Sunday, 14 June 2020

Bertemu

Cara kita bertemu sudah kuterka sejak ribuan hari yang lalu. Hari ini tiba waktunya  namun tidak satupun khayalanku berjalan menjadi latar. Tidak untukmu tidak padaku, cinta mengaku sebagai rahasia purnama tapi jelas mata adalah indera paling jujur. Aku tangkap hati yang rekah juga ragu. Kita bukan manusia sejenis, Tapi jatuh cinta adalah tentang perbedaan. 











Risiko Paling Besar

Pembicaraan kita selesai di sini. Bagaimanapun yang membuat trauma bukan kehilangan tapi mencintai. Sayangnya aku tidak lagi mau mencintai, tapi jika kau orangnya, risiko paling besar kuhadapkan pada wajah sambil tersenyum. Akhirnya kau datang. 

Kuterima rindu yang kau kirim melangkahi pesan singkat. Sungguhan singkat karena yang kau tulis hanya rindu pada pelukku lalu lenyap lagi. Tapi tidak mengapa karena kau lebih memilih muncul dan kita berbagi langkah. Berbagi rindu. Melengkapi purnama sebagai janji kita tentang cerita-cerita kehidupan yang sarat. Aku tidak pernah keliru, bahwa tiap hembus napas yang kita tukar melingkari kesempatan baik kau maupun aku bahagia satu kali saja, sebab katanya kita berhak bahagia setidaknya satu kali dalam hidup. 

Tapi bahagiaku tidak pernah lebih dari gemetar yang muncul saat kau mengecupku dalam pejam.  Dalam penghayatan rasa sakit yang mengacau. Kita tidak akan pernah saling pulih tapi kita saling tampak. Untuk rintih yang kau dan aku nyanyikan berulang-ulang, kepada gemuruh suara yang berisik di dalam kepala, kepada jarum melintang di tenggorokan dan mendekam di sana, kami persembahkan jiwa yang luluh lantak dalam kehidupan. 

Kembali

Tentang menjuranya aku di bawah langit 
dan kami menangis bersahutan, 
setidaknya ia berkawan erat dengan bulan Juni. 
Sementara aku gelisah 
karena sebelah tanganku yang hampir tertangkap basah, 
meletakkan harap pada lengkara umpama kau ada di sini. 

Aku masih saja berkenan duduk di hadapanmu 
meski yang kau tatap adalah pandangan kosong. 
Kita, sama-sama tahu bahwa 
cinta ialah hal terakhir yang mungkin kita ulas. 
Asumsiku, yang akan kau bahas bukanlah padaku. 

Entah bulan Juni atau langit yang menangis, 
kuharap keduanya menilikku 
memeram sara yang kau titah untukku bertahan, bernapas. 
Sebab justru membiarkannya tetap terkemas rapi 
adalah dayaku berlapang dada. 
Sebab sejujurnya nadiku tidak lagi mampu 
berderu selepas kita menjarak. 
Sebab cintaku memilih bagaimanapun itu adalah namamu.  

Aku menjelma mintuna yang lekat dengan cinta kasih. 
Cintaku bukan legendanya dengan mimi di pesisir pantai, 
pun kisah abadi habibie yang mencintai ainun setengah mati. 
Kau tahu pasti aku tidak berdaya mencintaimu lebih dari ini. 
Hingga yang kulakukan hanya menantimu bukan menyusulmu, 
sampai-sampai yang kumampu hanya merindukanmu 
tanpa tegar beredar di sisimu.

Kini aku paham, 
perihal kata kita yang jadi satu-satunya misteri 
selama tahunan kau dan aku saling pergi. 
Sejak hari itu, ketika aku yang lebih dulu 
mendapati tatapanmu cukup panjang 
berhenti pada rona yang hendak memerah
Yang menutup dukanya dengan gelak berlebihan, 
yang mengubur laranya selapis demi selapis 
di balik sorot mata yang menjawab tatapanmu. 
Ia begitu berani. 

Kini aku paham,
Arti radar yang berdengap kuat
Hatiku menangkap hembus angin yang tidak tenang 
Intuisi mengolok logika yang mengaku
Dirimu adalah milikku
Di detik yang sama kutahu kau sebenarnya bukan untukku

Pada akhirnya aku sengaja memaku diriku, 
Melahap malu hati pada diri. 
Satu dekade selesai dan aku masih berpikir.
Aku, jatuh cinta yang biasa-biasa saja.  
Namun semestamu mengecohku dengan langkah yang salah
Saat itu pula aku sadar bahwa
Hujan bulan Juni hanya berpura-pura tabah. 

