lagi?” melihat bekas air mata diwajah Rere galuh langsung menegurnya
“iya gara gara kamu”
“loh ko aku?”
“iya aku kira kamu awan yang mau memakan aku”
“hahahahahaahahahaha bodoh masih saja percaya cerita itu”
“memangnya itu bohong?”
“haha tidak tidak, itu benar kok”
“terus kenapa kamu ngetawain aku?”
“karena muka kamu jelek kalo nangis”
Rere langsung menghapus air matanya, ia tidak mau di ejek jelek oleh galuh.
“kamu kenapa datang? Inikan lagi hujan, nanti mama kamu marah”
“engga kok, mama memperbolehkan aku datang kerumahmu”
Rere heran, baru pernah galuh diperbolehkan mamanya untuk main kerumah Rere.
“hmm kita main apa yaa”
“re aku mau bilang sesuatu ke kamu”
“aku sudah tau”
“tau darimana?”
“kamu sering bilang kayak gitu, kamu mau bilang aku jelek kan? Aku ttauuuuuuu >,<”
“haha bukan”
“lalu apa? Aku cantik yaaa :D”
“aku mau pergi”
“kemana?”
“mama mau menyekolahkanku dilampung”
“lampung itu dimana?”
“itu tempat yang sangat jauh”
“jauhnya seperti ke langit?”
“engga lebih jauh lagi kayaknya”
Dan saat itu pula Rere menangis lagi tidak peduli akan terlihat jelek oleh galuh, setelah ibunya pergi sekarang galuh yang akan pergi bahkan lebih jauh dari langit. Tempat dimana ada pelangi. Untuk menyentuh pelangi saja Rere tidak bisa, apalagi menemui galuh di tempat yang lebih jauh dari itu.
Galuh memeluknya, mengelus lembut rambut Rere. Ketulusan kasih sayang dua orang bocah kecil yang harus dipisahkan oleh jarak yang mereka saja tidak mengetahui seberapa jauh jarak itu membuat galuh ikut menangis. Dan pelukan seorang figur kakak untuk Rere tidak akan lagi dirasakannya.
*****
Hari itu tiba, galuh dan keluarganya berangkat kebandara. Sambil menangis Rere berlari kerumah galuh dan menggenggam erat bedut ditangannya, ia mengumpat di belakang ayunan sambil berjongkok dan melihat galuh pergi menaiki mobilnya. Rere menangis semakin keras, meskipun ia tidak mengerti apa yang membuatnya menangis.
Rere hanya takut sendirian lagi. Dan hujanpun turun lagi, September yang mendung sama seperti hati Rere. Ibu, Rere merindukan ibunya. Ia memeluk erat boneka yang ditinggalkan ibunya itu dan tiada hentinya menangisi galuh.
Rere meninggalkan ayunan itu dan kembali kerumahnya. Hujan semakin lebat dan awan masih saja bertengkar. Kabut menutupi jalan dan sekitar rumahnya. Rere terus menangis dan menangis. Menyatukan dahi dan lututnya sambil menggenggam bedut.
Samar terdengar suara yang sedikit tertutup oleh hujan.
“potong bebek angsa, angsa dikuali. Nona minta dansa dansa empat kali. Sorong
kekanan, sorong kekiri lalalalalalalaaalala”
Itu suara galuh, mereka berdua sama sama basah kuyup. Rere terkejut melihatnya.
“kenapa kamu kembali lagi?”
“aku cuma mau ngasih ini,….” Dan kecupan itu mendarat diatas pipi Rere.
“jangan pergi” dengan tatapan nya yang senduh dan berair Rere memohon agar galuh
tidak meninggalkannya.
“jangan menangis lagi yaa, kalau kamu masih menangis aku tidak akan kembali selamanya”
Akhirnya galuh berlari pergi dan ini benar benar pergi. Semakin lama punggung bocah itu semakin tidak terlihat dan hilang tertutup kabut. Rere bejanji tidak akan menangis lagi. Kasih sayang dua bocah kecil yang tulus itu menjadi pemicu besar yang membuat Rere berjanji tidak akan menangis lagi. Karena Rere masih ingin bertemu galuh, yaa mungkin nanti.
Thursday, 2 September 2010
SMANSA
udah lama ga posting di blog, rasanya banyak banget yang mau gue ceritain. entah itu kesiapa yang penting gue udah berhasil buat ngeluarin semua yang ada di otak gue.
waktu rasanya udah semakin sempit aja. pulang sekolah, les, nyari tugas, ngerjain PR, tidur, itupun kalau hari hari biasa. pas bulan puasa ini bahkan mata gue kayaknya cuma sempet diistirahatin dua sampai tiga jam. belom lagi kalo ada ulangan dan mimpi mimpi tentang ilmu pelajaran yang menghantui gue tiap malem. aaaaa mau mati rasanya kalo inget itu semua. dulu imajinasi gue waktu SMP tentang kehidupan SMA gak kayak gini. yang gue bayangin adalah kesenangan kesenangan dan kesenangan, pake rok pendek rempel (sedengkul maksudnya) dijeput pacar dan yang paling penting itu TAS GUE ENTENG! ini mah ketemu pacar aja susah :( aahh elah.
STOP PENYESALAN!!!!!!!!
yang seharusnya gue lakuin itu bersyukur dengan apa yang gue dapet sekarang, SMANSA kehidupan ISLAMI dan semua yang berbau kebaikan.
Terus sekarang gue harus gimana? Sok sok jadi anak baik gitu? Ah itu buka gue entar jadinya :( jadi intinya sekrang gue belom nemuin jati diri gue gitu?
SUMPAH DILEMA BANGET
sekarang aja gue gatau lagi nulis apa.
Haha bego!
Cita cita gue sekarang pengen jadi pegawai bank, tapi itukan jatah nya anak IPS, gue mana bisa akuntansi. Lah ekonomi aja ga pernah dapet nilai diatas 8. Guru ekonomi aja udah afal banget muka gue kaya gimana. Udah pasti lah tiap ulangan ekonomi gue remedial mulu. Wkwk malu maluin. Maunya jadi penulis, pelukis, penari haha ga ada yg perlu pemikiran lebih banget cita cita gue haha tau ah :D gue jadi pusing sendiri. Intinya SECEPAT MUNGKIN GUE PENGEN PUNYA UANG SENDIRI. Mau ngajak mama jalan2 pake duit gue. Aaa gila impian banget. Semoga novel gue bisa diterima penerbit. Haha amin amin amin ya allah :)
waktu rasanya udah semakin sempit aja. pulang sekolah, les, nyari tugas, ngerjain PR, tidur, itupun kalau hari hari biasa. pas bulan puasa ini bahkan mata gue kayaknya cuma sempet diistirahatin dua sampai tiga jam. belom lagi kalo ada ulangan dan mimpi mimpi tentang ilmu pelajaran yang menghantui gue tiap malem. aaaaa mau mati rasanya kalo inget itu semua. dulu imajinasi gue waktu SMP tentang kehidupan SMA gak kayak gini. yang gue bayangin adalah kesenangan kesenangan dan kesenangan, pake rok pendek rempel (sedengkul maksudnya) dijeput pacar dan yang paling penting itu TAS GUE ENTENG! ini mah ketemu pacar aja susah :( aahh elah.
STOP PENYESALAN!!!!!!!!
yang seharusnya gue lakuin itu bersyukur dengan apa yang gue dapet sekarang, SMANSA kehidupan ISLAMI dan semua yang berbau kebaikan.
Terus sekarang gue harus gimana? Sok sok jadi anak baik gitu? Ah itu buka gue entar jadinya :( jadi intinya sekrang gue belom nemuin jati diri gue gitu?
SUMPAH DILEMA BANGET
sekarang aja gue gatau lagi nulis apa.
Haha bego!
Cita cita gue sekarang pengen jadi pegawai bank, tapi itukan jatah nya anak IPS, gue mana bisa akuntansi. Lah ekonomi aja ga pernah dapet nilai diatas 8. Guru ekonomi aja udah afal banget muka gue kaya gimana. Udah pasti lah tiap ulangan ekonomi gue remedial mulu. Wkwk malu maluin. Maunya jadi penulis, pelukis, penari haha ga ada yg perlu pemikiran lebih banget cita cita gue haha tau ah :D gue jadi pusing sendiri. Intinya SECEPAT MUNGKIN GUE PENGEN PUNYA UANG SENDIRI. Mau ngajak mama jalan2 pake duit gue. Aaa gila impian banget. Semoga novel gue bisa diterima penerbit. Haha amin amin amin ya allah :)
Friday, 6 August 2010
Aku Menangis Mengingatmu, Ingat Kita, Ingat Masa Lalu
“…jadi elang yang aku sayang, sangat aku sayang :)”
Dan elang pun terbang berlalu meninggalkanku. Tanpa sedikitpun kata dari mulutnya. Aku tidak sedih karena aku tau ini yang akan terjadi, karena aku tahu elang.
@@@@@
Elang benar benar menuruti mau seya. Dia menghilang setelah pergi hari itu. sudah 3 musim berlalu dan seya tidak pernah melihat elang. Tidak ada yang tau ia ada dimana sekarang. Dan seyaa.. dia kerap merasa sesak didadanya jika mengingat elang. Perbedaan diantara mereka sudah menjadi tembok baja yang tidak mungkin dihancurkan dengan cinta mereka sekalipun.
Suatu hari ketika segerombolan burung merpati sedang berkumpul disebuah danau tua yang tersembunyi ditengah hutan, danau yang pertama kali membuat seya sadar betapa baiknya ode. Tiba tiba seekor merpati tua menghampiri seya, ia menyampaikan pesan dari seekor burung besar, ya siapa lagi kalau bukan elang. Elang berkata ia akan kembali dan seya harus menunggunya. Seya terkejut, wajahnya seketika memucat. Ode heran, kenapa seya begitu kaget mendengar pesan yang disampaikan si kakek tua tadi.
“siapa dia seya?” seya tersadar dari lamunannya. Mungkin ini saatnya ode tau
tentang elang.
“dia masa laluku ode”
“dia pergi kemana?”
“entah, aku yang menyuruhnya pergi”
ode sedikit bingung dengan pernyataan seya
“kenapa kau menyuruhnya pergi?”
“karena aku memilikimu” tatapan seya sekejap menjadi kosong, ia masih memikirkan
pesan elang yang disampaikan kakek tadi. Apa benar elang akan kembali? Hatinya sangat galau. Odepun hanya diam. Entah apa yang ada difikirannya. Siapapun tidak dapat menebak apa yang ode rasakan, malaikat itu hanya memfokuskan matanya pada genangan air danau yang hijau didapannya.
“kau masih mencintainya?”
Seya tersentak, tidak mungkin dia jujur dan mengatakan yang sesungguhnya. Itu akan menyakiti ode.
Akhirnya seya pergi, dan menangis. Ia tidak sanggup mengatakan kepada ode bahwa ia masih sangat mencintai elang.
Ode diam, tidak berusaha mengejar seya dan membiarkan seya pergi dengan hatinya yang galau saat itu.
@@@@@
Hari itupun tiba, elang kembali. Tidak bisa dipungkiri meskipun elang sangat dingin tapi dia bisa merindukan seya. Terlihat sekali dari caranya terbang menuju sarang seya, sepertinya elang sudah tak sanar untuk bertemu dengan merpati cantik itu.
“seya” panggil elang dengan nafas yang masih terengah engah karena terbang sangat jauh.
“kenapa kau kembali?” tanpa basa basi seya langsung bertanya pada elang, sambil menahan air matanya. Melihat elang membuat dada seya kembali terasa sesak.
“aku tidak akan pernah meninggalkanmu”
“tapi itu bukan permintaan, itu keputusanku. Kau harus menghargai itu.”
“apa ode sudah benar benar menggantikan aku dihatimu?”
“tidak perlu tahu, cepat pergi!!”
“...” Elang diam, dia tidak mau pergi, tiba tiba dia mendekat ke arah seya, dan memeluknya. Dan air mata seyapun akhirnya tumpah.
“kita berbeda lang, seharusnya kau ingat” sambil terisak seya tetap berusaha
mengelakkan perasaannya.
“aku tidak peduli mau kau merpati atau unta sekalipun”
Akhirnya seya luluh dan tenang di pelukan elang
@@@@@
“hey betinakuuu” panggil ode dari bawah pohon
“ada apa ode?”
“ayo kita ke danau”
“tunggu sebentar ya, aku akan segera turun”
Sesampainya disana, seperti biasa mereka berdua bermain, berputar mengelilingi danau dan singgah di batu besar dipinggir danau.
“seyaaa”
“ya ode?”
“aku ingin kau tahu sesuatu”
“apa itu?”
“aku cinta padamu, hahahahhaha” ode tertawa dan mengoyang goyangkan ekornya di wajah seya.
“haha ekormu jelek”
“hehe, kau lebih jelek”
Seya menunduk, mereka terdiam dan sama sama melamun.
“pergilah seya”
“kemana? bukankah kau yang mengajaku kesini”
“pergilah, temui elang, dan kembali padanya”
“TIDAK MAU”
“jangan membohongi dirimu sendiri”
“aku menyayangimu ode”
“tapi tidak mencintaiku, kau yang pergi atau aku yang akan pergi?” paksa ode
Lagi lagi seya diam, matanya mulai berkaca
Setelah sekian lama mereka hanya diam akhirnya ode pergi.. terbang meninggalkan seya
@@@@@
Semua tempat sudah didatanginya, tapi seya tetap tidak menemukan ode. Tubuhnya terlihat lusuh, entah sudah berapa kali ia tidak mandi, hatinya sakit. Namun itu bukan karena ode meninggalkannya. Tapi karena ia merasa menyakiti ode. Burung ia anggap malaikatnya.
Suatu hari seya memutuskan untuk ke hutan, mencari elang, agar semuanya jelas. seluruh hutan telah ia telusuri tapi tidak ada elang dimana mana. Seya mulai menyerah, tubuhnya sudang sangat lelah. Dia menganggap mungkin lebih baik seperti ini. Lalu seya pergi ke sungai, membasuh tubuhnya dengan air. Setelah itu ia pergi ke danau, tempat dimana hatinya bisa tenang.
“tuuuk” tiba tiba ada yang melemparkan batu ke sayap seya.
“aduuuhh, siapa itu?”
“hey bau sedang apa kau sendirian disini?” seya terkejut, dia sangat mengenali
suara itu. seya hanya menunduk, dia tidak sanggup untuk melihatnya.
“untuk apa kau kesini?”
“menemuimu”
“tahu dari mana kau aku ada disini?”
“aku tau segala hal tentang dirimu seya”
“elang..”
“ada apa?”
Bagaimana caranya agar kau tidak mencintaiku lagi?”
“haha pertanyaan bodoh”
“jawab!!”
“kau harus mati dulu baru aku mau mencintai burung lain, hahahahaaa”
“apa perlu aku mati?”
“coba saja kalau kau berani, dasar bauu :D”
Seyapun pergi meninggalkan danau itu, dia pergi ke hutan dan melahap habis sebuah jamur, ia tau jamur itu akan mematikannya. Tidak peduli rasanya enak atau tidak. Dia hanya ingin cepat cepat mati saat itu. beberapa saat kemudian elang pergi menyusul seya. Dia menelusuri hutan dan akhirnya menemukan seya tergeletak lemah di
atas tanah.
