Selasa, 22 Mei 2018

Hahaha! Aku sedih tapi ingin sekali menertawakannya. Tidak habis berpikir, ternyata begitu caramu.
Baik. Terimakasih sudah melakukannya. Aku akan melakukannya juga. Maaf hati, tapi kali ini logika yang harus menang. Karena tidak benar jika terlarut dalam sedih. Jadi marah saja, marah saja pada semua orang. Silakan saja kita berhak.

Minggu, 20 Mei 2018

Sekarang aku tahu jawaban atas kebingunganku selama ini. Mengapa pelukanmu menjadi tempat yang begitu aku suka, mengapa rasanya hangat sekali. Ternyata semua menurun dari ibumu ya?  Pelukan ibumu seolah mengiris ngiris kekuatanku yang sedari tadi aku tahan. Kehangatan itu mengoyak ngoyak hatiku. Seolah meneriakiku di depan muka, "sudah! Kalian sudah selesai!" aku yang terpaku hanya bisa tersenyum mendengar ibumu berbisik "kalau nikah undang tante ya". 
Maaf tangisku tumpah. Betapa perasaan ini terlalu emosional untuk dapat menahan air mata. Betapa tangan yang menggenggamku itu ingin sekali aku balas lebih lama. Hatiku bertambah pedih setelah melihat ternyata ada air yang juga menetes dari matanya. Tanganku gemetar kamu lihat? Aku terlalu gugup menghadapi situasi seperti ini. Mengapa sampai saat seperti ini pun kamu masih memberiku cinta melalui orang orang terdekatmu? Bagaimana caranya aku sanggup menyingkir dari hidup mereka? Yang tanpa sadar sudah aku berikan tempat di hatiku.
Kemungkinan kemungkinan yang sudah tidak mungkin membawaku berpikir terlalu dalam. Terlalu terluka. Maka dari itu tanpa basa basi aku sudahi saja pertemuan yang sebenarnya sudah tidak baik.
Sebab jika lebih lama bahkan satu detik saja, mungkin keputusanku untuk merelakanmu mungkin bisa saja berubah. Kembali berharap dan patah hati.

Rabu, 16 Mei 2018

Aku ingin sekali datang kepadamu menyerahkan rindu yang terlalu berat ini, biar saja kamu yang memikulnya. Aku lelah.
Merindukanmu selalu membuatku ingin melihatmu. Terkadang aku kepikiran untuk mencari tahu setidaknya kabar, mengetes jantungku apakah sudah membaik?
Tapi aku takut, takut jika ternyata luka akibat kehilanganmu belum sedikitpun membaik, dan pada akhirnya aku berdarah darah lagi.
Tuhan, aku memang terlalu banyak meminta. Tapi apa masih ada kesempatan agar aku memohon untuk kebahagiaanku? Apa masih bisa bersama orang itu?

Selasa, 15 Mei 2018

Aku hanya bisa menarik napas panjang, menghembuskannya lalu menundukkan kepalaku. Memejamkan mata, dan berpikir.
Kesendirian membuatku lebih banyak berpikir.
Lagi lagi yang terbersit adalah ketidakrelaanku. Lalu kemana kemantapan sebelumnya yang aku katakan? Bahwa aku sudah baik baik saja. Apa itu artinya aku berbohong pada semua orang? Atau aku justru berbohong pada diriku sendiri?
Hai kamu yang baca ini,
Aku tidak mau meminta maaf karena belakangan ini tulisanku sangat melow.
Percayalah itu karena aku punya hati. Karena ada perasaan yang tidak bisa menerima keinginan semesta.
Dan seluruh bayangan akibat ucapanmu dan khayalanku kian menyiksaku semakin dalam. Entah yang terjadi sebaik apa di sana, entah apa yang terjadi esok hari (untukku) akan sebaik yang di sana?

Hai kamu, yang menjadi penghuni tunggal dalam relungku yang terdalam. Sungguh aku telah lelah tertatih berharap kamu kembali. Tapi ketidakmampuanku menjalani hidup tanpa kamu sulit sekali aku pungkiri.
Sayang, aku ingin sekali menyelesaikan ini. Sunguh ingin sekali.
Namun kekuatanku sudah amat terkuras untuk merindu padamu. Untuk menahan rindu itu. Tidak pernah tersisa untuk hati yang sudah lemah. Yang mungkin sudah mati tapi hidup lagi meskipun sekarang statusnya tetap sekarat.

Senin, 14 Mei 2018

Setelah dipikirkan berulang-ulang, aku seperti orang bodoh ya. Tadinya nyonya besar, lalu sekarang dibuat seperti tetangga. Lebih menyedihkannya, kamu membuat kebodohan itu menjadi kuadrat. Betul nggak? Apalagi setelah aku mendengar kamu melakukan dengan keduanya. Iya. Aku.