Selasa, 27 September 2016

antiklimaks

antiklimaks adalah, waktu udah bangun suasana jadi super romantis, dikirain mau ngesun pipi, gataunya cipika cipiki. "jadi yang dapet arisan bulan ini siapa jeng?" yaelah. salah momen. wkwk

Rabu, 24 Agustus 2016

waktu berlarian seperti angin. tidak sadar butiran berlalu seperti debu. aku lihat kamu di antaranya. bukan mata hilang kamu seperti samar. tapi waktu pergi bersama perubahan.

Minggu, 21 Agustus 2016

Mas Jong Suk.

okeh. lagi drama syndrome setelah sekian lama ga nontom dulu karna fokus ke tugas akhir yang akhirnya lagi proses jilid.
gue itu pecinta film, semua genre kalo ada (read : di laptop) mah ya ditonton. ga peduli itu horor, romance, anime, action, agamis, comedy, horor setengah b*kep, b*kep setengah horor, sampe film absurd pun di tonton.
cuman yang bisa bikin jatuh hati, jatuh cinta setengah mati #eaa
ya ini. artis korea yang menjulang tinggi kakinya kayak galah muka kayak bayi. JONG SUK oppa, ulululu
geli sendiri manggil oppa, jadi akhirnya gue putusin buat manggil mas jong suk aja. LEE JONG SUK.
si mas superlengkap, nyaris sempurna, wak lebhaay.
semua karakter lengkap di dia. unyu bisa, cool bisa, gaya ganteng bisa (gaya ganteng gimana dhes?), marah nya pas, sombongnya dapet, centilnya apa lagi kalo udah kedipin mata sebelah terus keluar suara "tck" dari mulutnya. ya Allah meleleh. apalagi kalo udah sok sok manja kayak bayi, rasanya pengen langsung timang-timang. ga kuat. ga tahan. tengil, manja, sweet...sampe sampe semalem ijin sama chandra buat selingkuh sama mas jong suk. hem.
A...palagi kalo mas jongsuk nyium cewe ya Allah ampun... gue udah nonton banyak film yang ada ciumannya. bahkan film barat yang ciumannnya sambil telanjang juga gue malah ngantuk, hem. tapi kalo udah liat mas jong suk nyium cewe, bibir baru nempel dikit aja gue nya udah salah tingkah ga jelas, muka merah, tereak tereak, gegulingan, lompat dari tebing, berasa gue yang dicium gitu. boam.
dulu pernah bilang sama chandra, walaupun gue cinta mati sama artis korea, tapi ga kepikiran sama sekali nyari suami orang sana. kenapa? (faktor x) wkwk hayo paham hayo?
tapi kalo mas jong suk mau sama gue..... gapapa ayo mas kita nikah. besok.

