Sunday, 23 February 2020

Biarkan. Luka punya penyembuhnya. Hingga masing-masing membaik, hingga masing-masing  merindu. Biar kamu tahu dalamnya sampai benar-benar terasa perih, biar aku lihat sisanya sampai luka itu menjadi bekas. Setelah itu, kembalilah. Lalu jangan saling melepaskan lagi. 

Tapi jangan kembali, jika setelah itu, aku dan kamu terus saja saling tidak peduli. Terus saja saling melukai, lagi.  

Tuesday, 18 February 2020

Malam-malam tanpa kamu menggertak aku dengan rindu yang begitu parah, bukan ingin kamu tahu tapi tanganku gemetar menggenggamnya. 

Saturday, 15 February 2020

Kenapa protes?  Aku begini karena kalang kabut waktu kamu tiba-tiba pergi. 
Sampai jumpa lagi di waktu yang lebih baik.  Di rasa yang lebih hambar. Dengan hati yang lebih lapang. Terimakasih

Wednesday, 15 May 2019

Lakuna

Seperti kertas lecak yang didaur. Layaknya lakuna hasil meraki sekian lama. Ruang kembali ber-asa. karena indah tidak harus baru. Kamu tidak perlu melihat hari yang berantakan sedemikian rupa, hanya perlu menerimanya.

Berisik

dan di antara suara yang berisik, mereka menyembunyikan teriakan teriakan sunyi dari dalam diri
Anda menemukanku dalam napas sisa malam tadi. kemungkinan baik justru tidak menapik bahwa begini respon yang sebenarnya.
Anda mendengarkanku dalam keping keping yang rumit. aku tidak yakin.

Wednesday, 16 January 2019

Sudah saja, aku memang banyak diam dalam ruang kosong yang tidak sengaja diciptakan wewangian patah hati. wangi menusuk yang menciri. otoritas kepedulianmu yang tidak sarat sedikit.
wangi busuk itu mengontaminasi amigdalaku yang terlalu bersih. terlalu tidak mengenalimu sama sekali. Ada masalahkah?

Sunday, 29 April 2018

Hai kamu, sebuah kesepakatan antara Tuhan dan aku.
Terimakasih sudah mencari tulang rusukmu yang hilang ini.
Aku akan cerita sedikit jika kamu kebingungan memaknai aku yang terlihat nanar tidak karuan.
Aku punya dua masa lalu.
Yang satu baik, dan yang satunya amat tidak.
Keduanya saling berkaitan dan bekerjasama membentuk hidupku yang seperti ini.
Dan jika kamu orangnya,
Yang rela menerima masa laluku, baik atau tidak,
Aku akan melakukannya.
Berjuang lagi.
Menghidupkan hatiku yang dibuat mati.
Aku akan memaklumi cemburumu karena akupun pasti begitu, terlebih jika ternyata masa lalumu bahkan lebih indah dari punyaku.

Kepada kamu, yang degup jatungnya berteriakan bersama milikku ketika kita saling bertatap.
Tuhan selalu punya cara untuk membuat kita yakin. Seperti ucapan yang salah tingkah, atau senyum yang malu malu. dan jika seperti ini memang jalannya mempertemukanmu denganku,
Aku pasrah.

Kepadamu, aku bermaksud mengajakmu ke suatu ruang yang amat luas. Yang isinya kosong tidak ada apa apa. Di situ kamu boleh menyimpan setiap rasa yang kamu anggap menyakitkan, dan merelakan semua rasa yang kamu kira dulu adalah yang paling indah.
Pun aku akan melakukan hal yang sama.
Aku akan menguncinya.
Tentu suatu saat kamu boleh membukanya, dan kita berdua akan melihat lembaran lembaran rasa itu sambil tersenyum. Tentu saja untuk menyadari, bahwa Tuhan selalu memberi kita kesempatan untuk belajar. Untuk mengetahui seperti apa kehilangan dan ditinggalkan.
Dengan begitu kita akan betul betul menghargai sebuah kesempatan. Untuk bahagia.