“seyyyaaaa!”
“elaang..” dengan suara yang hampir tidak terdengar, spertinya racun ditubuh seya
sudanh mulai bekerja dan menggerogoti tubuhnya.
“kau sangat bodoh!”
“yaa aku bodoh karena mencintaimu :’)”
“kenapa melakukan ini?”
“kau yang bilang akan berhenti mencintaiku jika aku mati, sampaikan salamku untuk
ode jika suatu saat kau bertemu dengannya, selamat tinggal elang”
Dan seketika nafas seya berhenti, elang hanya bisa ternganga melihat seya yang sudah tiada. Dia tidak menyangka seya akan melakukan itu.
@@@@@
“kau tahu seya, aku menangis mengingatmu, ingat kita, ingat masa lalu. Selamat tinggal merpati kecilku :’) aku tahu sebesar apapun cinta kita, kau tidak akan pernah menjadi milikku.
Itu sebabnya aku melakukan ini, selalu menjauh darimu, aku tidak mau membuat otakku berharap terlalu besar temntang apa yang tidak akan mungkin terjadi”
with ♥ elang
Dan elang pun terbang berlalu meninggalkanku. Tanpa sedikitpun kata dari mulutnya. Aku tidak sedih karena aku tau ini yang akan terjadi, karena aku tahu elang.
@@@@@
Elang benar benar menuruti mau seya. Dia menghilang setelah pergi hari itu. sudah 3 musim berlalu dan seya tidak pernah melihat elang. Tidak ada yang tau ia ada dimana sekarang. Dan seyaa.. dia kerap merasa sesak didadanya jika mengingat elang. Perbedaan diantara mereka sudah menjadi tembok baja yang tidak mungkin dihancurkan dengan cinta mereka sekalipun.
Suatu hari ketika segerombolan burung merpati sedang berkumpul disebuah danau tua yang tersembunyi ditengah hutan, danau yang pertama kali membuat seya sadar betapa baiknya ode. Tiba tiba seekor merpati tua menghampiri seya, ia menyampaikan pesan dari seekor burung besar, ya siapa lagi kalau bukan elang. Elang berkata ia akan kembali dan seya harus menunggunya. Seya terkejut, wajahnya seketika memucat. Ode heran, kenapa seya begitu kaget mendengar pesan yang disampaikan si kakek tua tadi.
“siapa dia seya?” seya tersadar dari lamunannya. Mungkin ini saatnya ode tau
tentang elang.
“dia masa laluku ode”
“dia pergi kemana?”
“entah, aku yang menyuruhnya pergi”
ode sedikit bingung dengan pernyataan seya
“kenapa kau menyuruhnya pergi?”
“karena aku memilikimu” tatapan seya sekejap menjadi kosong, ia masih memikirkan
pesan elang yang disampaikan kakek tadi. Apa benar elang akan kembali? Hatinya sangat galau. Odepun hanya diam. Entah apa yang ada difikirannya. Siapapun tidak dapat menebak apa yang ode rasakan, malaikat itu hanya memfokuskan matanya pada genangan air danau yang hijau didapannya.
“kau masih mencintainya?”
Seya tersentak, tidak mungkin dia jujur dan mengatakan yang sesungguhnya. Itu akan menyakiti ode.
Akhirnya seya pergi, dan menangis. Ia tidak sanggup mengatakan kepada ode bahwa ia masih sangat mencintai elang.
Ode diam, tidak berusaha mengejar seya dan membiarkan seya pergi dengan hatinya yang galau saat itu.
@@@@@
Hari itupun tiba, elang kembali. Tidak bisa dipungkiri meskipun elang sangat dingin tapi dia bisa merindukan seya. Terlihat sekali dari caranya terbang menuju sarang seya, sepertinya elang sudah tak sanar untuk bertemu dengan merpati cantik itu.
“seya” panggil elang dengan nafas yang masih terengah engah karena terbang sangat jauh.
“kenapa kau kembali?” tanpa basa basi seya langsung bertanya pada elang, sambil menahan air matanya. Melihat elang membuat dada seya kembali terasa sesak.
“aku tidak akan pernah meninggalkanmu”
“tapi itu bukan permintaan, itu keputusanku. Kau harus menghargai itu.”
“apa ode sudah benar benar menggantikan aku dihatimu?”
“tidak perlu tahu, cepat pergi!!”
“...” Elang diam, dia tidak mau pergi, tiba tiba dia mendekat ke arah seya, dan memeluknya. Dan air mata seyapun akhirnya tumpah.
“kita berbeda lang, seharusnya kau ingat” sambil terisak seya tetap berusaha
mengelakkan perasaannya.
“aku tidak peduli mau kau merpati atau unta sekalipun”
Akhirnya seya luluh dan tenang di pelukan elang
@@@@@
“hey betinakuuu” panggil ode dari bawah pohon
“ada apa ode?”
“ayo kita ke danau”
“tunggu sebentar ya, aku akan segera turun”
Sesampainya disana, seperti biasa mereka berdua bermain, berputar mengelilingi danau dan singgah di batu besar dipinggir danau.
“seyaaa”
“ya ode?”
“aku ingin kau tahu sesuatu”
“apa itu?”
“aku cinta padamu, hahahahhaha” ode tertawa dan mengoyang goyangkan ekornya di wajah seya.
“haha ekormu jelek”
“hehe, kau lebih jelek”
Seya menunduk, mereka terdiam dan sama sama melamun.
“pergilah seya”
“kemana? bukankah kau yang mengajaku kesini”
“pergilah, temui elang, dan kembali padanya”
“TIDAK MAU”
“jangan membohongi dirimu sendiri”
“aku menyayangimu ode”
“tapi tidak mencintaiku, kau yang pergi atau aku yang akan pergi?” paksa ode
Lagi lagi seya diam, matanya mulai berkaca
Setelah sekian lama mereka hanya diam akhirnya ode pergi.. terbang meninggalkan seya
@@@@@
Semua tempat sudah didatanginya, tapi seya tetap tidak menemukan ode. Tubuhnya terlihat lusuh, entah sudah berapa kali ia tidak mandi, hatinya sakit. Namun itu bukan karena ode meninggalkannya. Tapi karena ia merasa menyakiti ode. Burung ia anggap malaikatnya.
Suatu hari seya memutuskan untuk ke hutan, mencari elang, agar semuanya jelas. seluruh hutan telah ia telusuri tapi tidak ada elang dimana mana. Seya mulai menyerah, tubuhnya sudang sangat lelah. Dia menganggap mungkin lebih baik seperti ini. Lalu seya pergi ke sungai, membasuh tubuhnya dengan air. Setelah itu ia pergi ke danau, tempat dimana hatinya bisa tenang.
“tuuuk” tiba tiba ada yang melemparkan batu ke sayap seya.
“aduuuhh, siapa itu?”
“hey bau sedang apa kau sendirian disini?” seya terkejut, dia sangat mengenali
suara itu. seya hanya menunduk, dia tidak sanggup untuk melihatnya.
“untuk apa kau kesini?”
“menemuimu”
“tahu dari mana kau aku ada disini?”
“aku tau segala hal tentang dirimu seya”
“elang..”
“ada apa?”
Bagaimana caranya agar kau tidak mencintaiku lagi?”
“haha pertanyaan bodoh”
“jawab!!”
“kau harus mati dulu baru aku mau mencintai burung lain, hahahahaaa”
“apa perlu aku mati?”
“coba saja kalau kau berani, dasar bauu :D”
Seyapun pergi meninggalkan danau itu, dia pergi ke hutan dan melahap habis sebuah jamur, ia tau jamur itu akan mematikannya. Tidak peduli rasanya enak atau tidak. Dia hanya ingin cepat cepat mati saat itu. beberapa saat kemudian elang pergi menyusul seya. Dia menelusuri hutan dan akhirnya menemukan seya tergeletak lemah di
atas tanah.
“seyyyaaaa!”
“elaang..” dengan suara yang hampir tidak terdengar, spertinya racun ditubuh seya
sudanh mulai bekerja dan menggerogoti tubuhnya.
“kau sangat bodoh!”
“yaa aku bodoh karena mencintaimu :’)”
“kenapa melakukan ini?”
“kau yang bilang akan berhenti mencintaiku jika aku mati, sampaikan salamku untuk
ode jika suatu saat kau bertemu dengannya, selamat tinggal elang”
Dan seketika nafas seya berhenti, elang hanya bisa ternganga melihat seya yang sudah tiada. Dia tidak menyangka seya akan melakukan itu.
@@@@@
“kau tahu seya, aku menangis mengingatmu, ingat kita, ingat masa lalu. Selamat tinggal merpati kecilku :’) aku tahu sebesar apapun cinta kita, kau tidak akan pernah menjadi milikku.
Itu sebabnya aku melakukan ini, selalu menjauh darimu, aku tidak mau membuat otakku berharap terlalu besar temntang apa yang tidak akan mungkin terjadi”
with ♥ elang
T A M A T
Tuesday, 3 August 2010
Aku Seya, Merpati yang Kuat
“sudah jangan menangis, bisa apa kita? Kau elang, sedang aku hanya seekor merpati” sembari aku mendekatinya. Haha bodohnya aku berharap dia akan merangkulku dengan sayap lebarnya. Elang, aku tahu dia tidak akan melakukannya. Dia justru membuang mukanya dari hadapanku.
“kenapa kau selalu seprti ini elang?”
“seperti ini bagaimana seya?”
“”sifatmu aneh, bahkan aku ragu kau benar benar mencintaiku”
Elang diam, lagi
“kenapa baru sekarang kau datang? Setelah aku sudah bersama ode”
Elang tetap diam. Andai kau tau elang ini sangat terasa sakit
“maafkan aku seya, aku akan berubah”
“berubah untuk apa? Sudah terlambat lang. aku tak mungkin meninggalkan ode.”
“Aku akan menunggu seya..”
“sampai kapan?”
“sampai kau mau bersamaku lagi”
“elang..”
“ya?”
“maafkan aku :( “
“tidak perlu seya, ini kesalahanku”
Elang memelukku, hangat sekali.
@@@@@
Hari itu berlalu, aku dan ode tetap baik baik saja. Setiap hari aku mencari makan bersamanya. Ia selalu menemaniku, melindungiku. Bahkan dia tau jika aku sedang tidak ingin didekatnya. Dia tak pernah muncul dihadapanku setiap aku merasakan itu. Ode seperti malaikat.
“seyaaa. Kenapa melamun?”
Eh kau ode. Tidak, aku hanya sedang berfikir”
“memikirkan apa?”
“kau :)”
“aku?”
“yaa kau sayang” sambil mengedipkan sebelah mataku
“haha bisa saja kau seya :D , kau sudah makan?”
“belum, ayo kita ke belakang bukit disana, kemarin aku melihat banyak makanan”
“ayo aku juga sudah lapar” dengan semangat nya ode menggiringku agar cepat terbang
“ayo seya.. kamu lama sekali” sambil memeletkan lidahnya ke arahku.
“tunggu aku, heeyyy!!”
Kami tertawa.. aku suka tawanya. Renyah di telingaku. ode.. aku menyayangimu.
Sesaat terpintas di otakku, kapan aku bisa seperti ini bersama elang.
Mungkin burung lain menganggap aku jahat karena mencintai elang di belakang ode. Siapapun tidak akan mau peduli aku tidak pernah merencanakan perasaan seperti ini. Aku tidak pernah ingin menyakiti ode, malaikatku. Tapi aku menyayangi elang. Ya tuhan, bolehkan aku memohon untuk tidak mencintai keduanya?
@@@@@
Ode sakit parah. Aku panik, aku mencari obat kesana kemari, tapi tidak menemukannya. Aku ingat ibu pernah bilang ada tumbuhan untuk mengobati semua penyakit dihutan. Dan itu tempat biasa elang bermain bersama teman temannya.
Akhirnya aku memutuskan untuk pergi ke hutan, mencari obat untuk ode. Aku berharap dapat bertemu dengan elang, sudah seminggu tidak bertemu dengannya, Setelah kejadian waktu itu. Aku bingung apa yang dimaksud dengan janjinya untuk berubah, aku sama sekali tidak melihat perubahan pada dirinya.
Aku melihatnya, melihat elang bersama teman temannya.
“elang”
“elang”
“elang”
Berkali kali aku memanggilnya elang tetap tidak menjawab, mungki suara ku terlalu kecil. Tapi tidak, dia melihatku. Kami sempat bertatap mata.
“e...” belum sempat aku memanggilnya lagi, elang sudah berlalu pergi. Aku tidak ingin berfikir apa apa lagi tentang elang. Mungkin dia memang tidak melihatku. Dan sekarang aku harus meneruskantujuanku untuk mencari obat. Ode kau harus sembuh, aku akan mencari obat untukmu sampai dapat, aku tidak mau kehilangan malaikat sperti kau.
Setelah berjam jam aku mengelilingi hutan akhirnya aku mendapatkan obat itu, dan bergegas ke sarang ode. Aku akan merawat ode sampai ia sembuh, aku berjanji.
@@@@@
Ini sudah sebulan setelah elang memelukku, aku masih ingat saat itu dia berjanji untuk berubah. Yaa dia memang telah berubah, semakin jauh. Kami sering bersama dalah satu hutan, tapi dia tidak pernah mau melihatku. Elang selalu terbang setiap aku mencoba menghampirinya. Itu sudah berkali kali bahkan hamper setiap aku sengaja datang menghampirinya ke hutan. Hanya sekali dia menyambut kedatanganku, itupun karena aku membawakannya makanan. Yang membuatku sedih bukanlah sikap elang pada ku, tapi ketidakpastian yang sejak dulu aku terima darinya. Mungkin ini juga salahku yang telah menghadirkan ode diantara kami.
Suatu hari elang mengunjungiku ke sarang, dia mengajakku kehutan. Aku ragu, apakah benar ini elang?
“elang…” aku memulai suara agar elang mau bicara
“aku merindukanmu..”
“aku juga seya”
“kenapa kau selalu menghindariku?”
“saat itu aku sedang sibuk”
“sampai melihatku saja kamu tidak mau?”
“tidak begitu”
“sudahlah, aku tau”
“kau tau apa?”
“aku tau dirimu”
@@@@@
Seharian kami bersama tapi elang hanya mengeluarkan sedikit sekali suaranya. Dia lebih sering diam seperti burung yang gagu.
“ada yang ingin aku katakan elang”
“katakan saja”
“sudah lama lang aku ingin mengatakan ini, aku sempat berfikir untuk meninggalkan ode dan memilih untuk bersamamu. Tapi yang aku rasakan membuat aku berfikir dua kali untuk melakukannya, ode seperti malaikat untukku. Dan aku menyayanginya. Dan kamu yang membuat aku semakin menyadarinya. Aku berharap ini hanya perasaanku saja, entah kenapa kau selalu menghindar dari ku. Aku tahu kau tau aku selalu menghampirimu ke hutan, tapi kau selalu pergi, setelah melihatku. Aku merasa kau tidak peduli padaku, itu yang membuat aku mnerima ode di sisiku. Maaf kalau kau menganggap aku berlebihan. Kalau aku boleh memilih untuk menjadi temanmu, aku kaan memilih itu saja. Aku iri pada teman temanmu, aku iri bisa sebegitu kenalnya dengan kau elang.