Karena yang kulihat hari ini, 
Kau kembali.
Menggarit cerita yang enggan datang. 
Sungguhpun kau tetap berjalan. 
Menarik senyummu yang sebenarnya jengah. 
Kau bawa pulang lenganmu penuh goretan meruah. 
Kau papah hatimu yang lelah bertingkah.
Kau muak, dirimu kembali untuk menyerah. 

Aku sama sekali tidak kebal melihatmu hancur. 
Hening kita jadi jawab apa kabarnya hujan bulan Juni. 
Hidup yang kau tinggalkan muncul dalam benak. 
Betapa dirimu pada mulanya pergi lalu kembali. 
Lalu kau kembalikan dirimu yang lumat. 

Kita duduk di pinggir teras yang kala itu basah oleh tempias. 
Hujan sudah berakhir. Kali ini kau lebih pilih menatap tanah liat
Melengahkan bentangan tanganku yang biasanya kau tangkap. 
Rindu yang berapi-api padam dengan sendirinya. 
Hatiku lebih pilih menyimpan beberapa saat lagi.  
Hingga kau benar-benar kembali.  

Karena yang kulihat sore ini,  
Dirimu jatuh dan tidak berdiri. 
Tatapmu kosong dan penuh luka. 
Jiwamu hampa dan kau berbicara,
Sore ini hanya pada lembayung emas.  
Kita membungkam segala suara dengan sengaja.  
Sebab aku tahu dirimu hanya ingin pulang. 


Sunday, 24 May 2020

MASIH UNTUKMU LAUT YANG BIRU.



Masih untuk laut yang sama, samudera yang dalam, kama getir yang bertentangan dengan renjana. Perihal amigdala yang sejak dulu jadi poros, aku mampu menjadi apa saja. Bara yang jadi arang, atau langit yang membiru. Aku mampu membaurkan jingga menjadi titik titik cahaya yang berkaca padamu. Atau bertukar peran dengan neptunus, pergi jauh darimu, lalu menari sendirian di ujung tatasurya. Kita akan jadi sepasang gradasi kebiru-biruan. Sepasang yang menepikan jarak. Hal terakhir yang bahkan tidak mampu menyibakkan cintaku dan namamu.

Kita akan jadi sepasang kamuflase dalam biru, kekasihku adalah laut yang dalam. Samudera biru yang kupuja-puja. Aku dan kau bersenyawa dalam jeda, berkamuflase dengan warna. Sebab aku tahu betul kau tidak benar benar biru, dan aku tidak benar benar membaur. Cinta beranak pinak dengan hati bias. Diri sendiri mengendap di dalam rongga dada. Sama sekali tidak berencana menggeser takhta amigdala. Mencintaimu akan tetap bermakna sama, karena aku menyerahkan diri dengan segenap jiwa, dan raga. 

Sunday, 17 May 2020

UNTUKMU LAUT YANG DALAM.


Ketika aku percaya bahwa hati dan diri adalah bentuk lain dari kesakitan, alam merundungku yang tengah nyaman duduk sila bersandar dengan satu tangan ke belakang. Berangan jika akulah lakuna yang dalam, menatap kejauhan di hadapan langit petang di atas samudera. 

Teruntuk dirimu laut yang dalam. 
Sebermula aku menjajak kakiku tergantung di tepi perahu. Serupa surya yang berencana tenggelam ke dalam hatimu. Sebermula aku menerka rasa damai melalui intuisi, meladeni delusi menyebrangi sekat yang jelas terlihat. 

Aku bak baskara yang nyaris terbenam. 
Garis tipis yang melengkung membatasinya. Kiranya kau menyambutku dengan lapang dada. Perkara aku datang membunuh diriku. Meredam lara karena padamu aku akan jadi bara. 

Tapi kau laut yang dalam. 
Dan aku baskara yang meredup. Sekujur lingkaran yang menyala mendadak rengsa, sebab aku pikir mengakuimu selaras dengan purnama adalah sikap dewasa meski sengsara. Sejak ku lantangkan diriku sebelum merapat pada kasihmu yang basah.