Dan kita berdua perlahan menjadi orang asing yang tidak bijak. Membuang kemungkinan mentah-mentah tanpa berusaha.
Dan kini aku akan mematikan rasa, karena dulu aku sering belajar manajemen hati.
Cinta bukan cinta jika hanya satu yang berjuang. Meskipun pelukmu masih sangat aku ingat, tapi bukankah kelak kita menjadi benar benar asing? Bukan setengah-setengah.

Friday, 20 April 2018

Ada satu kisah.
Kisah yang indah.
Tentang renjana yang aku titip kepada cakrawala, dan kemukus yang jatuh di ujung bianglala. Aku titipkan kisah yang amat sempurna, dengan segala ketidaksempurnaan cinta.

Ada satu waktu,
Yang kini berjalan sangat pelan.
Hati bukan main gamang, menimbang dan mengira kisah yang usai mungkin tidak sepenuhnya selesai.
Tapi kekuatanku runtuh pada jejak langkah ketika kamu memutuskan untuk pergi. Dan batas takdir kita yang terlihat pada garis tipis antara senja dan samudera.
Aku titipkan renjana pada selaksa malam yang kelam, dan tentunya sebagian pada cakrawala yang berkilau keunguan. Tentang kisah indah yang harus aku buat tenggelam.
Aku relakan rindu yang begitu membara. dan seberkas cinta yang membekas.

Aku titipkan renjana pada semesta, dan tentunya kepada sang maha membentuk kasih. 
Pada suatu lembaran waktu, aku akan jemput kembali setelah raga dan hati baik baik saja.

Bukankah setidaknya aku punya satu jatah untuk sekali saja bahagia?

Saturday, 14 April 2018

Aku pasrah. 
Tentang jodoh yang gak kemana,  kenyataannya kamu pergi. 
Akhirnya aku menyerah saja pada alam,  apa maunya.
Dan perasaanku itu urusanku,  hanya saja aku punya cinta amat besar yang patut untuk dikenang.  Jadi biarkan aku membebanimu dengan cinta ini.
Seumur hidup.

Kepada hati dan diri,
Percayalah kita adalah bentuk paling kuat dari semua jenis kesakitan.  Jadi jangan berlagak lemah,  karena kesakitan adalah kepastian paling mutlak. 

Thursday, 12 April 2018

Ketika cinta terasa sebegini hebatnya,  dan rindu datang dengan membabi buta,
Hati hancur bukan main karena teringat kamu bukan lagi milikku. 

Tuesday, 13 March 2018

Rindu

Hari ini rindu mengorek ngorek cerita lama.  Ada rasa yang sakit di satu titik di relung hati dah pikiran. Seandainya bisa menangis,  akan lebih lega lagi jika teriak dan memaki. Tapi aku hanya bisa bersandar di sudut kereta dekat pintu,  dan terdiam. 
Barisan orang yang duduk,  mereka menunduk dan mata terpejam. Satu orang menengadah goyah sesuai laju kereta.  Aku mencoba melakukannya sambil berdiri. Aku lihat kamu tersenyum dalam ingatan yang samar samar. 

Monday, 5 February 2018

Sepedih pedihnya,  seandainya kamu tahu aku lebih lebih. 

Friday, 7 July 2017

Setiap butir embun pasti kembali pada muara. Setiap saripati tanah kembali melebur dengan jenisnya. Tapi bagaimana cara yang benar untuk rela, sedang kamu terlalu menyatu dengan hatiku. dan setiap rasa yang melanglang di relung terlalu berharga untuk aku bagi.

Thursday, 2 March 2017

Apabila ini saatnya aku lepas kamu pelan pelan, ketahuilah sebabnya aku lelah menggenggam terlalu erat.

Thursday, 23 February 2017

persetan dengan hujan yang membuat tangan beku seperti batu.  aku tetap tergila gila meski dinginnya menusuk. sama seperti kamu

Monday, 6 February 2017

Hujan kali ini lebat tertutup kabut yang putih tebal, biasanya aroma rindu semerbak memonopoli atmosfer. Tapi kali ini rasanya hambar seperti kosong, bukan karena tidak ada kamu di relung, namun kehidupan lebih sering tidak seperti rencananya.

Aku hanya diam tanpa bisa menulis.

Aku pun, ikut menghitung hari.  Menggeratak cara lain lagi bagaimana rela menjadi sekejap yang aku bisa. Seakan-akan di tepas kesakitan menu...