Kau hanya mencintaiku, tidak menyayangiku. Dan aku tetap tidak mengerti caramu mencintaiku. Mungkin aku akan menyesal, tapi aku lelah, tinggalkan aku elang, tinggalkan aku yang jauh. Terimakasih karna kau sudah pernah mencintaiku, tempatmu dihatiku tidak aka nada yang menggantikan elang, tetap disitu,jadi elang yang aku syang. Sangat aku sayang :’) ”
Dan elang pun terbang berlalu meninggalkanku. Tanpa sedikitpun kata dari mulutnya. aku tidak sedih, karena aku tau ini yang akan terjadi. karena aku tahu elang.
“kenapa kau selalu seprti ini elang?”
“seperti ini bagaimana seya?”
“”sifatmu aneh, bahkan aku ragu kau benar benar mencintaiku”
Elang diam, lagi
“kenapa baru sekarang kau datang? Setelah aku sudah bersama ode”
Elang tetap diam. Andai kau tau elang ini sangat terasa sakit
“maafkan aku seya, aku akan berubah”
“berubah untuk apa? Sudah terlambat lang. aku tak mungkin meninggalkan ode.”
“Aku akan menunggu seya..”
“sampai kapan?”
“sampai kau mau bersamaku lagi”
“elang..”
“ya?”
“maafkan aku :( “
“tidak perlu seya, ini kesalahanku”
Elang memelukku, hangat sekali.
@@@@@
Hari itu berlalu, aku dan ode tetap baik baik saja. Setiap hari aku mencari makan bersamanya. Ia selalu menemaniku, melindungiku. Bahkan dia tau jika aku sedang tidak ingin didekatnya. Dia tak pernah muncul dihadapanku setiap aku merasakan itu. Ode seperti malaikat.
“seyaaa. Kenapa melamun?”
Eh kau ode. Tidak, aku hanya sedang berfikir”
“memikirkan apa?”
“kau :)”
“aku?”
“yaa kau sayang” sambil mengedipkan sebelah mataku
“haha bisa saja kau seya :D , kau sudah makan?”
“belum, ayo kita ke belakang bukit disana, kemarin aku melihat banyak makanan”
“ayo aku juga sudah lapar” dengan semangat nya ode menggiringku agar cepat terbang
“ayo seya.. kamu lama sekali” sambil memeletkan lidahnya ke arahku.
“tunggu aku, heeyyy!!”
Kami tertawa.. aku suka tawanya. Renyah di telingaku. ode.. aku menyayangimu.
Sesaat terpintas di otakku, kapan aku bisa seperti ini bersama elang.
Mungkin burung lain menganggap aku jahat karena mencintai elang di belakang ode. Siapapun tidak akan mau peduli aku tidak pernah merencanakan perasaan seperti ini. Aku tidak pernah ingin menyakiti ode, malaikatku. Tapi aku menyayangi elang. Ya tuhan, bolehkan aku memohon untuk tidak mencintai keduanya?
@@@@@
Ode sakit parah. Aku panik, aku mencari obat kesana kemari, tapi tidak menemukannya. Aku ingat ibu pernah bilang ada tumbuhan untuk mengobati semua penyakit dihutan. Dan itu tempat biasa elang bermain bersama teman temannya.
Akhirnya aku memutuskan untuk pergi ke hutan, mencari obat untuk ode. Aku berharap dapat bertemu dengan elang, sudah seminggu tidak bertemu dengannya, Setelah kejadian waktu itu. Aku bingung apa yang dimaksud dengan janjinya untuk berubah, aku sama sekali tidak melihat perubahan pada dirinya.
Aku melihatnya, melihat elang bersama teman temannya.
“elang”
“elang”
“elang”
Berkali kali aku memanggilnya elang tetap tidak menjawab, mungki suara ku terlalu kecil. Tapi tidak, dia melihatku. Kami sempat bertatap mata.
“e...” belum sempat aku memanggilnya lagi, elang sudah berlalu pergi. Aku tidak ingin berfikir apa apa lagi tentang elang. Mungkin dia memang tidak melihatku. Dan sekarang aku harus meneruskantujuanku untuk mencari obat. Ode kau harus sembuh, aku akan mencari obat untukmu sampai dapat, aku tidak mau kehilangan malaikat sperti kau.
Setelah berjam jam aku mengelilingi hutan akhirnya aku mendapatkan obat itu, dan bergegas ke sarang ode. Aku akan merawat ode sampai ia sembuh, aku berjanji.
@@@@@
Ini sudah sebulan setelah elang memelukku, aku masih ingat saat itu dia berjanji untuk berubah. Yaa dia memang telah berubah, semakin jauh. Kami sering bersama dalah satu hutan, tapi dia tidak pernah mau melihatku. Elang selalu terbang setiap aku mencoba menghampirinya. Itu sudah berkali kali bahkan hamper setiap aku sengaja datang menghampirinya ke hutan. Hanya sekali dia menyambut kedatanganku, itupun karena aku membawakannya makanan. Yang membuatku sedih bukanlah sikap elang pada ku, tapi ketidakpastian yang sejak dulu aku terima darinya. Mungkin ini juga salahku yang telah menghadirkan ode diantara kami.
Suatu hari elang mengunjungiku ke sarang, dia mengajakku kehutan. Aku ragu, apakah benar ini elang?
“elang…” aku memulai suara agar elang mau bicara
“aku merindukanmu..”
“aku juga seya”
“kenapa kau selalu menghindariku?”
“saat itu aku sedang sibuk”
“sampai melihatku saja kamu tidak mau?”
“tidak begitu”
“sudahlah, aku tau”
“kau tau apa?”
“aku tau dirimu”
@@@@@
Seharian kami bersama tapi elang hanya mengeluarkan sedikit sekali suaranya. Dia lebih sering diam seperti burung yang gagu.
“ada yang ingin aku katakan elang”
“katakan saja”
“sudah lama lang aku ingin mengatakan ini, aku sempat berfikir untuk meninggalkan ode dan memilih untuk bersamamu. Tapi yang aku rasakan membuat aku berfikir dua kali untuk melakukannya, ode seperti malaikat untukku. Dan aku menyayanginya. Dan kamu yang membuat aku semakin menyadarinya. Aku berharap ini hanya perasaanku saja, entah kenapa kau selalu menghindar dari ku. Aku tahu kau tau aku selalu menghampirimu ke hutan, tapi kau selalu pergi, setelah melihatku. Aku merasa kau tidak peduli padaku, itu yang membuat aku mnerima ode di sisiku. Maaf kalau kau menganggap aku berlebihan. Kalau aku boleh memilih untuk menjadi temanmu, aku kaan memilih itu saja. Aku iri pada teman temanmu, aku iri bisa sebegitu kenalnya dengan kau elang.
Kau hanya mencintaiku, tidak menyayangiku. Dan aku tetap tidak mengerti caramu mencintaiku. Mungkin aku akan menyesal, tapi aku lelah, tinggalkan aku elang, tinggalkan aku yang jauh. Terimakasih karna kau sudah pernah mencintaiku, tempatmu dihatiku tidak aka nada yang menggantikan elang, tetap disitu,jadi elang yang aku syang. Sangat aku sayang :’) ”
Dan elang pun terbang berlalu meninggalkanku. Tanpa sedikitpun kata dari mulutnya. aku tidak sedih, karena aku tau ini yang akan terjadi. karena aku tahu elang.
Tuesday, 20 July 2010
kau elang, sedang aku hanya seekor merpati
“heey bau, sedang apa kau disana?” dari jauh aku mendengar suara yang tidak asing, yaa begitulah si jantan itu memanggilku. Aku sangat benci dia memanggilku begitu, sungguh aku tidak bau. Tapi dia terus memanggilku dengan sebutan itu. sial tapi sayangnya aku tidak bisa marah. Aku sungguh sangat mencintainya. “kenapa kau terus memanggilku bau? Sadarlah kau juga bau. Coba lihat itu sayapmu sangat kotor. Kau jarang mandi ha?” godaku dengan terus menggoyang goyangkan ekorku dan mengibaskan di wajahnya. “justru aku sengaja tidak mandi untukmu, kau mau aku terlihat tampan dan membuat betina betina lain tergoda padaku? Apa kau rela?” “ya tentu saja tidak dasar jorok, tapi tidak harus dengan caramu yang jarang mandi, jangan dekati aku sebelum kau mandi.” Aku langsung meninggalkannya. Terbang ke selatan dan menjauhinya. Taruhan denganku, lima detik setelah aku pergi dia pasti langsung mandi.
@@@@@
“tuk” yeeeaahh akhirnya batu yang kelima itu berhasil mengenai paruhnya. “hey kau elang” matanya mencari cari asal suaraku. “iya kau yang disana” aku memutuskan untuk menampakkan tubuhku dihadapannya. Terlihat ia begitu malas bertemu denganku. “ehh kau, aku kira siapa yang berani menimpukku dengan batu itu” sapa nya dengan sangat dingin. “kemana saja kau selama ini?” aku protes karena hampir dua bulan tidak mendengarnya memanggilku bau. “aku terbang, kau pasti sudah tau itu. kenapa bertanya lagi?” “kenapa tidak pernah mengunjungiku? Tidak pentingkah bagimu untuk mengetahui kabarku?” tanpa menjawabku burung angkuh itu melesat pergi meninggalkan aku. “HEEEEYYY AKU SANGAT MEMBENCIMU! KAU DENGARRRRR? SANGAT MEMBENCIMU!!”
@@@@@
“Aaaaaaaaaaaaaaa aaarrwwgggzsdpefbdjbkklflfr, aaa sakit sekaliiiiii” aku tidak sengaja menabrak sebuah pohon, sepertinya sayapku patah. Ahhh betapa bodohnya aku. Apa yang harus aku lakukan sekarang, aku tidak mampu untuk terbang lagi. Sayapku sangat sakit. Dan sepertinya langit akan menangis. Yaa tuhan aku berharap malaikat datang sekarang. Setidaknya untuk menemaniku saja. Aku takut sendirian :’(
....
“Haiii, haloo” tiba tiba seekor merpati jantan menghampiriku. Yaatuhan terimakasih kau mengirimkan seekor teman untukku.
“sedang apa seekor betina sendiri di tengah hutan seperti ini?” tanyanya heran
“aku terjatuh tadi, dan sayapku patah. Aku tidak bisa pergi dari sini. Bagaimana denganmu? Sedang apa kau disini? Bukankah hari sedang hujan?”
“aku sedang berteduh di bawah pohon besar disana. Dan aku melihatmu. Boleh aku menemanimu?”
“terimakasih :)”
“boleh aku lihat lukamu?”
Aku sedikit membuka sayapku yang patah dan memperlihatkan nya kepada merpati jantan itu. dia membuatku lebih baik. Dan sepertinya perlahan sakitku mulai hilang. seandainya burung bisa tersenyum, aku ingin tersenyum pada malaikatku ini.
@@@@@
“sepertinya hujan sudah berhenti, pulanglah ke sarangmu”
“syukurlah, terimakasih sudah menemaniku”
“sama sama, boleh aku tau namamu?”
“namaku seya, selamat tinggal” dan aku pergi. Kulihat dia sedikit melambaikan tangannya.
@@@@@
Sudah cukup jauh hari ini aku terbang. elang sudah benar benar menghilang. Sejauh ini aku tidak pernah melihatnya lagi. Yaa aku menyerah mungkin ini yang kau inginkan. Aku tau, aku sangat tau kau mencintaiku. Tapi mencintaiku dengan caramu yang tidak aku mengerti. Aku lelah menunggu hal yang tidak akan pasti. Selamat tinggal.
@@@@@
Pagi yang cerah, “seyaaaaaaa” saat aku sedang asik jalan jalan melawan angin, tiba tiba ada yang memanggil namaku. “heey kau, kita bertemu lagi. Siapa namamu? Maaf waktu itu aku tidak sempat menanyakannya.” “kau bisa panggil aku ode” “oh baiklah :)” akhirnya kami terbang bersama. Ode mengajakku ketempat yang belum pernah aku datangi sebelumnya. Sebuah batu ditengah danau.
“kenapa kau mengajakku ketempat seperti ini?”
“coba kau lihat tempat ini seya”
“lalu?”
“tempat ini seperti kau”
“kenapa?”
“membuat aku tenang”
Setiap hari kami seperti ini, bermain, dan terbang bersama. Dan tahukaah aku mulai mencintainya. Dia menganggap aku spesial dari burung burung lainnya. Bahkan bersedia menjadi pengganti sayapku yang patah.
@@@@@
“seya” dadaku tersentak mendengar suara itu.
“elang”
“siapa dia?” Tanya elang tanpa melihat mataku
“dia kekasihku”
“kenapa?”
“aku lelah menunggumu”
“baiklah, aku mudur.”
“hey bodoh kenapa kau baru muncul? Kemana saja selama ini?”
“aku ada. Kau saja yang tidak melihat”
“bodoh”
“kau tau aku ini mencintaimu,”
“lalu?”
“....”
“itu saja tidak cukup, bersikaplah dengan baik kepadaku. Tidak seperti ini”
“....”
“....”
“ada lagi yang ingin kau katakan? Kalau tidak aku akan pergi. Bahagialah denngan merpati jantan itu”
“aku mencintaimu elang, masih sangat mencintaimu”
“jangan mencintai dua hati skealigus, aku pergi. Aku sedang ingin sendiri” elang pun mengibaskan sayapnya menjauhiku.
“tunggu elang” aku mengejarnya. Meskipun sayapku tak sekokoh miliknya.
“untuk apa kau menghampiriku?”
“hanya seginikah?”
“ya” dan dengan cepat dia pergi. Tentu saja aku tidak akan mampu mengejarnya. akhirnya aku turun ke darat dan merelakannya pergi.
....
“aku tidak bisa” tiba tiba elang datang dari belakang.
“kenapa kau datang lagi. tidak bisa apa?”
“jauh darimu”
“:)”
Kami diam. Berharap tidak ada siapa siapa lagi setelah ini. Selama ini perbedaanlah yang membuat aku dan dia tidak bisa bersatu. Elaaaanggg aku sungguh tidak rela kau bersama siapa pun. Aku lihat air matanya sedikit menetes. Aku tahu dia memikirkan hal yang sama.
“sudah jangan menangis, bisa apa kita? KAU ELANG, SEDANG AKU HANYA SEEKOR MERPATI”
@@@@@
“tuk” yeeeaahh akhirnya batu yang kelima itu berhasil mengenai paruhnya. “hey kau elang” matanya mencari cari asal suaraku. “iya kau yang disana” aku memutuskan untuk menampakkan tubuhku dihadapannya. Terlihat ia begitu malas bertemu denganku. “ehh kau, aku kira siapa yang berani menimpukku dengan batu itu” sapa nya dengan sangat dingin. “kemana saja kau selama ini?” aku protes karena hampir dua bulan tidak mendengarnya memanggilku bau. “aku terbang, kau pasti sudah tau itu. kenapa bertanya lagi?” “kenapa tidak pernah mengunjungiku? Tidak pentingkah bagimu untuk mengetahui kabarku?” tanpa menjawabku burung angkuh itu melesat pergi meninggalkan aku. “HEEEEYYY AKU SANGAT MEMBENCIMU! KAU DENGARRRRR? SANGAT MEMBENCIMU!!”
