Monday, 15 February 2016

Aku dan aku.
Demi langitku yang aku balut dengan awan.
Menggumpal keras dan begitu luas.
Jangan kamu kesana karena aku di sini.
Jangan kamu melihat karena aku tertutup.
Dan jangan pernah bertanya karena langitku begitu adanya.

Bunga akan kuncup sebelum ia siap untuk mekar.
Langit akan gelap sebelum pagi keluar.
Bolehkan aku hanya diam sebelum kekuatannya berakar?

Thursday, 7 January 2016

Alam Bekerja tanpa Cela

Aku bagai tersungkur jatuh di dalam bayang hitam dan putih yang tidak kasat mata. Dua warna yang samar menjadi abu-abu. Menjauhkan gapaian tanganku terhadap kamu.
Angan terbang melayang. Seketika juga membuat aku tersudut di ujung senja yang mendung. Aku kecil, begitu kecil, teramat kecil. Tersisa hingga hanya setitik aku.
Menutur setiap sandaran yang menyokong, dan hilang, dan hilang, menghilang.

Jangan tanyakan lagi kenapa aku begini. Karena alam bekerja tanpa cela, mengumpulkan satu juta butir awan demi satu tetes air hujan. menumbuhi aku dengan keinginan yang besar, begitu besar, teramat besar. Terlampau hingga jauh ke dasar kalbu.

Disana aku. Di ujung senja yang gerimis. Menatap jauh kamu yang hampir tergapai. Keinginan semakin besar, bahkan menjuntai.

Tapi kemudian petir menyambar, menyadarkan aku tentang bahagia kita yang tidak sederhana.

Monday, 21 December 2015

Samudera

air deras menghujan
petir tajam menyambar
angin meluluhkan
badai melantakan
samudera ini begitu luas.
gelombang pasang,
kemudian surut.
kemudian pasang,
kemudian surut.
lalu hujan berhenti.
pindah ke bagian bumi yang lain,
hujan turun di situ.
air mengalir masuk ke sungai.
tampak begitu indah,
tenang
syahdu.
aku ada dimana?
aku ini hujan. aku tenggelam di dasar samudera.

Karena September Juga Berakhir

Apabila datang saatnya aku harus bersandar di atas kelopak mataku, berdiri di atas kakiku sendiri. dan pada akhirnya benar benar berdiri sendiri.
apabila datang saatnya aku ada tapi kamu pergi, aku pergi dan kamu biarkan.
bukan karena september sudah selesai. tapi kasih yang ada semakin memudar
meskipun aku lebih suka september,
namun ketika cinta membuatnya lebih sakit daripada berakhir.
aku menyerah

Seribu Kali

Hitunganku berhenti pada angka yang kini sudah terlupakan. Entah seribu atau dua ribu kali rasa ini kembali muncul.

Hanya di dalam gelap yang aku temui saat terpejam, aku berani menangis. Meskipun akhirnya menetes lagi sejuta kisah yang kamu ukir, yang membawa aku jatuh ke ratapan yang tak kunjung usai. Tinggalah kaki yang lelah untuk terus melangkah.

Maka biarkan aku sejenak disini, membuang  apa yang sudah meluap. Mengosongkannya. Mengisi lagi dengan sedikit kekuatan untuk berbulan-bulan kedepan.  


Karena kamulah satu-satunya yang tahu, hanya dengan pena aku berani melukis. Tentang sebuah bentuk nyata dari logika, yang aku kalahkan dengan rasa cinta yang begitu abstrak. 

Tuesday, 3 November 2015

Sebel

Tiap kata jatuh di sebelah telinga.
Tidak terdengar, apalagi terjawab.
Benci meradang.
Andai bisa begitu saja terlupakan dengan lampu yang dibuang, atau mulut yang terkatup.
Semudah itu butuh, semudah itu hilang.
Andai bisa begitu saja lari. Sayangnya terlalu sayang.

Wednesday, 30 September 2015

Karena Kamu Suka September

Perlahan Aku menarik kepalaku agar lebih tegak, mecoba membuat jarak dari mata tajamnya yang menyeruak masuk ke dalam mataku, seperti
menuntut. Amat jelas aku lihat pupilnya mengecil, fokusnya tidak gentar oleh apapun.
Ini memang wanitaku.