Minggu, 14 Agustus 2016

Musim Hujan - 4

Langkah kaki keduanya terasa amat berat. Masing - masing sibuk dengan pikiran yang berkecamuk. Masing - masing diam dengan tangan saling menggenggam. Ini semua tentang jantung yang berdegup lagi setelah Rai kembali. Namun takdir seolah tak mau peduli pada perasaan mereka yang menggetir.
Tidak Dira, tidak juga Rai. Tidak ada yang berharap bisa kembali pada waktu yang telah lalu. Harga mati pada takdir dan mereka menelannya dengan pasrah, meninggalkan cerita mereka di pekarangan villa.
Petang berganti malam. Motor Rai konstan pada laju yang pelan, menjaga suhu tubuh mereka yang basah agar tidak terlalu dingin terkena angin.
"Ra, mampir dulu cari makan yuk?" Ajak Rai setengah berteriak agar suaranya menembus helm full-face yang ia kenakan. Dilema memuncak, hati terlalu gundah untuk menjawab iya, rasanya masih tidak benar. Tapi Rai menyerangnya dengan kenangan yang bertubi-tubi. Lalu wangi tubuh yang serasa ikut masuk bersama angin ke dalam rongga dadanya, ikut masuk ke dalam pikirannya, menggali lagi kenangan lebih banyak. Mulut terlalu kebas untuk makan, tapi tubuh rasanya butuh energi untuk menangis kali ini.
"boleh," satu kata yang enggan namun akhirnya keluar juga.
Rai melipir. Terlihat Satu Ruko dengan lampu menyala redup. Toko Baju. Dira baru tersadar baju tipisnya masih basah bekas air hujan tadi sore.
"Kita cari baju ganti dulu ya baru makan," pinta Rai sembari memarkir motor di depan ruko kecil yang sudah hampir tutup. Seorang bapak tua penjaga toko sedang sibuk menggotong manekin masuk ke dalam, terlihat ada dua manekin lagi yang tersisa di luar.
Rai turun dari motor, menyusul Dira yang beberapa detik lalu turun dan langsung menghampiri bapak penjaga toko. "Ra, cari yang murah aja yak heee" Bisik Rai disusul senyumnya yang menyeringai mencoba mencairkan es besar di antara mereka. Dira hanya tersenyum, cukup lama. Ia menyadari usaha Rai meskipun tetap canggung, akhirnya Dira mengangkat tangannya dan membentuk simbol O dengan jari jempol dan telunjuknya, menyisakan tiga jari tanpa simpul.
"Cari apa neng?" tanya bapak penjaga toko ramah.
"Ada sweater pak? sama celana juga" jawab Dira dengan pertanyaan juga. matanya berkeliling. semuanya baju cowok. "sweater ada neng, tapi kalo celana ada ukuran akangnya aja," ucapan si bapak langsung mengena, ia bisa melihat pakaian Dira dan Rai yang setengah basah.
Tiba tiba ponsel Dira bergetar lama. Ada telepon. Degup jantungnya kontan menjadi cepat. Dira melirik Rai sudah sibuk berkeliling di toko yang tidak seberapa besar. Di tangan Rai sudah ada dua sweater biru tua yang ia ambil sembarang. Dira melihat ponsel yang masih bergetar di tangannya, nama ’Bunda’ muncul di layar.
#bersambung

Sabtu, 30 Juli 2016

Musim Hujan - 3

Cukup lama Dira dan Rai saling melepas rindu dalam rengkuhan yang dingin. Sisa hujan membawa angin yang masuk di sela-sela kaus dan celana, menyentuh kulit mereka yang basah dan menggigil.
Seribu bayang tiba-tiba muncul dalam pejaman mata Dira yang penuh pengahayatan. Dira sontak melepaskan Rai tiba-tiba, ia setengah terkejut karena tersadar bahwa ini semua salah. Rai yang begitu peka terhadap keadaan mereka, membelai lembut wajah Dira dan mengecup keningnya. "Engga apa-apa ra, aku ga bakal lewatin batas yang udah kamu pasang buat aku," Dira tersenyum lirih. Nanar mata dira mencari kejujuran dalam diri Rai, senyum yang lebih pedih justru membingkai wajah teduh di hadapannya.
"Rai," Dira menyebut nama Rai penuh iba, iba pada dirinya, dan diri Rai. Iba yang menusuk setiap mili hati mereka, seolah ada kata yang harus diucap, namun seribu bayang tadi menghentikan seluruh aktivitas tubuh, Dira kaku. Ucapan berhenti pada kata yang belum ia katakan, hanya sepotong nama yang berhasil keluar.
"hmm," jawab Rai hanya berdehem, tapi matanya fokus menunggu ucapan Dira selanjutnya.
Bola mata Dira berkeliling, mencari akhir dari apa yang ia mulai. Panggilan menggantung yang butuh jawaban terasa berat karena akhirnya Dira memilih menyimpannya lagi. Sejuta tanya yang ia bungkus rapi, setumpuk amarah yang mengeras dan akhirnya luruh sendiri, kebingungan yang menyamarkan rasa cinta menjadi benci kemudian cinta kemudian benci dan terus begitu selama tahunan Rai pergi. Semua itu tunduk pada rindu yang bangkit setelah Rai kembali.
"Ayo pulang Rai, dingin." Dira menatap Rai kembali, senyuman Rai menjadi jawaban bahwa ia setuju. Keduanya berjalan di atas tanah yang basah.
#bersambung