Dasar bodoh, kapan kau mau menganggapku ada? Aku sangat mencintaimu elang. Tapi sayangnya, aku mencintaimu dengan sangat sejati, bahkan aku tidak peduli bagaimana kau memperlakukan aku. Yang aku ingat kau sering mengatakan hal itu, yaa memang, cinta itu tidak harus memiliki. Tapi apa kau tau, jauh didalam aku sungguh ingin memilikimu, dengan utuh.
@@@@@
“Aaaaaaaaaaaaaaa aaarrwwgggzsdpefbdjbkklflfr, aaa sakit sekaliiiiii” aku tidak sengaja menabrak sebuah pohon, sepertinya sayapku patah. Ahhh betapa bodohnya aku. Apa yang harus aku lakukan sekarang, aku tidak mampu untuk terbang lagi. Sayapku sangat sakit. Dan sepertinya langit akan menangis. Yaa tuhan aku berharap malaikat datang sekarang. Setidaknya untuk menemaniku saja. Aku takut sendirian :’(
....
“Haiii, haloo” tiba tiba seekor merpati jantan menghampiriku. Yaatuhan terimakasih kau mengirimkan seekor teman untukku.
“sedang apa seekor betina sendiri di tengah hutan seperti ini?” tanyanya heran
“aku terjatuh tadi, dan sayapku patah. Aku tidak bisa pergi dari sini. Bagaimana denganmu? Sedang apa kau disini? Bukankah hari sedang hujan?”
“aku sedang berteduh di bawah pohon besar disana. Dan aku melihatmu. Boleh aku menemanimu?”
“terimakasih :)”
“boleh aku lihat lukamu?”
Aku sedikit membuka sayapku yang patah dan memperlihatkan nya kepada merpati jantan itu. dia membuatku lebih baik. Dan sepertinya perlahan sakitku mulai hilang. seandainya burung bisa tersenyum, aku ingin tersenyum pada malaikatku ini.
@@@@@
“sepertinya hujan sudah berhenti, pulanglah ke sarangmu”
“syukurlah, terimakasih sudah menemaniku”
“sama sama, boleh aku tau namamu?”
“namaku seya, selamat tinggal” dan aku pergi. Kulihat dia sedikit melambaikan tangannya.
@@@@@
Sudah cukup jauh hari ini aku terbang. elang sudah benar benar menghilang. Sejauh ini aku tidak pernah melihatnya lagi. Yaa aku menyerah mungkin ini yang kau inginkan. Aku tau, aku sangat tau kau mencintaiku. Tapi mencintaiku dengan caramu yang tidak aku mengerti. Aku lelah menunggu hal yang tidak akan pasti. Selamat tinggal.
@@@@@
Pagi yang cerah, “seyaaaaaaa” saat aku sedang asik jalan jalan melawan angin, tiba tiba ada yang memanggil namaku. “heey kau, kita bertemu lagi. Siapa namamu? Maaf waktu itu aku tidak sempat menanyakannya.” “kau bisa panggil aku ode” “oh baiklah :)” akhirnya kami terbang bersama. Ode mengajakku ketempat yang belum pernah aku datangi sebelumnya. Sebuah batu ditengah danau.
“kenapa kau mengajakku ketempat seperti ini?”
“coba kau lihat tempat ini seya”
“lalu?”
“tempat ini seperti kau”
“kenapa?”
“membuat aku tenang”
Setiap hari kami seperti ini, bermain, dan terbang bersama. Dan tahukaah aku mulai mencintainya. Dia menganggap aku spesial dari burung burung lainnya. Bahkan bersedia menjadi pengganti sayapku yang patah.
@@@@@
“seya” dadaku tersentak mendengar suara itu.
“elang”
“siapa dia?” Tanya elang tanpa melihat mataku
“dia kekasihku”
“kenapa?”
“aku lelah menunggumu”
“baiklah, aku mudur.”
“hey bodoh kenapa kau baru muncul? Kemana saja selama ini?”
“aku ada. Kau saja yang tidak melihat”
“bodoh”
“kau tau aku ini mencintaimu,”
“lalu?”
“....”
“itu saja tidak cukup, bersikaplah dengan baik kepadaku. Tidak seperti ini”
“....”
“....”
“ada lagi yang ingin kau katakan? Kalau tidak aku akan pergi. Bahagialah denngan merpati jantan itu”
“aku mencintaimu elang, masih sangat mencintaimu”
“jangan mencintai dua hati skealigus, aku pergi. Aku sedang ingin sendiri” elang pun mengibaskan sayapnya menjauhiku.
“tunggu elang” aku mengejarnya. Meskipun sayapku tak sekokoh miliknya.
“untuk apa kau menghampiriku?”
“hanya seginikah?”
“ya” dan dengan cepat dia pergi. Tentu saja aku tidak akan mampu mengejarnya. akhirnya aku turun ke darat dan merelakannya pergi.
....
“aku tidak bisa” tiba tiba elang datang dari belakang.
“kenapa kau datang lagi. tidak bisa apa?”
“jauh darimu”
“:)”
Kami diam. Berharap tidak ada siapa siapa lagi setelah ini. Selama ini perbedaanlah yang membuat aku dan dia tidak bisa bersatu. Elaaaanggg aku sungguh tidak rela kau bersama siapa pun. Aku lihat air matanya sedikit menetes. Aku tahu dia memikirkan hal yang sama.
“sudah jangan menangis, bisa apa kita? KAU ELANG, SEDANG AKU HANYA SEEKOR MERPATI”
Wednesday, 14 July 2010
pelangi ♥
Ada sesuatu yang sakit, ini tentang cinta. Ya lagi lagi cinta. Kemayaan yang kerap membuat air mata tidak jatuh, namun selalu membasahi mataku. setiap aku membaca sebuah prosa. Sebuah konotasi yang sesungguhnya aku yakini nyata.
Dan rasa yang sering menusuk tenggorokannku, seperti sebuah racun yang sangat manis ketika menghampiri lidah. Rasa yang menipuku untuk nekat merasakan itu lebih dalam hingga akhirnya itu membuat dadaku terasa sesak dan ingin merasakan sesuatu yang lebih dari sakitnya kematian. Meskipun aku sangat sadar bahwa kesakitan itu yang telah memberiku bahagia.
Lebih dari itu aku sungguh sudah mematikan rasa yang dulu telah mengindahkan hidup ku. Menghapus semua yang hitam dan menulis apa yang aku anggap putih, membisukan bibirku, memaksa lidahku tetap tenang di dalamnya. Dan aku biarkan tinta itu tetap berwarna putih. Karena aku ingin menyembunyikannya diatas kertas ku.
Dan rasa yang sering menusuk tenggorokannku, seperti sebuah racun yang sangat manis ketika menghampiri lidah. Rasa yang menipuku untuk nekat merasakan itu lebih dalam hingga akhirnya itu membuat dadaku terasa sesak dan ingin merasakan sesuatu yang lebih dari sakitnya kematian. Meskipun aku sangat sadar bahwa kesakitan itu yang telah memberiku bahagia.
Lebih dari itu aku sungguh sudah mematikan rasa yang dulu telah mengindahkan hidup ku. Menghapus semua yang hitam dan menulis apa yang aku anggap putih, membisukan bibirku, memaksa lidahku tetap tenang di dalamnya. Dan aku biarkan tinta itu tetap berwarna putih. Karena aku ingin menyembunyikannya diatas kertas ku.
dan mencoba jutaan warna lainnya untuk menulis tentang kita, AKMAL DWI NUZULIN ♥
Wednesday, 30 June 2010
wekksss :'D
Terlahir dalam keadaan keluarga yang seperti ini murni memang bukan mauku. Yang aku tahu, tuhan tidak akan mencoba kecuali aku tak mampu. Tapi mama, sudah cukup aku melihatnya menderita. Menangispun sepertinya aku sudah lelah. Maafkan aku ya tuhan, kadang aku melupakan kebesaranmu. Aku hanya ingin cepat cepat keluar dari drama ini.
Banyak yang bilang aku tegar dan mandiri, hahaaa asal kalian tahu teman, terperangkap begitu lama yang membuat aku begitu. Justru aku iri dengan kalian. Aku sangat benci bila waktu liburan tiba. Yaaa lagi- lagi berbeda dengan kalian. Meskipun mama juga ikut libur saaat liburanku datang, kesibukan tetap menyelimutinya. Entah, tapi menurutku sebenarnya ia punya banyak waktu bersamaku dan adikku. Mungkin karna mama jenuh melihat keadaan yang tak kunjung ada perubahan, sampai sampai harus mencari hiburan sendiri diluar. Biarlah, biar mama bahagia tertawa bersama teman temannya.
Aku semakin benci untuk tahu bahwa liburanku sudah habis, bukan karena aku tak mau sekolah. Tapi aku belum mempersiapkan cerita liburan apa yang harus aku ceritakan ketika teman-teman mulai bercerita liburan mereka bersama keluarga. Entah itu pergi berenang, ke kampung halaman mereka, ataupun bersenang senang bersama sepupu-sepupu mereka. Sungguh saat itu ingin rasanya aku tak mau tahu dan pergi meninggalkan mereka yang sedang berbagi cerita. Tapi aku tak punya alasan untuk pergi. Aku hanya bisa ikut tertawa menutupi rasa malu, karena hanya aku yang tak punya cerita.
Aku ingat, saat itu salah seorang temanku memuji-muji ayahnya yang hebat. Ayah yang bekerja siang malam, tapi masih ada waktu untuk menghilangkan kejenuhan anak-anaknya selama disekolah dan menghabisakan weekend mereka bersama. Lagi-lagi aku hanya bisa menahan air mataku. andai papaku juga seperti itu. Tapi aku kembali menarik pipiku, sedikit tawa tak apalah. Dan mereka juga harus tahu, mamaku bahkan lebih hebat dari itu.
Untuk menangispun aku takut, takut menyakiti mama bila melihatnya, karena aku tahu, Senyumku yang membuat mama masih bertahan hingga saat ini. Padahal hanya dengan menangis aku bisa sedikit bahagia, aku meyakini bebanku ikut mengalir bersama air-air itu. Ya semua demi mama.. aku rela menyakiti diriku sendiri.
Saat teman teman sepermainanku sedang sibuk mencari cara untuk menyenangkan kekasih mereka masing masing, yang aku lakukan adalah mencari cara untuk membuat mama bangga, bagaimana membuktikan pada semua orang bahwa aku bukan anak broken home. Aku bisa mendapatkan apa yang aku inginkan seorang diri. Aku ingin mendapat pengakuan dari orang-orang yang sebelumnya meremehkanku. Membuat mereka malu telah mengolok-olok mama. Mencari cara mewujudkan obsesiku untuk menjadi model dan dokter yang sukses. Membelikan rumah yang mama inginkan dan beristirahat di hari tuanya kelak, mama tak harus bekerja lagi. Aku hanya memperbolehkan mama menggendong cucunya nanti. Bersenang senang melupakan masa lalu yang kelam. Sampai aku melihat mama tersenyum tenang, dan melangkah ke surga.
aku menulis itu setahun yang lalu, saat liburan juga, dan terulang kembali. meslipun sudah banyak perubahan sekarang, sudah membaik mungin, mungkin. itu yang terlihat tapi entah bagaimana didalamnya. dan aku juga punya akmaal :) sahaabat sahabatku yang lain. yaa semoga liburan kali ini gak sesepi dulu :)
Banyak yang bilang aku tegar dan mandiri, hahaaa asal kalian tahu teman, terperangkap begitu lama yang membuat aku begitu. Justru aku iri dengan kalian. Aku sangat benci bila waktu liburan tiba. Yaaa lagi- lagi berbeda dengan kalian. Meskipun mama juga ikut libur saaat liburanku datang, kesibukan tetap menyelimutinya. Entah, tapi menurutku sebenarnya ia punya banyak waktu bersamaku dan adikku. Mungkin karna mama jenuh melihat keadaan yang tak kunjung ada perubahan, sampai sampai harus mencari hiburan sendiri diluar. Biarlah, biar mama bahagia tertawa bersama teman temannya.
Aku semakin benci untuk tahu bahwa liburanku sudah habis, bukan karena aku tak mau sekolah. Tapi aku belum mempersiapkan cerita liburan apa yang harus aku ceritakan ketika teman-teman mulai bercerita liburan mereka bersama keluarga. Entah itu pergi berenang, ke kampung halaman mereka, ataupun bersenang senang bersama sepupu-sepupu mereka. Sungguh saat itu ingin rasanya aku tak mau tahu dan pergi meninggalkan mereka yang sedang berbagi cerita. Tapi aku tak punya alasan untuk pergi. Aku hanya bisa ikut tertawa menutupi rasa malu, karena hanya aku yang tak punya cerita.
Aku ingat, saat itu salah seorang temanku memuji-muji ayahnya yang hebat. Ayah yang bekerja siang malam, tapi masih ada waktu untuk menghilangkan kejenuhan anak-anaknya selama disekolah dan menghabisakan weekend mereka bersama. Lagi-lagi aku hanya bisa menahan air mataku. andai papaku juga seperti itu. Tapi aku kembali menarik pipiku, sedikit tawa tak apalah. Dan mereka juga harus tahu, mamaku bahkan lebih hebat dari itu.
Untuk menangispun aku takut, takut menyakiti mama bila melihatnya, karena aku tahu, Senyumku yang membuat mama masih bertahan hingga saat ini. Padahal hanya dengan menangis aku bisa sedikit bahagia, aku meyakini bebanku ikut mengalir bersama air-air itu. Ya semua demi mama.. aku rela menyakiti diriku sendiri.
Saat teman teman sepermainanku sedang sibuk mencari cara untuk menyenangkan kekasih mereka masing masing, yang aku lakukan adalah mencari cara untuk membuat mama bangga, bagaimana membuktikan pada semua orang bahwa aku bukan anak broken home. Aku bisa mendapatkan apa yang aku inginkan seorang diri. Aku ingin mendapat pengakuan dari orang-orang yang sebelumnya meremehkanku. Membuat mereka malu telah mengolok-olok mama. Mencari cara mewujudkan obsesiku untuk menjadi model dan dokter yang sukses. Membelikan rumah yang mama inginkan dan beristirahat di hari tuanya kelak, mama tak harus bekerja lagi. Aku hanya memperbolehkan mama menggendong cucunya nanti. Bersenang senang melupakan masa lalu yang kelam. Sampai aku melihat mama tersenyum tenang, dan melangkah ke surga.
aku menulis itu setahun yang lalu, saat liburan juga, dan terulang kembali. meslipun sudah banyak perubahan sekarang, sudah membaik mungin, mungkin. itu yang terlihat tapi entah bagaimana didalamnya. dan aku juga punya akmaal :) sahaabat sahabatku yang lain. yaa semoga liburan kali ini gak sesepi dulu :)
Monday, 28 June 2010
Aku rindu masa lalu :')
Saat semua berlomba bercerita kepada dunia
tentang kasih sayang yang mereka dapat
Tentang kenangan yang aku fikir lebih indah saat aku melihat pelangi
Tentang tawa yang bisa menghidupkan sejuta kunang kunang yang telah mati
menjadi energi untuk dunia
Energi yang membuat mereka tetap percaya apa itu cinta?