Sejak awal, pada era pertemuan kita di garis cakrawala. Menjajal hatimu yang terlanjur dingin, dan gelap, dan luas, dan berair adalah mimpi yang tidak pernah aku bayangkan. Sebab sejatinya kau begitu serasi dengan cahaya malam. Hitam legam sebagai simbol jiwa yang kelam.

Maka aku akan tenggelam. Menjadi bara. Menjadi arang. 

Wednesday, 13 May 2020

Lanskap

Ada dua kemungkinan yang terjadi saat jatuh cinta, kau menjadi bukan dirimu, atau kau kembali menjadi dirimu. Tapi cinta tidak akan pernah salah. Bilamasa hujan tidak turun di bulan Juni maupun September, langit unguku akan selalu menunggu, tembakan-tembakan api akhir tahun. Kendati dirinya tahu tiap sorot yang menujunya melubangi pertahanannya hingga banyak, hingga yang tersisa hanya lanskap penuh bintang, dan penuh lubang. 

Tapi cinta tidak pernah kalah. Bilamasa yang terjadi kau harus melepaskan, ada dua kemungkinan yang akan terjadi. Kau akan kembali menjadi dirimu, atau kau kehilangan segalanya, termasuk dirimu sendiri. Bilamasa hujan tidak turun di bulan Juni, lanskap penuh bintang yang kau pandang akan jadi hal yang lebih tabah. Jauh lebih tabah. 

Saturday, 9 May 2020

Aku hanya mohon menunggu sedikit lagi, lika liku luka laik menempa. Memang setiap manusia berhak atas setidaknya satu kehancuran dalam hidupnya. Hingga kita mampu menakar kadar nuraga yang manusia miliki. Mulut tidak selalu buruk, tapi hatiku tidak hentinya mengutuk. 

Langkah demi langkah akhirnya membawa aku kembali ke sekolah dasar. Mengulang satu pelajaran bagaimana cara bernapas dengan benar. Aku, amblas lenyap, dan hilang, terbenam dalam nuansa putih merah. Dan lorong-lorong itu, atap yang lowong, dari pekarangan rumah yang sebenarnya tidak perlu banyak menyelong. Malam melonglong tapi jiwaku tetap kosong.

Aku berangkat menantang peruntungan, menurutku hidup ini berhak atas setidaknya satu kebaikan, atau kesenangan, ketenangan, atau kedamaian. Tentunya aku boleh pilih yang mana, tapi ambil satu. Lalu kabur. Anggap aku melebur. Biarkan keburukan mencariku hingga inti bumi. Biar yang ia temui hanya, sisa dari kehancuran yang aku tanggalkan. 

Friday, 1 May 2020

Bahagialah!

Sayangnya, kau tidak pernah tahu bagaimana mata jadi indera paling jujur. Meski senyum lebih sering mengembang jadi tawa yang sengaja direnyah-renyahkan, matamu selalu bicara, dengan pekik yang lantang bahwa hati itu luluh lantak. Aku akan tetap di sini, mengamati dengan baik bagaimana sempurnamu jadi topeng untuk hati yang terluka parah. 
Jika langkahmu terlalu jauh, baiknya menurutku kau bisa istirahat, sebentar saja. Temui gadis di taman sebelah utara itu, atau kau bisa tunggu aku di simpang timur. Namun, lebih dari semua itu. Jika ketenteraman hanya kau temui dalam kesendirian, bahagialah.
Malam dan kesendirian adalah hal paling mutlak dan paling sunyi. Karena yang kamu butuhkan hanya rasa perih itu, keheningan, malam yang gelap, bintang-bintang sebagai lenteranya, bulan jadi kawan dalam sedumu, lantunan nyanyian patah hati, dan dirimu sendiri. 
Percaya tidak kalau kujanjikan renjana jika kamu bertahan sedikit lagi? Belum lama aku akhirnya paham tentang Tuhan yang tidak pernah mengaturnya jika kamu tidak mampu. Kita selalu sanksi tentang diri kita yang melebihi apapun. Padahal ketika luka dikirim-Nya sebanyak dua, kau hanya perlu bertahan hingga hatimu jadi tiga. Ketika perihnya layak membakar duniamu, bertahan sedikit, sedikit saja lalu kau akan jadi semesta. Jika takdir memburuk dan jadi lebih brengsek lagi, kau hanya perlu bertahan dengan jadi lebih bajingan. Bukankah kau adalah pejuang yang tidak pernah mengalah?