Kami duduk di pendopo kecil di depan gedung kampus. Langit mengatakan bahwa jam sudah berlari ke angka tiga. Waktu terasa terlalu cepat,
dalam hati aku mengutuk diri sendiri karena melupakan peraturan tidak tertulis bahwa aku harus selalu berkabar untuknya.

Susah payah aku bertahan agar tidak membuang pandanganku dari matanya. Aku tidak ingin menjadikan tundukan sebagai tanda bahwa aku mengaku bersalah. Tapi semakin lama tatapan itu semakin terasa membunuh. padahal September kali ini tidak ada hujan, Tapi tanganku mulai terasa
dingin. Tak terdifinisi bagaimana takutnya aku apabila Ia marah.

"Engga ngerti orang khawatir?!", tangannya mencengkram pelan pergelangan lenganku. Hal yang paling aku takutkan adalah ucapannya
yang lebih membunuh ketimbang matanya. Membuat rasa bersalahku semakin memuncak. Tak kuasa, akhirnya aku berpaling dari matanya yg bundar. Mempertahankan suara bising kampus yang sedari tadi menyelimuti kami. Membiarkan Ia menangkap jawaban dari sikapku.

Pikiranku berkecamuk, ikut berlari bersama jam yang kini sudah setengah jalan menuju angka empat. Mencari cara bagaimana mengatakannya. Menyusun kekuatan agar suaraku tidak bergetar.

"Ikut yuk," akhirnya aku membuka suara atas keheningan kami yang berisik oleh orang-orang. Sikapnya terlalu dingin untuk mendapatkan  penjelasan, yang aku tahu Ia sangat kesal karena kekhawatirannya sia-sia setelah melihatku baik-baik saja. Aku beranikan diri untuk meraih tangannya, dan Ia menerimanya.

Kami berjalan ke dalam gedung kampus. Menjamah koridor tua yang sudah tidak digunakan. Kelas disekitarnya tidak terjadwal karena jumlah mahasiswa yang berkurang. Hanya segelintir mahasiswa yang menggunakannya untuk melewati jalan tikus ke rumah kos.

Kesunyian kini menang. Seya tidak mencoba untuk bertanya lagi karena sudah dipastikan aku tidak bisa menjawab. Membuat ketakutanku sedikit
mengendur. Kemudian muncul lagi bayangan di kepalaku dengan cerita yang aku buat sendiri sedari pagi. Meskipun keyakinan bahwa respon
yang terjadi tidak akan lebih hebat dari yang aku bayangkan.

Langkah terakhir berhenti di depan pintu kamar kos-ku. Tatapan heran mengelilingi setiap gerakanku. Pelan-pelan sekali aku membuka pintu
sambil mencuri pandangan ke arah matanya. Seya tetap diam, sampai aku tarik tangannya masuk ke dalam kamar.

Tart kecil aku taruh di atas meja di tengah ruangan, lilinnya belum menyala. Tepat diatasnya 30 tali balon helium warna biru muda aku ikat bersatu sebagai tempat kartu ucapanku bergantung.

"Untuk 30 kita yang lebih spesial,"

Dan dia tetap diam.
"Sebenernya ini buat nanti malam, tapi pasti nanti malam aku udah kamu makan saking sebelnya,"

"Kenapa Rai?" matanya berkaca. Aku tahu betul kelemahan wanita, tapi kali ini sungguh karena aku cinta.

"Karena ini September, karena kamu suka September"

Saturday, 19 September 2015

Kerajaan Runtuh

KERAJAAN DISERANG!!!!!!!!
Granat berbagai jenis berterbangan dari segala arah.
Incendiary, Flashbang, Fragmentation, Low Explosive, High Explosive
kelas C-2, Nitroglicerine String, Napalm Gel, setidaknya hanya itu
yang tertangkap mata para prajurit.
Sisanya datang saat segalanya sudah hancur.

Pilar beton bergaya Eropa dengan ukiran wajah Raja yang mengelilingi
bagian atasnya, Lantai keramik berlapis kristal, tahta Raja berhiasi
beludru emas, hingga semua air kehidupan luluh lanta!

Beberapa prajurit yang hanya terluka, pergi memberikan serangan balik.
Sisanya meninggal di tempat. Rencana dibuat tidak seberapa matang.
Tidak ada waktu!