Dimana aku?
Aku coba tidak mendengar apapun saat mereka melakukan itu
Berjongkok ditengah hangatnya kasih yang saling mereka bagi
Menutup telinga dan memejamkan mataku
KENAPA AKU TETAP MERASA DINGIN?
Sedangkan mereka merona karena hangat itu memanjakan wajahnya
Aku rindu masa lalu :'(
sentuhan dipundakku
usapan saat air mataku jatuh
Pelukan ketika bibirku sulit untuk tersenyum
Genggaman erat dan sebuah kecupan dikening
Aku iri :'( melihat mereka menangis
melihat mereka saling memeluk
mengucapkan janji apapun itu.
Dunia memang selalu berputar, kadang aku berfikir ingin kembali membuka mata dan melihat masa lalu, merasakan kehangatan lagi. Aku tak butuh logika untuk ini. Logika ku sudah terpilin, kusut bahkan hancur.
Entah, mungkin hanya ini yang bisa aku lakukan
memejamkan mata
membekukan tetesan yang keluar dari mata itu
berteriak dalam hati, "masih ada cinta disekelilingmu, rasakanlah"
lalu menarik pipiku,
dan tersenyum :)
tentang kasih sayang yang mereka dapat
Tentang kenangan yang aku fikir lebih indah saat aku melihat pelangi
Tentang tawa yang bisa menghidupkan sejuta kunang kunang yang telah mati
menjadi energi untuk dunia
Energi yang membuat mereka tetap percaya apa itu cinta?
Dimana aku?
Aku coba tidak mendengar apapun saat mereka melakukan itu
Berjongkok ditengah hangatnya kasih yang saling mereka bagi
Menutup telinga dan memejamkan mataku
KENAPA AKU TETAP MERASA DINGIN?
Sedangkan mereka merona karena hangat itu memanjakan wajahnya
Aku rindu masa lalu :'(
sentuhan dipundakku
usapan saat air mataku jatuh
Pelukan ketika bibirku sulit untuk tersenyum
Genggaman erat dan sebuah kecupan dikening
Aku iri :'( melihat mereka menangis
melihat mereka saling memeluk
mengucapkan janji apapun itu.
Dunia memang selalu berputar, kadang aku berfikir ingin kembali membuka mata dan melihat masa lalu, merasakan kehangatan lagi. Aku tak butuh logika untuk ini. Logika ku sudah terpilin, kusut bahkan hancur.
Entah, mungkin hanya ini yang bisa aku lakukan
memejamkan mata
membekukan tetesan yang keluar dari mata itu
berteriak dalam hati, "masih ada cinta disekelilingmu, rasakanlah"
lalu menarik pipiku,
dan tersenyum :)
Saturday, 26 June 2010
surat biru kecil
Banyak yang mengerti tentang cinta, tapi tidak untuk reza. Bahkan dia sangat tidak ingin merasakan lagi apa itu cinta. Reza selalu menampar wajahnya sendiri setiap ia membaca surat itu. surat biru kecil yang sejak dua tahun lalu menghantui ingatannya tentang cinta. Tentang masa lalunya, dan kehilangan. Penyesalan itu menyeruak menggerogoti hatinya, fikirannya, menjadikan ia menutup rapat dan tidak memperbolehkan siapapun menggantikan fika, wanita yang sangat ia cintai.
Lagi lagi reza menampar wajahnya. Entah untuk keberapa kalinya ia memarahi kebodohannya akan kejadian sore itu. dua tahun yang lalu, sama seperti sore ini, saat itu hujan deras. Reza keluar dan berlari dari sebuah ruko kecil yang menyempil di padatnya ibu kota oleh gedung gedung yang menjulang tinggi.
@@@@@
“ting nung”
Fika langsung berlari kecil mendengar bunyi bel apartementnya. Dia memang sejak tadi sudah menunggu reza, yang berjanji membawakan bubur ayam kesukaannya.
“zaa ko basah kuyup gini”
“iya fi aku keujanan”
“yaudah cepet masuk ganti baju dulu sana”
“iya, hmm dingin”
Reza langsung menuju kamar fika dan mencari baju yang bisa ia pakai. Untung saja fika sedikit memiliki jiwa laki laki dalam hal memilih pakaian. Jadi reza tidak perlu memakai dress atau baju mini milik fika.
Sembari reza mengganti bajunya yang basah karena kehujanan itu, fika pergi menuju dapur dan membuatkan minuman hangat untuk reza.
“sayang lagi bikin apa?” tiba-tiba reza datang
“udah ganti bajunya? Cepet banget za? Aku lagi bikin capucino, tunggu di depan sana” sambil mengaduk cangkir yang ada ditangannya.
Reza sibuk memperhatiakan seisi dapur tanpa memperdulikan apa yang dikatakan fika.
“fi, obat apaan nih? Namanya aneh” reza meraih sebuah obat yang tergeletak didepannya.
“ohh, emm itu Cuma vitamin kok. Mama yang ngirimin”
“beneran Cuma vitamin?”
“iya”
“yaudah aku tunggu didepan yaa, muahhh :p”
Dengan nakan reza mengecup pipi fika yang merona karena cuaca saat itu yang sangat dingin
@@@@@
“za nih minum dulu”
Fika menghampiri Reza yang sedang menikmati hujan di teras apartment fika. Hujannya semakin deras. Sampai sesekali biasan hujannya mengenai mereka berdua.
Tempat itu adalah tempat favorit mereka, sering kali reza menyanyikan lagu untuk fika, karena kebetulan suara reza lumayan bagus. Tidak, bahkan sangat bagus.
Setelah habis, reza meletakkan gelasnya dimeka dan kembali menuju fika yang tetap memandangi hujan. Fika sangat suka saat hujan turun, karena mamanya dulu sering mengatakan bahwa ada bidadari yang ikut turun bersama setiap tetes hujan. Dan semakin deras rintikan hujan itu, semakin banyak bidadari yang turun dan menemaninya, jadi fika tidak perlu takut jika ia sendiri dalam hujan.
“hm..fi..” fika sedikit kaget karena reza tiba tiba memeluknya dari belakang
“yaa zaa” sembari menyandarkan bahunya di pundak reza
Ada sesuatu yang reza keluarkan sesuatu dari sakunya, dan menunjukannya dihadapan fika
“fi..”
“waaahh bagus banget za” tanpa malu malu fika langsung meraihnya
“buat kamu sayang” reza tersenyum, manis sekali.
“makasih ya za” senyuman itu dikecup fika, hanya sepersekian detik, dan tersenyum juga :)
Setelah reza memasangkannya dileher fika, dia kembali mengeratkan pelukannya. Sampai tidak terasa hujan sore itu sudah menghilang. Fika membalikan tubuhnya. Dan memeluk reza lagi, lebih erat bahkan hampir terasa sesak. Hujan tiba tiba turun kembali bahkan lebih deras dari sebelumnya. Fika terus saja memeluk reza, dia seolah tak mau reza direbut oleh siapapun. Meskipun ia tau reza itu hanya miliknya.
“mala mini kamu disini aja yaa?!!” pinta fika dengan suara manjanya.
“hm..” reza sedikit bingung, sebenarnya mala mini dia sudah berjanji mau menamatkan level games bersama adiknya.
“za..?”
“iya” tapi akhirnya dia memutuskan untuk menemani fika sampai fika tertidur. Tanpa member tahu fika.
“makasih yaa” fika tersenyum manis
@@@@@
“reza” fika menghampiri reza yang sedang menonton tv
“udah mandinya?”
“udah dong” fika duduk disamping reza sambil bersandar disofanya. Tiba tiba reza meletakan kepalanya dipangkuan fika.
“za bener kan kamu male mini nemenin aku?”
“iya sayang” sambil memainkan rambut reza dengan lembut.
“tapi fi sebenrnya aku ada janji sama rio mau begadang malem ini buat tamatin level gamesnya dia”
“yaahh kamu, ayolah malem ini aja ya? Besok besok aku janji deh ga minta lagi” fika memasang muka memelas
“aku temenin samape kamu tidur aja ya?”
Fika hanya terdiam, dia sangat berharap kekasihnya itu bisa menemaninya malam ini.
“fi jangan marah dong, iya iya aku temenin kamu, tapi jangan cemberut gitu ah”
“bener yaaa?”
“iya” fika tersenyum manis
Mereka benar benar menghabisakan malam ini berdua. Bermain seperti anak kecil meskipun umur mereka hampir menginjak kepala dua. Sampai akhirnya reza tertidur dipangkuan fika.
@@@@@
“za.. reza bangun, pindah aja yuk. Disini dingin”
Fika membangunkan reza yang berada dipangkuannya, dengan belaian lembut tangan fika dirambut tunangannya itu. orang tua mereka memang sudah sejak lama mengikat hubungan fika dan reza. Dan rencananya setahun setelah reza bekerja meneruskan usaha orang tuanya, mereka akan menikah.
Tapi reza sulit sekali untuk dibangunkan “zaa, bangun dulu sayang, pindah ke kamar”
“hm iya iya” reza menjawab tanpa memmbuka matanya. Tapi untungnya dia sudah hafal jalan menuju kamar fika, dan langsung membanting tubuhnya ketempat tidur. Jangan heran, meskipun mereka sering tidur satu kamar, tapi reza tidak pernah mengapa apakan fika. Dan fika juga percaya reza tidak akan melakukan apa apa. Hanya saja pergaulan mereka yang terlalu bebas yang membuat mereka sangat cuek dengan apa yang mereka lakukan.
Sementara itu, fika pergi ke dapur untuk meminum obat rutin yang selalu dia minum sebelum tidur.
@@@@@
Nampaknya hari ini fika sangat kelelahan, bahkan berjalanpun sepertinya ia harus mengeluarkan banyak tenaga agar bisa sampai ke kamar. Sesampainya dikamar fika langsung menyandarkan tubuhnya dipenyanggah tempat tidurnya. Memandangi wajah reza yang tertidur pulas, sangat hening, tidak lama kemudian lamunan fika buyar saat tiba tiba reza memeluk pinggangnya dalam keadaan masih tertidur.
Fika tersenyum, dia mengambil secarik kertas dan sebuah pulpen kesayangannya. Menulis sebuah surat dan memasukan kertas itu ke dalam amplop polos berwarna biru muda. Dan meletakkannya diatas tangan reza yang sedang memeluk tubuh mungilnya.
Malam yang indah untuk fika, ada kebahagiaan yang terlihat dari tatapannya saat memandangi reza. Yang sedikit basah dan berkaca, seolah melukiskan ketidak inginannya kehilangan reza. Pria kedua yang sangat ia cintai selain ayahnya. Dia membetulkan posisi bantalnya agar dapat terlelap dengan nyaman disamping reza. Menarik selimut dan menutupi tubuh reza. Tubuhnya yang mungil tampah terlihat kecil jika ditutupi selimut. Ditambah lagi wajahnya yang sangat pucat malam ini. Dia benar benar terlihat lelah.
Fika terus memandangi wajah reza, dan membelai rambut reza dengan sangat lembut, sampai akhirnya matanya tertutup rapat.
@@@@@
“tengnongnengnongneng (suara handphone reza)”
Reza terbangun mendengar suara handphonenya.
“haloooo” dengan suara ngantuk dan sangat tidak rela membuka matanya
“ka katanya mau nemenin maen, ko belom pulang?!”
“besok pagi aja yaa mainnya, gue ngantuk”
“ga mau, cepetan pulang, lo kan udah janji ka, bilangin mama nih >,<”
“ah iya iya bawel”
Reza langsung mematikan hand phone nya. Mau tidak mau reza harus meninggalkan fika mala mini.
“fika maafin aku ya sayang, aku pergi dulu. Besok aku kesini lagi ko. Aku mau bangunin kamu tapi gak tega, tidur yang nyenyak yaa” sebuah kecupan di kening fika, muah.. reza meliahat surat yang tadi ditulis fika sebelum tidur, bertuliskan nama reza diamplopnya. Reza langsung memasukan surat itu kesakunya. Dan bergegas pergi.
@@@@@
“teng teng teng”
Jam dirumah reza bunyi 3 kali. Berarti tandanya udah jam 3 pagi. “dek nagntuk gue”
“yaudah tidur aja lu sono, tapi jangan kemana mana temenin gue aja disini”
Reza langsung naik ketempat tidur adiknya, bersiap untuk melanjutkan mimpinya tadi. Tapi tiba tiba dia teringat surat yang bertuliskan nama reza tadi. Dia langsung merogoh saku celananya, mengambil surat mungil itu. dan langsung membacanya…
“sayaaanggg..
Kamu ngantuk banget yaa? Hehe daritadi aku bangunin kamu ga bangun bangun, jadi kau iseng deh bikin surat kayak gini.
Za sebenernya banyak banget yang mau aku certain ke kamu, makanya male mini aku minta kamuu buat nemenin aku.
Maaf ya soal vitamin yang kamu tanyain tadi, aku bohong. Itu bukan vitamin. Itu obat dari dokter. Aku menderita kanker darah za.. udah 3 tahun belakangan ini. Maaf ya aku baru cerita. Aku takut za. Aku takut kamu menjauh karna malu punya cewe penyakitan kaya aku. Aku takut kehilangan orang orang yang aku sayang zaa, aku takut mati.
Tapi sekarang aku udah gak takut lagi, karna aku tau kamu akan selalu ada disamping aku, maafin aku ya sanyang. Aku ga kuat, ini terlalu sakit buat aku tahan. Oiya za, kamu tau gak apa yang ngebuat aku gak takut lagi sama kematian?
Karena dinafas aku yang terakhirpun aku masih ada dipelukan kamu, pelukan yang selalu ngebuat aku nyaman. Makasih ya za untuk kenangan indah yang udah kamu kasih ke aku. Aku akan selalu sayang kamu”
@@@@@
Seluruh tubuh reza lemas seperti kehilangan tulang. Dia tidak sanggup untuk berkata apapun lagi. Dia hanya berharap ini haya kelanjutan mimpi tadi.
Tapi kenyataannya dia masih mersakan dingin, bahkan lebih dingin dari air hujan yang sore tadi mebasahi tubuhnya.
Reza berlari dan langsung menghidupkan motornya. Berusaha secepat mungkin sampai di apartement fika dan langsung membuka pintu dengan kunci cadangan yang dimilikinya.
Dia menghampiri fika yang terbaring dikamarnya. Pucat, dingin.
Reza seolah mimpi, dalam sekejap ia kehilangan seseorang yang begitu berharga.
“fikaaa..sayang bangun yuk” dia membelai rambut fika dengan lembut
“fik jawab dong sayang, bangun yuk, kita main monopoli lagi, tadi kan kamu kalah”
Reza seperti orang gila terus mencoba membangunkan fika, tanpa sadar dia mulai meneteskan air matanya
“fikaaaaaaaaaaa!!! Jangan tinggalin aku!!” dia memeluk fika sangat erat, tidak peduli itu hanya sebuah tubuh tanpa ruh yang bisa mersakan cinta. Sangat dingin.