Tuesday, 28 April 2020

Aku hanya tersenyum, lirih. Nanar matanya mencari kejujuran
senyum yang lebih pedih justru membingkai wajah teduh di hadapanku.
iba pada dirinya, dan diriku. Iba yang menusuk setiap mili hati kami. 
seolah ada kata yang harus diucap, namun seribu bayang kelam 
menghentikan seluruh gerak tubuh. Aku kaku. 

Ucapan berhenti pada kata yang belum mampu kukatakan, 
Bola mataku berkeliling, mencari akhir dari apa yang aku mulai. 
Panggilan menggantung yang butuh jawaban terasa berat 
karena akhirnya aku memilih menyimpannya lagi. 
Sejuta tanya yang aku bungkus rapi, setumpuk amarah 
yang mengeras dan akhirnya luruh sendiri.

kebingungan yang menyamarkan rasa cinta 
menjadi benci kemudian cinta kemudian benci 
dan terus begitu selama tahunan dirinya pergi. 
Semua itu tunduk pada rindu yang bangkit setelah ia kembali.
Andai kamu tahu jatuh cintaku hanya butuh 3 detik. 
Sama seperti, ketika kita bertatapan. 
Aku tenggelam dalam riuh gejolak yang berteriakan, 
Menyebut nama-mu dalam rongga dada paling hampa. 

Namun, kasih.
Andai kamu tahu tidak semua kejatuhan akan cinta, 
Mampu berkilah tentang kebahagiaan.
Nyatanya aku perlu mengais setitik demi setitik 
Jiwa bahagia di bawah rintik-rintik. 

Langit mendung tertawa nyeleneh, 
Aku dengan respon paling murah ketika kamu hanya tersenyum. 
Menyisakan ucapan tanpa suara di ujung gelisah,
Menenggelamkan sendumu, 
bersandar dalam pundak yang sama letih. 

Betapa aku tidak memohon untuk berdiri di sana,
Di sisi petirahan karena pun kamu sakit parah.
Kamulah, sisi cermin cekung yang mengecil 
Kitalah gambaran afeksi paling menyedihkan.

Namun, kasih. 
Jika kubiarkan hasta ini meraihmu tak kenal batas, 
Sebelumnya kita sudah jadi abu bakar yang getas. 
Jika kurestui jiwa ini memilikimu barang sebentar
Harus kurelakan kamu hilang dari sukma setelah itu. 

Yang kusadar, ketika kita perlu mati untuk bisa hidup lagi,
Aku, kita, tidak lagi mampu bertoleransi atas kehilangan.
Ketika, para manusia sibuk belajar cara memanusiakan, 
Aku, kita, cukup damai kala hanya mampu bernapas lega.

Monday, 20 April 2020

Dua Tahun Silam

Sementara aku menakar upaya mengatakan padamu, 
Syair-syair aku simpan setiap hari dengan rima tidak jelas. 
Kabar berita aku sampaikan tertulis, 
tersegel tera tertentu kepada engkau, 
pendurian dalam sanubari. 
Kabar cerita aku lisankan dengan nalam, 
dua tahun terakhir. 

Surat untuk kau, terkasih, aku linting setiap lembarnya
yang kusimpan dalam bun tua, bun tembaga. 
Cintamu aku kemas dalam pusaranya. 
Salam. 

Apa kabarnya rinduan rua yang menyusur 
nestapa kisah dua manusia? 
Bertahun-tahun memaknai karma 
pada nirmala yang suci. 
Aku menempatkanmu jejak 
dalam takhta keemasan yang berpinar, 
berpendar.  

Aku letakkan pamrih paling besar untukmu, 
bernyawalah dengan syahdu, 
bahagialah tanpa sanda. 
Sebab dari tiap gelak manismu, 
aku cukup pilih tilam meski basah 
alih-alih airmataku berurai dan rembes. 
Cintaku juga kukemas bersama milikmu,  
kulepas peri, aku baktikan hidupku dalam sedu pilu.

Geram tetap pada suratan yang tidak pernah mujur 
Karena padamu tidak boleh aku gapai dengan jemari.
Aku ini,  bentuk lain dari kedurjanaan alam semesta. 
Siapa berani memaksaku tertawa?  
Biar aku wakilkan kebencian pakai hati yang mendidih.
Pada takdir jahanam yang tidak pernah memihak kita. 