Raja melarikan diri dengan punggungnya yang terbakar, terseok-seok di
atas pasir panas yang membara akibat api dari kerajaan yang meloncat
kesana kemari.

Prajurit habis di medan tempur. Raja tergeletak sendirian.



Wednesday, 5 August 2015

Demi Hadiah Kecil dari Nenek dan Kakek

Disaat aku setengah hidup berjalan tanpa kamu lagi, ketika aku terlalu butuh kamu dan harus berfikir bahwa cinta sudah bukan untuk digenggam. aku jatuh bangun mencari tangan yang biasa menuntunku setiap kita berjalan. tapi kini hatiku seolah terbalik sewaktu kamu kembali meminta keberadaanku tetap terlihat, walaupun meja putih itu telah rusak digores. sunguh demi hadiah kecil dari nenek dan kakek diumur kita yang pertama, aku takut cinta ini benar benar akan memudar.

Lembayung

Hujan sore itu akhirnya berhenti. Air hujan mengalir membawa sebagian luka yang masih berdarah. Lalu sisanya membekas.

Langit gelap semakin pudar dan menguning. cahaya memanjang menembus kaca jendela yang basah bekas air hujan, memantul tepat diatas foto kita. Aku harus bagaimana? 
Detik kini berjalan lebih lambat lagi. Hatiku mulai gelisah. Layaknya orang yang sedang merindu. Satu hari rasa satu tahun. 

Pelan - pelan mataku mulai terpejam. Aku lakukan seperti apa yang diperintahkan tubuhku. Satu dua detik berbaris hingga lima belas menit lamanya. Lagi - lagi aku tersentak. Detak jantungku bekerja begitu cepat. Tanganku gemetar lalu aku menangis. Hanya menangis di dalam dekapanmu. Dan tersadar bahwa Kamu adalah mimpi. 

Lembayung perlahan memudar, lalu langit berubah menjadi muda. 

Biru. 
Matahari berbaur menjadi keunguan. 

Aku turun dari tempat tidurku. Keluar dari hangatnya Persembunyian di dalam selimut. Melangkah dan membuka jendela. Wangi air yang sejuk masuk di sela - sela rambut dan telingaku. Aku lihat bias cahaya mewarnai titik titik udara yang tidak bisa aku sentuh. Sesuatu yang sejak lama aku tunggu dan Tuhan memberikannya. Begitu lama aku melihatnya seperti melihat kita, tidakkah kamu juga merindukannya? Merindukan kita. 

Wednesday, 27 May 2015

Pada akhirnya kita juga pasti tahu. mana perjuangan yang harus dibalas dengan perjuangan juga. bukan penghargaan

Sunday, 24 May 2015

Jatuh Cinta

Jatuh itu sakit.
Cinta adalah obatnya.
Maka jatuh cintalah dengan benar.
layaknya orang banyak lakukan.
maka jatuh cintalah dengan tepat.
meskipun tidak bisa memilih dimana akan jatuh.
maka jatuh cintalah dengan hati.
karena ketulusan asalnya dari sana.
lalu biarkan orang lain ikut bahagia, sebab begitulah jatuh cinta yang benar.

Saturday, 9 May 2015

Monday, 4 May 2015

Tuhan, jika cobaan tidak pernah melebihi kemampuanku, maka setidaknya kirimkan aku sedikit kekuatan lagi.

Wednesday, 1 April 2015

Dua, tiga jam aku berpaling dari nanar mata yang sejak kemarin menerka isi hati perempuan dihadapannya. menggigit bibir, mengepal tangan, mencubit pipi, menahan tiap tetes air yang memaksa keluar dari mata. mencari cinta yang entah telah mati atau tertutup luka. kemudian aku diam sendirian di pojok ruangan kosong yang amat dingin, menyuruh hatiku merasakan apakah masih ada sedikit rasa hangat di dalamnya. belum merasa cukup. aku keluar lalu menapak di lorong gedung tua yang sepi. telingaku bisa dengar setiap gaung langkah sepatu putihku yang meninggalkan jejak kaki transparan diatas lantai yang juga berwarna putih, meski warnanya sudah terlihat tua dan kusam. aku berhenti di tengah lorong, mengerenyitkan dahi dan sedikit menunduk. mendekatkan telingaku ke arah dada. mencoba mendengar apakah hati ini masih meneriakan nama yang telah mengisinya selama hampir seribu hari. Semuanya masih belum cukup sampai akhirnya aku beranikan instingku mencari aromanya, aku paksa mataku berputar mencari matanya, dan hatiku akhirnya menjawab ketika aku melihat langkahnya semakin menjauh dan berkata melalui senyum tipis, lalu ia pergi.