Dan hingga kini, dingin itu masih menyelimuti hidup reza. Tanpa fikaaaa
Lagi lagi reza menampar wajahnya. Entah untuk keberapa kalinya ia memarahi kebodohannya akan kejadian sore itu. dua tahun yang lalu, sama seperti sore ini, saat itu hujan deras. Reza keluar dan berlari dari sebuah ruko kecil yang menyempil di padatnya ibu kota oleh gedung gedung yang menjulang tinggi.
@@@@@
“ting nung”
Fika langsung berlari kecil mendengar bunyi bel apartementnya. Dia memang sejak tadi sudah menunggu reza, yang berjanji membawakan bubur ayam kesukaannya.
“zaa ko basah kuyup gini”
“iya fi aku keujanan”
“yaudah cepet masuk ganti baju dulu sana”
“iya, hmm dingin”
Reza langsung menuju kamar fika dan mencari baju yang bisa ia pakai. Untung saja fika sedikit memiliki jiwa laki laki dalam hal memilih pakaian. Jadi reza tidak perlu memakai dress atau baju mini milik fika.
Sembari reza mengganti bajunya yang basah karena kehujanan itu, fika pergi menuju dapur dan membuatkan minuman hangat untuk reza.
“sayang lagi bikin apa?” tiba-tiba reza datang
“udah ganti bajunya? Cepet banget za? Aku lagi bikin capucino, tunggu di depan sana” sambil mengaduk cangkir yang ada ditangannya.
Reza sibuk memperhatiakan seisi dapur tanpa memperdulikan apa yang dikatakan fika.
“fi, obat apaan nih? Namanya aneh” reza meraih sebuah obat yang tergeletak didepannya.
“ohh, emm itu Cuma vitamin kok. Mama yang ngirimin”
“beneran Cuma vitamin?”
“iya”
“yaudah aku tunggu didepan yaa, muahhh :p”
Dengan nakan reza mengecup pipi fika yang merona karena cuaca saat itu yang sangat dingin
@@@@@
“za nih minum dulu”
Fika menghampiri Reza yang sedang menikmati hujan di teras apartment fika. Hujannya semakin deras. Sampai sesekali biasan hujannya mengenai mereka berdua.
Tempat itu adalah tempat favorit mereka, sering kali reza menyanyikan lagu untuk fika, karena kebetulan suara reza lumayan bagus. Tidak, bahkan sangat bagus.
Setelah habis, reza meletakkan gelasnya dimeka dan kembali menuju fika yang tetap memandangi hujan. Fika sangat suka saat hujan turun, karena mamanya dulu sering mengatakan bahwa ada bidadari yang ikut turun bersama setiap tetes hujan. Dan semakin deras rintikan hujan itu, semakin banyak bidadari yang turun dan menemaninya, jadi fika tidak perlu takut jika ia sendiri dalam hujan.
“hm..fi..” fika sedikit kaget karena reza tiba tiba memeluknya dari belakang
“yaa zaa” sembari menyandarkan bahunya di pundak reza
Ada sesuatu yang reza keluarkan sesuatu dari sakunya, dan menunjukannya dihadapan fika
“fi..”
“waaahh bagus banget za” tanpa malu malu fika langsung meraihnya
“buat kamu sayang” reza tersenyum, manis sekali.
“makasih ya za” senyuman itu dikecup fika, hanya sepersekian detik, dan tersenyum juga :)
Setelah reza memasangkannya dileher fika, dia kembali mengeratkan pelukannya. Sampai tidak terasa hujan sore itu sudah menghilang. Fika membalikan tubuhnya. Dan memeluk reza lagi, lebih erat bahkan hampir terasa sesak. Hujan tiba tiba turun kembali bahkan lebih deras dari sebelumnya. Fika terus saja memeluk reza, dia seolah tak mau reza direbut oleh siapapun. Meskipun ia tau reza itu hanya miliknya.
“mala mini kamu disini aja yaa?!!” pinta fika dengan suara manjanya.
“hm..” reza sedikit bingung, sebenarnya mala mini dia sudah berjanji mau menamatkan level games bersama adiknya.
“za..?”
“iya” tapi akhirnya dia memutuskan untuk menemani fika sampai fika tertidur. Tanpa member tahu fika.
“makasih yaa” fika tersenyum manis
@@@@@
“reza” fika menghampiri reza yang sedang menonton tv
“udah mandinya?”
“udah dong” fika duduk disamping reza sambil bersandar disofanya. Tiba tiba reza meletakan kepalanya dipangkuan fika.
“za bener kan kamu male mini nemenin aku?”
“iya sayang” sambil memainkan rambut reza dengan lembut.
“tapi fi sebenrnya aku ada janji sama rio mau begadang malem ini buat tamatin level gamesnya dia”
“yaahh kamu, ayolah malem ini aja ya? Besok besok aku janji deh ga minta lagi” fika memasang muka memelas
“aku temenin samape kamu tidur aja ya?”
Fika hanya terdiam, dia sangat berharap kekasihnya itu bisa menemaninya malam ini.
“fi jangan marah dong, iya iya aku temenin kamu, tapi jangan cemberut gitu ah”
“bener yaaa?”
“iya” fika tersenyum manis
Mereka benar benar menghabisakan malam ini berdua. Bermain seperti anak kecil meskipun umur mereka hampir menginjak kepala dua. Sampai akhirnya reza tertidur dipangkuan fika.
@@@@@
“za.. reza bangun, pindah aja yuk. Disini dingin”
Fika membangunkan reza yang berada dipangkuannya, dengan belaian lembut tangan fika dirambut tunangannya itu. orang tua mereka memang sudah sejak lama mengikat hubungan fika dan reza. Dan rencananya setahun setelah reza bekerja meneruskan usaha orang tuanya, mereka akan menikah.
Tapi reza sulit sekali untuk dibangunkan “zaa, bangun dulu sayang, pindah ke kamar”
“hm iya iya” reza menjawab tanpa memmbuka matanya. Tapi untungnya dia sudah hafal jalan menuju kamar fika, dan langsung membanting tubuhnya ketempat tidur. Jangan heran, meskipun mereka sering tidur satu kamar, tapi reza tidak pernah mengapa apakan fika. Dan fika juga percaya reza tidak akan melakukan apa apa. Hanya saja pergaulan mereka yang terlalu bebas yang membuat mereka sangat cuek dengan apa yang mereka lakukan.
Sementara itu, fika pergi ke dapur untuk meminum obat rutin yang selalu dia minum sebelum tidur.
@@@@@
Nampaknya hari ini fika sangat kelelahan, bahkan berjalanpun sepertinya ia harus mengeluarkan banyak tenaga agar bisa sampai ke kamar. Sesampainya dikamar fika langsung menyandarkan tubuhnya dipenyanggah tempat tidurnya. Memandangi wajah reza yang tertidur pulas, sangat hening, tidak lama kemudian lamunan fika buyar saat tiba tiba reza memeluk pinggangnya dalam keadaan masih tertidur.
Fika tersenyum, dia mengambil secarik kertas dan sebuah pulpen kesayangannya. Menulis sebuah surat dan memasukan kertas itu ke dalam amplop polos berwarna biru muda. Dan meletakkannya diatas tangan reza yang sedang memeluk tubuh mungilnya.
Malam yang indah untuk fika, ada kebahagiaan yang terlihat dari tatapannya saat memandangi reza. Yang sedikit basah dan berkaca, seolah melukiskan ketidak inginannya kehilangan reza. Pria kedua yang sangat ia cintai selain ayahnya. Dia membetulkan posisi bantalnya agar dapat terlelap dengan nyaman disamping reza. Menarik selimut dan menutupi tubuh reza. Tubuhnya yang mungil tampah terlihat kecil jika ditutupi selimut. Ditambah lagi wajahnya yang sangat pucat malam ini. Dia benar benar terlihat lelah.
Fika terus memandangi wajah reza, dan membelai rambut reza dengan sangat lembut, sampai akhirnya matanya tertutup rapat.
@@@@@
“tengnongnengnongneng (suara handphone reza)”
Reza terbangun mendengar suara handphonenya.
“haloooo” dengan suara ngantuk dan sangat tidak rela membuka matanya
“ka katanya mau nemenin maen, ko belom pulang?!”
“besok pagi aja yaa mainnya, gue ngantuk”
“ga mau, cepetan pulang, lo kan udah janji ka, bilangin mama nih >,<”
“ah iya iya bawel”
Reza langsung mematikan hand phone nya. Mau tidak mau reza harus meninggalkan fika mala mini.
“fika maafin aku ya sayang, aku pergi dulu. Besok aku kesini lagi ko. Aku mau bangunin kamu tapi gak tega, tidur yang nyenyak yaa” sebuah kecupan di kening fika, muah.. reza meliahat surat yang tadi ditulis fika sebelum tidur, bertuliskan nama reza diamplopnya. Reza langsung memasukan surat itu kesakunya. Dan bergegas pergi.
@@@@@
“teng teng teng”
Jam dirumah reza bunyi 3 kali. Berarti tandanya udah jam 3 pagi. “dek nagntuk gue”
“yaudah tidur aja lu sono, tapi jangan kemana mana temenin gue aja disini”
Reza langsung naik ketempat tidur adiknya, bersiap untuk melanjutkan mimpinya tadi. Tapi tiba tiba dia teringat surat yang bertuliskan nama reza tadi. Dia langsung merogoh saku celananya, mengambil surat mungil itu. dan langsung membacanya…
“sayaaanggg..
Kamu ngantuk banget yaa? Hehe daritadi aku bangunin kamu ga bangun bangun, jadi kau iseng deh bikin surat kayak gini.
Za sebenernya banyak banget yang mau aku certain ke kamu, makanya male mini aku minta kamuu buat nemenin aku.
Maaf ya soal vitamin yang kamu tanyain tadi, aku bohong. Itu bukan vitamin. Itu obat dari dokter. Aku menderita kanker darah za.. udah 3 tahun belakangan ini. Maaf ya aku baru cerita. Aku takut za. Aku takut kamu menjauh karna malu punya cewe penyakitan kaya aku. Aku takut kehilangan orang orang yang aku sayang zaa, aku takut mati.
Tapi sekarang aku udah gak takut lagi, karna aku tau kamu akan selalu ada disamping aku, maafin aku ya sanyang. Aku ga kuat, ini terlalu sakit buat aku tahan. Oiya za, kamu tau gak apa yang ngebuat aku gak takut lagi sama kematian?
Karena dinafas aku yang terakhirpun aku masih ada dipelukan kamu, pelukan yang selalu ngebuat aku nyaman. Makasih ya za untuk kenangan indah yang udah kamu kasih ke aku. Aku akan selalu sayang kamu”
@@@@@
Seluruh tubuh reza lemas seperti kehilangan tulang. Dia tidak sanggup untuk berkata apapun lagi. Dia hanya berharap ini haya kelanjutan mimpi tadi.
Tapi kenyataannya dia masih mersakan dingin, bahkan lebih dingin dari air hujan yang sore tadi mebasahi tubuhnya.
Reza berlari dan langsung menghidupkan motornya. Berusaha secepat mungkin sampai di apartement fika dan langsung membuka pintu dengan kunci cadangan yang dimilikinya.
Dia menghampiri fika yang terbaring dikamarnya. Pucat, dingin.
Reza seolah mimpi, dalam sekejap ia kehilangan seseorang yang begitu berharga.
“fikaaa..sayang bangun yuk” dia membelai rambut fika dengan lembut
“fik jawab dong sayang, bangun yuk, kita main monopoli lagi, tadi kan kamu kalah”
Reza seperti orang gila terus mencoba membangunkan fika, tanpa sadar dia mulai meneteskan air matanya
“fikaaaaaaaaaaa!!! Jangan tinggalin aku!!” dia memeluk fika sangat erat, tidak peduli itu hanya sebuah tubuh tanpa ruh yang bisa mersakan cinta. Sangat dingin.
Dan hingga kini, dingin itu masih menyelimuti hidup reza. Tanpa fikaaaa
Saturday, 19 June 2010
panggil saja aku monyet
Panggil saja aku monyet, kebanyakan orang menyebutku begitu.
Sore ini aku, ayam, dan semut memang sedang bermain dikandang ayam. Sudah lama sekali kami tidak berkumpul seperti ini. Bnyak hal yang belum kami ceritakan, yaa meskipun itu gak jauh dari masalah cowok.
Setelah beberapa jam bermain dikandang ayam tidur tiduran tertawa dan bercerita, kodok pacarku sms ngajak buat ketemu, tapi sayangnya aku ayam dan semut udah janji mau makan bakso di pinggir jalan tempat biasa kami makan. Akhirnya aku mengajak kodok untuk bergabung saja. Karena sebenarnya semut dan kodok sudah kenal akrab, bahkan semut yang mengenalkan aku ke kodok. Jadi aku rasa ga bakal canggung lagi.
@@@@
Sesampainya di tukang bakso, kami memesan bakso dan menunggu kodok yang sedang dijalan. Aku bahkan mengusir semut yang duduk disebelahku karena aku menyiapkannya untuk si kodok.
Jeng jeng jeng jeng datanglah si kodok, tapi dia salah jalan dan aku harus menghampirinya.
Kodok : (menarik bangku yang aku siapkan dan menggesernya ke samping semut, jauh sekali dari bangku ku)
Aku : @*^$&@%$)(@%*&%#&@# (gatau mau ngomong apa)
Ayam : nyet? (melihat aku heran, sepertinya dia tau apa yang ada diotakku sekarang)
Aku : hmmm (memalingkan wajahku dan terus menatap ayam yang ada di depanku)
Ayam : nyet sumpah ini janggal banget
Aku : iya yaamm, gatau ah (dengan suara pelan, sambil ngaduk ngaduk bakso yang sudah dtang tanpa sama sekali berminat buat makan)
Ayam : sabar nyet sabar
Semut dan kodok : kjfygweiugqpduwegfreipugforiyfejfryfgehhfgyrfsug (entah ngomongin apa, tanpa memperdulikan aku)
Setelah beberapa lama, tanpa ada bahasa keadaan kami tetap sama.
Ayam : ini yang pacaran sama kodok lo apa si semut sih nyet
Aku : gatau yam :’(
Ayam : ah sumpah bego banget masa gak nyadar nyet muka lu udah sepet begitu. Masih asik aja ngobrolnya -,-
Akhirnya kami selesai makan, aku bayar dengan ayam. Dan semut dengan kodok (tambah keliatan banget deketnya)
(kodok dan semut masih membayar, aku duduk di tempat semula)
Aku : yam, yam aduh ini gimana aer mat ague ga bisa ditahan :’(
Ayam : aduh aduh buruan apus jangan sampe kodok liat ahhhhh tahan tahan nyet apus cepetan itu tisu
Aku : ahh tai banget ini gabisa berenti, aduuuhh ahh tai tai masih beraer ga?
Ayam : masiiihhhh itu masih basah mata lo nyet.
Aku : (berpura pura biasa aja)
@@@@
Kodok : mau kemana?