Kali ini, dari pesisir pulau Rubiah yang biru. 
Maafku mengingkari janji
Harusnya kau jangan pernah percaya, 
Jika kujanjikan surai ini tetap berkibas lembut, wangi. 
Jika kutetapkan karang sebagai nyawa yang keras dan indah. 

Kendati aku lesap, 
hanya kusapa ibu pertiwi dari ujung-ke ujung, 
bentala paling mulia. 
Aku kirim, padamu terkasih, 
doa paling tulus meskipun terjarak ruang sela, 
menangis dari sini. 

Padamu, kasih, akulah ambang pelik yang menjadi
Kelopak yang tersisa dari gugurnya bunga edelweis. 
Tidak hidup, pun mati. 
Kala itu, aku tetapkan kisah kita jadi nyalar abadi. 
Dari dataran paling tinggi, menyunyi dari suara-suara hati
Yang ingin merebut kembali.

Aku, tidak cukup cakap melakukannya. 
Karena ketahuilah, 
Dara kirana yang pada akhirnya datang, 
Adalah rakitan doa-doaku tiap malam yang panjang.
Aku hanya titik koma dengan mental paling kecil. 
Sibuk menantang garis hidup, mana? 

Patah jadi perkara yang sudah biasa, 
Rasa yang kerap pati dan aku tahu diri. 
Menjura di bawah langit yang terluka parah. 
Kami sama-sama menangis. 
Ia menjerit dengan petirnya, aku tergugu dalam laraku. 
Aku merebah diri pada, alam dan seisinya. 

Friday, 17 April 2020

tatkala hanya bisa bercumbu dengan 
ilalang-ilalang tanah lapang, 
di sudut kota itu. 
aku mengais
mengumpulkan asa yang berselirak.

hati ini tetap bergemuruh, 
bersimpuh. gelisah. 
bernalam dalam jiwa yang lebur 
dan hidup yang kusut. 

sejauh pandang 
ilalang-ilalang lunglai, 
dan sekumpulan mawar kuning liar 
yang sudah mati.  
bilamasa aku susut
kehilangan satu tangkai
jadi mati sebelangga. 

alam semesta merengkuh,
di bawah langit yang kemayu,
malu malu menyapa 
anak hawa yang berduka.
aku jelas, meregang jiwa. 

namun engkau, 
barangkali bajingan tanpa nuraga. 
harmoni sajak cinta, 
gelimang cita.
nikmatilah bahagiamu yang sehasta, 
sisanya telah aku sumpahi jadi cendala.

Monday, 13 April 2020

kamu tidak akan pernah tahu bagai pijakan yang berat, aku bertahan dengan amunisi yang ter-sisa. aku kembali ke pinggir telaga, wangi amis lumut danau yang menyambutku haru, lunar penuh dalam bayangannya yang memanjang dan samar-samar.

aku menangis sejadi-jadinya. dingin tidak pernah lupa memelukku yang terluka parah. kejatuhan dengan mantra kasat mata kehijauan. bagai sihir nenek rumah hutan yang kelam. aku tenggelam.

Thursday, 9 April 2020

belahan jiwa

aku masih menulis di alinea yang sama, menyelesaikan kata-kata yang belum sempat aku sampaikan. seribu dua ribu lembar tidak akan membuatku istirahat dengan mudah. 

tentu aku percaya konsep jodoh, tapi tidak dengan jodoh yang gak kemana.  jika kamu pergi, maka aku anggap jodoh kita telah selesai. pun dengan kalimat-kalimat yang sedang aku akhiri sendirian. 

jangan menangis sayang, sesal sudah menjadi bagian dari sukma para manusia. pelik takdir hanya perlu diterima dengan lapang dada. kata-demi kata puitis aku rangkai hanya demi mengenang kita yang pernah terjeda lama. lalu kembali untuk mengukir luka. aku melepasmu. dengan tenaga terakhir yang aku miliki.  

jadi meskipun setelah ini akan membaik atau justru tidak, kamu dan aku akan tetap menjadi bayang-bayang kisah anak manusia yang saling membenci, mengenal, mencinta, menyakiti, membenci lagi, melepas, dan pada akhirnya melupakan. 

beristirahatlah, sebentar cukup.  

aku akan merelakanmu jatuh cinta lagi setelah itu. akan aku lepas, kamu, dengan air mata. demi menghargai kisah patah hati kita yang rumit. meratapi duka mendalam atas kehilangan belahan jiwa. 

jatuh cintalah dengan benar. tidak perlu menggebu-gebu. ingat bagaimana kita jatuh cinta, tapi pada akhirnya menyerah juga? takdir buruk tidak akan selamanya bertahan. takdir baik tidak mungkin selalu berpaling, bukan? 