Sunday, 22 March 2015

Kepadamu, Kepadanya, ini Buku Harianku

Kepada cinta yang telah luntur kesuciannya
Kepada manusia yang melakukannya
Kepadanya, Kamu, dan mereka semua.
Aku menulis dengan segenap jerih payah untuk memulai. 
Demi hati yang telah kalian injak
Demi hari dimana kebohongan berjalan
Demi pikiran yang sedemikian kacau
Terimakasih telah mengajari bagaimana caranya menjadi orang hebat.
tulisan ini buku harianku, aku persilakan semua orang membaca.
karena aku suka menulis, dan aku suka tulisanku dibaca.

Friday, 20 March 2015

Hidup Seperti Roda Itu Benar

Nanti, suatu saat aku akan cerita yang indah indah.
Ketika aku sudah berhasil melewati masa ini.
Ketika ada yang menyebut namamu, hatiku biasa saja.
Ketika aku sudah bisa tersenyum tanpa topeng.
Saat luka yang berkali kali tergores meskipun yang sebelumnya masih basah sudah pelan pelan mengelupas hilang.
Saat akhirnya dari 1 sampai 100 adalah 100 tanpa berharap apapun.
Ketika aku memberikan cinta dan aku ikhlas.
Saat itu akan benar - benar datang, karena aku tau Tuhanku baik sekali. Semua yang tidak baik Ia buat pergi. dan sudah terbayang betapa bahagianya aku setelah ini, setelah semua Ia berikan bertubi - tubi tanpa jeda. Sudah terbayang betapa aku akan sangat bahagia, karena hidup seperti roda itu benar, ketika aku diberikan roda yang amat besar, meskipun aku harus jatuh jauh kebawah, tapi aku tau di atas sana sangat tinggi.

Sunday, 15 March 2015

Bunyi Daun Kering

Kretak kretek bunyi daun kering yang tertimpa gerimis membangunkanku. aku sedang bermimpi indah, sayang sekali hujan menghentikannya begitu cepat. belum aku rasakan bagaimana akhirnya meskipun itu hanya sebuah mimpi.

Sedikit cahaya masuk dari lubang angin diatas pintu kamar, asalnya dari ruang keluarga yang tepat berada di luar pintu kamarku. tiba tiba langit menggelap dan semakin memperjelas cahaya yang tadi masih membaur. aku lihat ke luar dari jendela, daun kering tadi sudah diselimuti air hujan yang mendadak deras. amat deras, hingga aku tidak bisa melihat dengan jelas garis garis rumah yang berhadapan dengan jendela kamarku.

Jantungku berdegup, tersentak begitu keras karena kilat yang muncul menembus kaca jendela yang diikuti suara petir dengan jarak mereka yang hanya setengah detik. Aku diam untuk beberapa lama, lalu tersadar dan berlari kecil masuk ke dalam selimut merah mudaku yang tebal tanpa tersisa sedikitpun bagian tubuh yang terlihat.

Detik berjalan sangat lambat sekarang, atmosfer hujan mengingatkan aku tentang apa yang membuatku tertidur begitu pulas. sesuatu yang bisa terlupakan hanya dengan membawanya terlelap. entah hormon apa yang membuat perasaan ini semakin merasuk hingga ke setiap mili helai rambutku.

Pikiranku jauh pergi kebelakang. mencari letak akhir mimpiku barusan. mata besarku melirik jendela yang sekarang sudah basah dialiri air hujan yang terus menerus datang.

langit gelap dan semakin gelap seperti malam, udara dingin dan semakin dingin seperti pisau menusuk - nusuk kulit, hatiku pasrah dalam dekapan hujan, berdoa pada Sang Pemberi Rasa dan Maha Mematikan Rasa,  Tuhan, jika hari ini hujan, aku akan menunggu pelangimu

Aku pun, ikut menghitung hari.  Menggeratak cara lain lagi bagaimana rela menjadi sekejap yang aku bisa. Seakan-akan di tepas kesakitan menu...