Aku : gatau
Ayam langsung menaiki angkot yang sudah ngetem di pinggir jalan. Dan aku pulang bersama kodok. Ahh tapi udah bete banget :’(
Dimotor
Kodok : mau kemana sayang?
Aku : gatau
Kodok : mau kemana aku bingung nih
Aku : gatau
Kodok : yang? Mau kemana ini aku beneran gatau
Aku : terserah ah
Kodok : kamu marah yaa? Maaf dong yang
Aku : (diam)
Kodok : yang yaampun maaf
Aku : (diam)
Kodok : yang, ah parah banget si maafin aku yang. Mau kemana? Mau pulang?
Aku : terserah
Dan akhirnya dia membawaku pulang
Heeyy kodok jelek aku kangen sama kamu gamau pulang tapi aku sebel!!!! Kamu gak ngehargain aku banget. Aku udah kaya tuyul disana. Engga aku gak marah kamu deket sama semut. Tapi gak gitu juga dookkk. Ayam aja sampe nanya yang pacaran sama kamu itu aku apa semut. Dateng dateng langsung narik bangku yang udah aku siapin disamping aku ke deket semut dan asik ngobrol tanpa peduliin aku. Heeyy ada aku dideket kamu. Hargain dikit kenapa sih :’( bahkan kamu kayak ga kenal aku dok. Tega banget sih :’(
Sesampainya didepan rumah, aku turun dan kodok langsung berlalu pergi tanpa menyebutkan a b c d atau apalah. Hanya diam :(
Dimotorpun tadi cuma diam
Tapi sebelumnya di tengah jalan dia berhenti dan mengambil sesuatu dari tasnya
Kodok : aku bikin ini buat kamu, terserah kalo ga suka buang aja
Aku : (diam, tersenyum)
Dookk coba kamu ga lagi nyebelin :(
lucu, dompet kecil warna merah dari kaen flannel. Yang dia jahit sendiri. Yaa meskipun gak serapi buatan seorang maestro. Sayaanggg :’(
Sampai dirumah ternyata gak ada orang (ahhh bego banget lu nyet) aku Cuma bisa duduk diteras menunggu orang rumah pulang. Diam, menunduk, (menangiskah?) yaa kalian pasti bisa menebak apa yang aku lakukan
Sore ini aku, ayam, dan semut memang sedang bermain dikandang ayam. Sudah lama sekali kami tidak berkumpul seperti ini. Bnyak hal yang belum kami ceritakan, yaa meskipun itu gak jauh dari masalah cowok.
Setelah beberapa jam bermain dikandang ayam tidur tiduran tertawa dan bercerita, kodok pacarku sms ngajak buat ketemu, tapi sayangnya aku ayam dan semut udah janji mau makan bakso di pinggir jalan tempat biasa kami makan. Akhirnya aku mengajak kodok untuk bergabung saja. Karena sebenarnya semut dan kodok sudah kenal akrab, bahkan semut yang mengenalkan aku ke kodok. Jadi aku rasa ga bakal canggung lagi.
@@@@
Sesampainya di tukang bakso, kami memesan bakso dan menunggu kodok yang sedang dijalan. Aku bahkan mengusir semut yang duduk disebelahku karena aku menyiapkannya untuk si kodok.
Jeng jeng jeng jeng datanglah si kodok, tapi dia salah jalan dan aku harus menghampirinya.
Kodok : (menarik bangku yang aku siapkan dan menggesernya ke samping semut, jauh sekali dari bangku ku)
Aku : @*^$&@%$)(@%*&%#&@# (gatau mau ngomong apa)
Ayam : nyet? (melihat aku heran, sepertinya dia tau apa yang ada diotakku sekarang)
Aku : hmmm (memalingkan wajahku dan terus menatap ayam yang ada di depanku)
Ayam : nyet sumpah ini janggal banget
Aku : iya yaamm, gatau ah (dengan suara pelan, sambil ngaduk ngaduk bakso yang sudah dtang tanpa sama sekali berminat buat makan)
Ayam : sabar nyet sabar
Semut dan kodok : kjfygweiugqpduwegfreipugforiyfejfryfgehhfgyrfsug (entah ngomongin apa, tanpa memperdulikan aku)
Setelah beberapa lama, tanpa ada bahasa keadaan kami tetap sama.
Ayam : ini yang pacaran sama kodok lo apa si semut sih nyet
Aku : gatau yam :’(
Ayam : ah sumpah bego banget masa gak nyadar nyet muka lu udah sepet begitu. Masih asik aja ngobrolnya -,-
Akhirnya kami selesai makan, aku bayar dengan ayam. Dan semut dengan kodok (tambah keliatan banget deketnya)
(kodok dan semut masih membayar, aku duduk di tempat semula)
Aku : yam, yam aduh ini gimana aer mat ague ga bisa ditahan :’(
Ayam : aduh aduh buruan apus jangan sampe kodok liat ahhhhh tahan tahan nyet apus cepetan itu tisu
Aku : ahh tai banget ini gabisa berenti, aduuuhh ahh tai tai masih beraer ga?
Ayam : masiiihhhh itu masih basah mata lo nyet.
Aku : (berpura pura biasa aja)
@@@@
Kodok : mau kemana?
Aku : gatau
Ayam langsung menaiki angkot yang sudah ngetem di pinggir jalan. Dan aku pulang bersama kodok. Ahh tapi udah bete banget :’(
Dimotor
Kodok : mau kemana sayang?
Aku : gatau
Kodok : mau kemana aku bingung nih
Aku : gatau
Kodok : yang? Mau kemana ini aku beneran gatau
Aku : terserah ah
Kodok : kamu marah yaa? Maaf dong yang
Aku : (diam)
Kodok : yang yaampun maaf
Aku : (diam)
Kodok : yang, ah parah banget si maafin aku yang. Mau kemana? Mau pulang?
Aku : terserah
Dan akhirnya dia membawaku pulang
Heeyy kodok jelek aku kangen sama kamu gamau pulang tapi aku sebel!!!! Kamu gak ngehargain aku banget. Aku udah kaya tuyul disana. Engga aku gak marah kamu deket sama semut. Tapi gak gitu juga dookkk. Ayam aja sampe nanya yang pacaran sama kamu itu aku apa semut. Dateng dateng langsung narik bangku yang udah aku siapin disamping aku ke deket semut dan asik ngobrol tanpa peduliin aku. Heeyy ada aku dideket kamu. Hargain dikit kenapa sih :’( bahkan kamu kayak ga kenal aku dok. Tega banget sih :’(
Sesampainya didepan rumah, aku turun dan kodok langsung berlalu pergi tanpa menyebutkan a b c d atau apalah. Hanya diam :(
Dimotorpun tadi cuma diam
Tapi sebelumnya di tengah jalan dia berhenti dan mengambil sesuatu dari tasnya
Kodok : aku bikin ini buat kamu, terserah kalo ga suka buang aja
Aku : (diam, tersenyum)
Dookk coba kamu ga lagi nyebelin :(
lucu, dompet kecil warna merah dari kaen flannel. Yang dia jahit sendiri. Yaa meskipun gak serapi buatan seorang maestro. Sayaanggg :’(
Sampai dirumah ternyata gak ada orang (ahhh bego banget lu nyet) aku Cuma bisa duduk diteras menunggu orang rumah pulang. Diam, menunduk, (menangiskah?) yaa kalian pasti bisa menebak apa yang aku lakukan
yeeaahh it's me :D
Haloooooooo :D

iyaa ini gue :D
DHESNA CINDRA BHUMI
banyak definisi tentang gue, itu tergantung lo ngeliat gue sperti apa.
Gue sekolah di SMANSA sekarang, SMA NEGERI 1 DEPOK. Bentar lagi naek kelas 2 loohh (amin amin ya allah amin) pengennya sih masuk ipa. Soalnya otak gue kan emang ga ada indah indahnya di IPS. Apalagi ekonomi, haha bu Elisabeth aja pasti afal sama gue gara gara nilai yang tidak indah itu. (haha maaf ya bu aku menyusahkan)
Gue punya adek pria (baru balik ga mau di panggil cowok)
Namanya ANGGARA PUTRA PRASETYO, kaya nama jawa yaa :D tapi sebenarnya gue ini asli betawi tulen loohh (boleh dibuktikan)
Dan Alhamdulillah puji syukur kepada Allah SWT hingga saat ini gue Cuma mempunya seorang bunda (enyak) satu dan ayahanda (babeh) masih satu juga. Berkembang menjadi banyak atau tidaknya nanti tergantung keadaan. Yaa begitulah.
Hidup manusia emang ga pernah lepas dari masalah, tergantung gimana cara kita buat menghadapi itu semua. Banyak yang bilang gue ini setegar baja (boong banget) tapi kadang gue butuh air mata buat ngelepas itu semua. Tapi untungnya selalu ada sahabat sahabat gue yang setia disamping gue :’)
Dan si pacar yang ga pernah bisa bikin gue berenti ketawa ngeliat tingkahnya, “AKMAL DWI NUZULIN”
Ayooo berteman :DDDDDD

iyaa ini gue :D
DHESNA CINDRA BHUMI
banyak definisi tentang gue, itu tergantung lo ngeliat gue sperti apa.
Gue sekolah di SMANSA sekarang, SMA NEGERI 1 DEPOK. Bentar lagi naek kelas 2 loohh (amin amin ya allah amin) pengennya sih masuk ipa. Soalnya otak gue kan emang ga ada indah indahnya di IPS. Apalagi ekonomi, haha bu Elisabeth aja pasti afal sama gue gara gara nilai yang tidak indah itu. (haha maaf ya bu aku menyusahkan)
Gue punya adek pria (baru balik ga mau di panggil cowok)
Namanya ANGGARA PUTRA PRASETYO, kaya nama jawa yaa :D tapi sebenarnya gue ini asli betawi tulen loohh (boleh dibuktikan)
Dan Alhamdulillah puji syukur kepada Allah SWT hingga saat ini gue Cuma mempunya seorang bunda (enyak) satu dan ayahanda (babeh) masih satu juga. Berkembang menjadi banyak atau tidaknya nanti tergantung keadaan. Yaa begitulah.
Hidup manusia emang ga pernah lepas dari masalah, tergantung gimana cara kita buat menghadapi itu semua. Banyak yang bilang gue ini setegar baja (boong banget) tapi kadang gue butuh air mata buat ngelepas itu semua. Tapi untungnya selalu ada sahabat sahabat gue yang setia disamping gue :’)
Dan si pacar yang ga pernah bisa bikin gue berenti ketawa ngeliat tingkahnya, “AKMAL DWI NUZULIN”
Ayooo berteman :DDDDDD
Thursday, 17 June 2010

buat gue sahabat bukan cuma orang yang ada waktu gue butuh, tapi juga orang yang dateng ke gue saat dia butuh. karena dengan begitu gue tau mereka nganggep gue sahabat :) yaa itu mereka BIDARA KADIJA dan CHINTA HUSNIA
maen bareng mereka ga ada bosen bosen nya. apalagi kalo udah ngumpul dirumah ibe si pria bali, waloupun agak serem soalnya banyak patung patung dan anjing yang berkeliaran. aa tapi tetep aja ngangenin


sayangnya kenapa ngerasa lebih deket pas diakhir akhir smp, waktu yang udah tinggal sedikit buat main main. apalagi si IDA BAGUS dan ALDI BURHAN yang udah gue anggep papa sendiri bakal pindah keluar pulau. 9.3 gue kangen :')

sampe akhirnya harus tiba waktu perpisahan :')
dan sekarang semua udah ngejalanin hidup masing masing. tapi tetep ga ada yang bisa gantiin serunya main sama kalian.
complicated of my life part I
Selalu kayak gini, semua kekesalan dilimpahkan ke gue. Seharusnya mama tau, bukan mau gue terlahir di keluarga yang gak utuh kayak sekarang ini. Setiap pulang kerja selalu mencari kesalahan gue, sekecil apapun itu.
@@@@@
“pagi maaaa”
“pagi sayang,”
Syukurlah suasana hati mama masih belum tercemar oleh dunianya yang bebas, tak ada seorang suami yang mengekangnya.
Pagi ini sama seperti pagi pagi biasanya, gue rasa gak ada yang berbeda semenjak duat tahun lalu setelah papa meninggal karena ulahnya sendiri. Ia menabrak sebuah warung di pinggir jalan saat mengendarai mobilnya sembari mabuk, dan langsung meninggal di tempat. Terbukti sebelumnya papa baru saja menemui kekasih gelapnya, karena saat aparat kepolisian memeriksa barang-barang papa, gue ngeliat fotonya bersama wanita dan foto itu diambil 1 jam sebelum papa meninggal.
Masih teringat jelas bagaimana letupan letupan di jantung gue ketika itu terasa menyiksa, dan gue yakin mama pun merasa hal yang sama. Sakit kehilangan dan kenyataan bahwa papa telah menyakitinya yang membuat mama sangat membenci laki-laki itu. Kebencian itu yang saat ini terlampiaskan ke gue. Tak apalah, mungkin itu yang membuat mama sedikit lega.
@@@@@
“Teeennnggggggggg”
Suara-suara gemuruh siswa-siswa SMA pecah setelah bel pulang berbunyi. Dari suara-suara itu gue menangkap satu suara yang udah gak asing. Yeh suara hp gue, ada sms. Pasti si nira. Sebelumnya gue sama dia udah janjian mau ketemu hari ini. Maklum, kita berbeda sekolah semenjak tamat SMP waktu itu. Sulit sekali untuk mendapatkan teman yang benar benar bisa membuat gue nyaman seperti si nira. Salah satu yang gue inget, dia bahkan langsung mendatangi gue setelah gue bilang gue jatuh di kamar mandi yang cukup membuat gue gak bisa jalan saat itu.
“gue udah di depan sekolah lo nih” sms nira
Gue langsung bergegas menuju gerbang sekolah, agak sulit menemukannya, karena jam pulang sekolah baru saja berbunyi dan semua siswa sibuk berkeliaran di sekitar gerbang.
“Mel!! Mel!! Amel!!” teriak nira dari jauh
“eh itu dia si nira”
“lama lo, ayo temenin gue makan!”
“udah cepet tau jalannya, ehh jangan ditarik gini tangan gue!”
Dengan kasarnya nira menarik tangan gue, dan udah lebih dari 3 orang yang gue tabrak gara-gara tangan gue ditarik.
“mas, mas”
“iya pesan apa mbakk?”
“mie ayam 2 yaa”
“minumnya?”
“saya es teh manis, lo mel?”