Wednesday, 8 April 2020

bulan penuh milikmu.

sebenarnya ada alasan kenapa beberapa pesan untukmu selalu berhenti menjadi paragraf-paragraf yang tidak sampai pada tujuannya. aku selalu cemburu karena bulan purnama lebih dulu menjadi kekasih yang kamu puja-puja. aku selalu mencari tahu apa yang kamu suka dan pada akhirnya aku menyerah saja.  menjadi tahu diri. 

bulan penuh warna merah muda selalu menjadi yang paling indah, aku yang mencari tahu jadi lebih suka padamu dan padanya. Tuhan suka bercanda. aku dibuat jatuh pada kamu yang tidak mungkin tergapai. pada kamu yang lebih mencintai satu lingkaran terang yang semu. terlalu jauh untuk aku yang hanya mampu meraih dengan tangan-tangan pendek yang lunglai. 

jadi sudah kupastikan, aku hanya akan mencintaimu dari sini. bumi yang lebih sesak tapi selalu dengan hangat merengkuh. aku menjadi salah satu anak adam yang tidak akan mengerti terlalu baik. aku akan jadi pelindung bagi diriku dan hatiku, jika beberapa jam yang kita habiskan menjadikanku terlalu tenggelam dalam cinta, kamu bisa bawa aku menyangga di tepi. 

lalu sampaikan lagi padaku bahwa aku tidak punya bahkan sedikit sisa-sisa hatimu yang penuh dengan bulan purnama. aku hadiahkan padamu, wenang untuk tinggalkan aku sebentar dalam ruang yang kamu biarkan redup dengan lampu-lampu kecil warna biru. jangan pernah lelah untuk ingatkan aku tentang pelukkan rasa iba. bukan rasa cinta. 

baiknya memang kita potong rasa yang rambat dengan lambat. aku hadiahkan lagi kamu wenang untuk tidak peduli. cukup jalani hidup dengan bertahan dan jangan lupa minum air. lalu temui aku lagi beberapa tahun setelah ini, mungkin bisa saja kita duduk menatap bulan pujaanmu itu. semakin lama semakin baik. jangan lupa peluk aku lagi dan biar rasa-rasa iba kita berubah menjadi bahagia. 

Sunday, 5 April 2020

bait-bait sajak

Aku hendak menyapa, sejak aku pastikan kamu mendayung dua perahu kecil itu menuju bintang utaramu. aku baik-baik saja jika memang bait-bait sajak itu mengingatkan kembali, dan aku menemukan kita di jeda-jeda sebelum dan sesudahnya. 

waktu yang terus berlarian dan aku seorang diri,  menegurku dengan kasar. jika memang jeda-jeda itu menjadi ruang kosong tanpa sedikit pun kata-kata, aku telah yakin bahwa segalanya memang diatur sedemikian bijak. 

hanya kita yang terurai tidak bijaksana. detik-detik yang sepi terus menghantuiku dengan kisah romansa dua manusia yang kita wakili. namun, aku dan kamu melepas remah-remahan rasa gelisah itu dengan angkuh. mencari-cari di mana bintang utaranya? 





Thursday, 2 April 2020

pinjam senjanya alina

jangan pernah tanyakan padaku bagaimana kabarnya jalan tepi dan pohon-pohon kering itu. pun tentang kawanan burung yang melintas hanya sekelebat. sama sepertimu yang tidak menunjukkan peduli, aku akan memulainya dengan awalan yang sama. 

aku sedang berpikir keras, bagaimana aku berakhir dalam mengagumi, bait-bait aksara yang berantakan. pujangga-pujangga itu terus saja menulis karena luluh lantak. bagaimana kata-kita menjadi puisi yang tidak ingin aku baca untuk sementara. 

Jika hidup bersamamu adalah hal menyenangkan, biar jalan setapak itu menjadi saksinya. dua pasang kurcaci hutan yang menolongku. terlalu bahagia hingga aku merasa hampir mati karenanya. 

jika sebaliknya, aku beritahu bahwa aku menjadi tuna bahagia yang paling menikmatinya. bukan tentang kesialan-kesialan dalam hidup yang begitu fasih menyiksa kita yang sedang kasmaran, tapi bagaimana bisa dekapanmu menjadi yang paling menenangkan? 

seperti alina yang begitu membenci sukab karena senjanya baru datang bertahun-tahun kemudian, aku tetap berpesan jika suatu saat segalanya menjadi baik, cukup simpan senjamu dalam amplop itu. karena tiap duka-duka kita bisa saja kembali jadi malapetaka, karena sepotong senja hanya untuk alina. 