“es jeruk yaa mas”
“oh, iya tunggu sebentar ya mbak”
Makanan favorit gue dan nira ya disini, di mi ayam “RAHMAT” mie nya enak banget (haha promosi). Udah gak sabar mau cerita banyak ke nira, frekuensi ketemu kami paling hanya 2 minggu sekali. Itupun kalau masing masing tak punya acara. Sekolah membuat kami berdua lebih sibuk dari jam kerja oranng dewasa. Terkadang aku harus bergadang untuk menyelesaikan semua tugasku. Tapi karna frekuensi yang kecil itulah kami tak pernah kehabisan bahan cerita setiap kami bertemu. Meskipun hanya dua jam atau tiga jam, itu sudah cukup untuk menceritakan segala hal. Buat gadis remaja seperti kami memang tidak jauh dari urusan cowok, tapi kadang gue juga suka menyinggung urusan keluarga dan sekolah penjara itu. Gue menganggapnya begitu karena hampir sepenuhnya hidup gue buat sekolah, hah gila gak tuh. Padahal dulu sewaktu SMP yang gue bayangkan tentang kehidupan di SMA adalah “BEBAS”. Jalan –jalan ke Mall, punya pacar, banyak teman, yaaaa segalanya yang menyenangkan seperti yang sering gue lihat di televisi. Tapi itu gak berlaku di kehidupan gue, bahkan yang setia disamping gue setiap waktu hanyalah buku. Bukaaaannn, bukan untuk membaca, gue gak terlalu suka itu. Hanya untuk menyelesaikan tuntutan tuntutan sebagai seorang siswa. Salah seorang teman gue pernah bilang “gue kangen masa masa SMP, masa masa pintar tanpa belajar” walaupun agak sombong, tapi sepertinya gue juga merasakan hal yang sama.
“heh!! Bengong aja lo” tiba tiba nira menepuk bahu gue
“eh apaan sih, kaget tau ra”
“ya lagian lo bengang-bengong kayak gitu, mikirin gue?”
“haha (tertawa maksa) ngelawak lo?”
“ya terus mikirin apaan dong?”
“sebel gue, di omelin mulu dirumah”
“yeh masih aja dipikirin, bukannya udah kebal sama omelan nyokap lo mel? Udahlah gak usah diambil hati, mending abisin tuh makannan lo, entar keburu dimakan kucing”
“ya tapi kan bosen ra, capek kali diomelin terus,”
“ya dirumah kan Cuma ada lo sama ade lo mel, masa nyokap lo mau marah-marah sama si fahmi, kan kasian.”
“yah? Terus gak kasihan gitu sama gue?”
“seengganya lo udah dewasa mel, udah bisa berfikir rasional kan kenapa nyokap lo kayak gitu?”
“tapi kadang kadang gue suka gak terima ra kalo semuanya dilampiasin ke gue”
“hidup kan gak selamanya kayak apa yang kita mau. Tapi gue yakin kita bakal bahagia kalau kita udah ngebahagiain orang yang kita sayang mel, gak ada yang bisa nandingin puasnya membahagiakan mereka, apalagi nyokap lo mel, yang lo sayng banget kan? Sabar ya, mungkin saat ini harus ngalah dulu. Ada saatnya lo bahagia mel”
“hah, thanks ya ra, untung ada lo men”
“hahaaa iya iya udah ah serius amat, terharu lo denger gue ngomong kayak gitu?”
“ih apa sih, hahahaaaa. Gimana rully ra?”
“lost contact mel, hah ga peduli lah gue sekarang”
“emang bisa lo ga peduli lagi?”
“engga sih, hehe. Tapi udah punya pacar lagi dia mel. Sungguh teganya teganya teganya” dengan gayanya yang lebay nira masih sanggup menutupi sakit hatinya. Padahal gue tau sebenarnya engga sesederhana itu yang dia rasakan.
“cepet banget??????”
“udah ngincer dari dulu kayaknya, tapi baru berani memproklamsikan setelah putus sama gue, udah ah males sedih sedihan.
“hehe iya yaudah yuk balik, ade gue sendirian dirumah.”
@@@@@
“tengnongneng (suara bunyi sms)”
“Siapa sih malem malem sms”
08568393xxx
“amelllllll!!! Eh neng ini gue arga. Save nmr baru gue yaaa, sorry sms malem malem ganggu”
Gue
“oh elo, haha iya gapapa. Iya iya gue save”
Arga (setelah di save)
“lah belom tidur?”
Gue
“iya lagi nunggu nyokap pulang kerja. Lo juga belom tidur? Besok sekolah woy jangan begadang terus”
Arga
“belom ngantuk gue mel, nyokap lo jam segini belom pulang? Lembur lagi?”
Gue
“ah haha iya lembur lagi. Kalo gue tidur entar gak ada yang bukain pintu kalo nyokap gue pulang.”
Arga
“sini deh gue aja yang bukain, haha”
Gue
“bokap lo ntar ngamuk dodol kalo tau malem malem lo kerumah cewek, wkwk”
Arga
“haha iya tau sendiri bokap gue bisa makan orangg kalo lagi ngamuk, eh gue jadi ngantuk mel. Tidur duluan yaaaaaa?”
Gue
“iya selamet tidur arga ”
Arga
“daaahhh”
“….”
“….”
“Ting nung”
Wah akhirnya mama pulang juga.
“mama ko lama banget sih? Jam setengah satu baru pulang”
“mama masih ada kerjaan, jangan bawel deh. Mama capek. Uadh sepet tutup sana gerbangnya”
“ih mama! Gak bagus banget perempuan pulang tengah malem, apa kata orang nanti”
“emang kamu makan dari orang? Dari mama kan? Gak usah banyak protes mama pusing. Yang pennting uang jajan tetep ada kan?”
“ah yaudah terserah mama deh!”
Kecewa banget sebenernya, bukan kecewa karena mama pulang pulang tengah malam atau marah-marah. Tapi kecewa sama diri gue sendiri, seharusnya gue gak nyusahin mama sampe mama harus pusing-pusing kerja sampai tengah malam. Ini bukan pertama kalinya mama pulang jam setengah satu, bahkan pernah mama pulang jam tiga pagi. Entahlah kadang gue sedikit curiga. Ah mikir apa sih gue. Gak seharusnya punya pikiran negatif ke mama.
bersambung..
@@@@@
“pagi maaaa”
“pagi sayang,”
Syukurlah suasana hati mama masih belum tercemar oleh dunianya yang bebas, tak ada seorang suami yang mengekangnya.
Pagi ini sama seperti pagi pagi biasanya, gue rasa gak ada yang berbeda semenjak duat tahun lalu setelah papa meninggal karena ulahnya sendiri. Ia menabrak sebuah warung di pinggir jalan saat mengendarai mobilnya sembari mabuk, dan langsung meninggal di tempat. Terbukti sebelumnya papa baru saja menemui kekasih gelapnya, karena saat aparat kepolisian memeriksa barang-barang papa, gue ngeliat fotonya bersama wanita dan foto itu diambil 1 jam sebelum papa meninggal.
Masih teringat jelas bagaimana letupan letupan di jantung gue ketika itu terasa menyiksa, dan gue yakin mama pun merasa hal yang sama. Sakit kehilangan dan kenyataan bahwa papa telah menyakitinya yang membuat mama sangat membenci laki-laki itu. Kebencian itu yang saat ini terlampiaskan ke gue. Tak apalah, mungkin itu yang membuat mama sedikit lega.
@@@@@
“Teeennnggggggggg”
Suara-suara gemuruh siswa-siswa SMA pecah setelah bel pulang berbunyi. Dari suara-suara itu gue menangkap satu suara yang udah gak asing. Yeh suara hp gue, ada sms. Pasti si nira. Sebelumnya gue sama dia udah janjian mau ketemu hari ini. Maklum, kita berbeda sekolah semenjak tamat SMP waktu itu. Sulit sekali untuk mendapatkan teman yang benar benar bisa membuat gue nyaman seperti si nira. Salah satu yang gue inget, dia bahkan langsung mendatangi gue setelah gue bilang gue jatuh di kamar mandi yang cukup membuat gue gak bisa jalan saat itu.
“gue udah di depan sekolah lo nih” sms nira
Gue langsung bergegas menuju gerbang sekolah, agak sulit menemukannya, karena jam pulang sekolah baru saja berbunyi dan semua siswa sibuk berkeliaran di sekitar gerbang.
“Mel!! Mel!! Amel!!” teriak nira dari jauh
“eh itu dia si nira”
“lama lo, ayo temenin gue makan!”
“udah cepet tau jalannya, ehh jangan ditarik gini tangan gue!”
Dengan kasarnya nira menarik tangan gue, dan udah lebih dari 3 orang yang gue tabrak gara-gara tangan gue ditarik.
“mas, mas”
“iya pesan apa mbakk?”
“mie ayam 2 yaa”
“minumnya?”
“saya es teh manis, lo mel?”
“es jeruk yaa mas”
“oh, iya tunggu sebentar ya mbak”
Makanan favorit gue dan nira ya disini, di mi ayam “RAHMAT” mie nya enak banget (haha promosi). Udah gak sabar mau cerita banyak ke nira, frekuensi ketemu kami paling hanya 2 minggu sekali. Itupun kalau masing masing tak punya acara. Sekolah membuat kami berdua lebih sibuk dari jam kerja oranng dewasa. Terkadang aku harus bergadang untuk menyelesaikan semua tugasku. Tapi karna frekuensi yang kecil itulah kami tak pernah kehabisan bahan cerita setiap kami bertemu. Meskipun hanya dua jam atau tiga jam, itu sudah cukup untuk menceritakan segala hal. Buat gadis remaja seperti kami memang tidak jauh dari urusan cowok, tapi kadang gue juga suka menyinggung urusan keluarga dan sekolah penjara itu. Gue menganggapnya begitu karena hampir sepenuhnya hidup gue buat sekolah, hah gila gak tuh. Padahal dulu sewaktu SMP yang gue bayangkan tentang kehidupan di SMA adalah “BEBAS”. Jalan –jalan ke Mall, punya pacar, banyak teman, yaaaa segalanya yang menyenangkan seperti yang sering gue lihat di televisi. Tapi itu gak berlaku di kehidupan gue, bahkan yang setia disamping gue setiap waktu hanyalah buku. Bukaaaannn, bukan untuk membaca, gue gak terlalu suka itu. Hanya untuk menyelesaikan tuntutan tuntutan sebagai seorang siswa. Salah seorang teman gue pernah bilang “gue kangen masa masa SMP, masa masa pintar tanpa belajar” walaupun agak sombong, tapi sepertinya gue juga merasakan hal yang sama.
“heh!! Bengong aja lo” tiba tiba nira menepuk bahu gue
“eh apaan sih, kaget tau ra”
“ya lagian lo bengang-bengong kayak gitu, mikirin gue?”
“haha (tertawa maksa) ngelawak lo?”
“ya terus mikirin apaan dong?”
“sebel gue, di omelin mulu dirumah”
“yeh masih aja dipikirin, bukannya udah kebal sama omelan nyokap lo mel? Udahlah gak usah diambil hati, mending abisin tuh makannan lo, entar keburu dimakan kucing”
“ya tapi kan bosen ra, capek kali diomelin terus,”
“ya dirumah kan Cuma ada lo sama ade lo mel, masa nyokap lo mau marah-marah sama si fahmi, kan kasian.”
“yah? Terus gak kasihan gitu sama gue?”
“seengganya lo udah dewasa mel, udah bisa berfikir rasional kan kenapa nyokap lo kayak gitu?”
“tapi kadang kadang gue suka gak terima ra kalo semuanya dilampiasin ke gue”
“hidup kan gak selamanya kayak apa yang kita mau. Tapi gue yakin kita bakal bahagia kalau kita udah ngebahagiain orang yang kita sayang mel, gak ada yang bisa nandingin puasnya membahagiakan mereka, apalagi nyokap lo mel, yang lo sayng banget kan? Sabar ya, mungkin saat ini harus ngalah dulu. Ada saatnya lo bahagia mel”
“hah, thanks ya ra, untung ada lo men”
“hahaaa iya iya udah ah serius amat, terharu lo denger gue ngomong kayak gitu?”
“ih apa sih, hahahaaaa. Gimana rully ra?”
“lost contact mel, hah ga peduli lah gue sekarang”
“emang bisa lo ga peduli lagi?”
“engga sih, hehe. Tapi udah punya pacar lagi dia mel. Sungguh teganya teganya teganya” dengan gayanya yang lebay nira masih sanggup menutupi sakit hatinya. Padahal gue tau sebenarnya engga sesederhana itu yang dia rasakan.
“cepet banget??????”
“udah ngincer dari dulu kayaknya, tapi baru berani memproklamsikan setelah putus sama gue, udah ah males sedih sedihan.
“hehe iya yaudah yuk balik, ade gue sendirian dirumah.”
@@@@@
“tengnongneng (suara bunyi sms)”
“Siapa sih malem malem sms”
08568393xxx
“amelllllll!!! Eh neng ini gue arga. Save nmr baru gue yaaa, sorry sms malem malem ganggu”
Gue
“oh elo, haha iya gapapa. Iya iya gue save”
Arga (setelah di save)
“lah belom tidur?”
Gue
“iya lagi nunggu nyokap pulang kerja. Lo juga belom tidur? Besok sekolah woy jangan begadang terus”
Arga
“belom ngantuk gue mel, nyokap lo jam segini belom pulang? Lembur lagi?”
Gue
“ah haha iya lembur lagi. Kalo gue tidur entar gak ada yang bukain pintu kalo nyokap gue pulang.”
Arga
“sini deh gue aja yang bukain, haha”
Gue
“bokap lo ntar ngamuk dodol kalo tau malem malem lo kerumah cewek, wkwk”
Arga
“haha iya tau sendiri bokap gue bisa makan orangg kalo lagi ngamuk, eh gue jadi ngantuk mel. Tidur duluan yaaaaaa?”
Gue
“iya selamet tidur arga ”
Arga
“daaahhh”
“….”
“….”
“Ting nung”
Wah akhirnya mama pulang juga.
“mama ko lama banget sih? Jam setengah satu baru pulang”
“mama masih ada kerjaan, jangan bawel deh. Mama capek. Uadh sepet tutup sana gerbangnya”
“ih mama! Gak bagus banget perempuan pulang tengah malem, apa kata orang nanti”
“emang kamu makan dari orang? Dari mama kan? Gak usah banyak protes mama pusing. Yang pennting uang jajan tetep ada kan?”
“ah yaudah terserah mama deh!”
Kecewa banget sebenernya, bukan kecewa karena mama pulang pulang tengah malam atau marah-marah. Tapi kecewa sama diri gue sendiri, seharusnya gue gak nyusahin mama sampe mama harus pusing-pusing kerja sampai tengah malam. Ini bukan pertama kalinya mama pulang jam setengah satu, bahkan pernah mama pulang jam tiga pagi. Entahlah kadang gue sedikit curiga. Ah mikir apa sih gue. Gak seharusnya punya pikiran negatif ke mama.
bersambung..
Subscribe to:
Posts (Atom)
Aku pun, ikut menghitung hari. Menggeratak cara lain lagi bagaimana rela menjadi sekejap yang aku bisa. Seakan-akan di tepas kesakitan menu...
-
Apa yang pertama kali kalian pikirin waktu ngeliat pict ini? Warnanya yang coklat dengan gradasi yang abstrak dan lapisan mengkilat begitu k...
-
Aku pun, ikut menghitung hari. Menggeratak cara lain lagi bagaimana rela menjadi sekejap yang aku bisa. Seakan-akan di tepas kesakitan menu...
-
Tentang menjuranya aku di bawah langit dan kami menangis bersahutan, setidaknya ia berkawan erat dengan bulan Juni. Sementara aku gelisah...