Wednesday, 1 April 2020

Barangkali kamu harus mengingat namaku yang lengkap. aku duduk di sudut bangku panjang. taman ini, taman yang baru jadi. kamu dan aku melingkari jalannya jauh sebelum itu. bergandengan. 

bibir-bibir aspal memisah kita dan kamu bergeser ke kanan. selalu seperti akulah yang paling kamu lindungi,  dari macam-macam ancaman jalanan : dunia. maka aku bilang kamu harus ingat namaku yang lengkap, karena dari sisa-sisa yang singgah atau menetap,  akulah gadis itu. 

yang berjalan beriringan alih-alih langkah kita menuju kota Bogor. aku lihat senyum sumringah bahagia, kamu lihat apa yang kamu suka. tentu bukan aku. daun-daun aglonema itu berkilau-kilau terawat. kita pulang bersusah-susah. bersenang-senang. 

Hanya saja, memori yang kita rangkai dengan serabutan tidak bisa dianggap sekejap. tahun-tahun menjadi belasan dan kita masih saling mengenal, aku anggap jodoh kita selesai. meskipun begitu, aku tetap menjadi layak untuk diingat dengan nama yang lengkap. akulah gadis itu.

Kini, sesekali aku menonton kamu dari jauh. biar amarah-amarah yang lalu aku redam sendirinya, namun tidak sama sekali ber-arti tunggal. aku hanya mengobati sisa-sisa luka yang kamu tinggalkan. demi mengenang tanpa dibumbui benci yang sejak dulu kamu pahat dalam-dalam hidupku. sejak ciuman pertama belasan tahun lalu.

Bangku panjang ini sudah dicoret-coret anak umur dua belasan. padahal baru saja selesai dicat satu minggu lalu. namanya dan nama kekasihnya ditulis pakai tipeks. mereka tidak tahu bahwa cinta mudah saja hilang namun tidak dengan oretan di bangku ini. 

Mungkin sesal mungkin juga tidak, tapi kamu juga pernah menghiasi ratusan lembar buku harianku kala itu. kala puisi-puisi menjadi romantisme hidup kita. sebelum anak-anak jaman sekarang hanya kenal nonton bioskop. lalu berciuman di sana. seperti anak-anak umur dua belasan itu, sesungguhnya aku juga tidak pernah tahu bahwa kamu dan aku selalu saja bertahan sebentar-sebentar. 

Rindu tentu saja rindu. seringkali datang membabi buta. namun akulah si gadis itu, yang katanya masih saja percaya bagaimana hatimu. Aku menolak mentah-mentah meski perintahnya menguasai sanubari. biar saja cinta mati tertanam bersama rumput-rumput yang tetap hidup di bawah taman ini.  Merembes bersama air-air di kali buatannya. 

Di bangku panjang ini aku duduk di sudut. tidak bergerak sejak tadi. hanya sesekali menarik napas dalam-dalam karena sejujurnya rindu ini terasa sesak, memeras tenagaku terlalu banyak. 

Sebentar lagi aku akan berdiri,  dengan sisa-sisa napas menuntun kaki pulang ke rumah. hari ini cukup segini aku mengenang langkah-langkah kita yang berseragam putih biru. sesungguhnya berjalan bergandengan tidak begitu buruk. orang-orang dewasa sibuk bersiul-siul, tapi kita tetap berjalan berirama. 

rasanya ingin sekali menjadi sebegitu tidak pedulinya seperti dulu. alih-alih aku tersadar lagi bahwa seribu kalipun akan tetap kumaafkan jika bayarannya adalah tidak kehilangan. karena aku tahu betul, setelah ini kaki-kakiku akan selalu berjalan dengan langkah-langkah yang berat, meninggalkan kita dalam tubuh kecil itu di jalan-jalan menuju sekolah.

 

Aku pun, ikut menghitung hari.  Menggeratak cara lain lagi bagaimana rela menjadi sekejap yang aku bisa. Seakan-akan di tepas kesakitan menu...