Sabtu, 23 Juni 2018

Menurutku tidak masalah jika kamu merasa hancur ketika patah hati, sebab 'baik-baik' saja seringkali disalahartikan.

Minggu, 27 Mei 2018

Sebab jika terlihat lebih dari takarannya, apa hatiku sekecil itu?

Minggu, 29 April 2018

Hai kamu, sebuah kesepakatan antara Tuhan dan aku.
Terimakasih sudah mencari tulang rusukmu yang hilang ini.
Aku akan cerita sedikit jika kamu kebingungan memaknai aku yang terlihat nanar tidak karuan.
Aku punya dua masa lalu.
Yang satu baik, dan yang satunya amat tidak.
Keduanya saling berkaitan dan bekerjasama membentuk hidupku yang seperti ini.
Dan jika kamu orangnya,
Yang rela menerima masa laluku, baik atau tidak,
Aku akan melakukannya.
Berjuang lagi.
Menghidupkan hatiku yang dibuat mati.
Aku akan memaklumi cemburumu karena akupun pasti begitu, terlebih jika ternyata masa lalumu bahkan lebih indah dari punyaku.

Kepada kamu, yang degup jatungnya berteriakan bersama milikku ketika kita saling bertatap.
Tuhan selalu punya cara untuk membuat kita yakin. Seperti ucapan yang salah tingkah, atau senyum yang malu malu. dan jika seperti ini memang jalannya mempertemukanmu denganku,
Aku pasrah.

Kepadamu, aku bermaksud mengajakmu ke suatu ruang yang amat luas. Yang isinya kosong tidak ada apa apa. Di situ kamu boleh menyimpan setiap rasa yang kamu anggap menyakitkan, dan merelakan semua rasa yang kamu kira dulu adalah yang paling indah.
Pun aku akan melakukan hal yang sama.
Aku akan menguncinya.
Tentu suatu saat kamu boleh membukanya, dan kita berdua akan melihat lembaran lembaran rasa itu sambil tersenyum. Tentu saja untuk menyadari, bahwa Tuhan selalu memberi kita kesempatan untuk belajar. Untuk mengetahui seperti apa kehilangan dan ditinggalkan.
Dengan begitu kita akan betul betul menghargai sebuah kesempatan. Untuk bahagia.

Dan kita berdua perlahan menjadi orang asing yang tidak bijak. Membuang kemungkinan mentah-mentah tanpa berusaha.
Dan kini aku akan mematikan rasa, karena dulu aku sering belajar manajemen hati.
Cinta bukan cinta jika hanya satu yang berjuang. Meskipun pelukmu masih sangat aku ingat, tapi bukankah kelak kita menjadi benar benar asing? Bukan setengah-setengah.

Jumat, 27 April 2018

Kita adalah sepasang ketidakmampuan. Dan saling bergantian memaklumi keadaan. Sekarang giliran aku yang bertahan, memaksa lirih berkamuflase dalam keseharian.

Tidak salah memang jika kamu memilih bertahan disana. dan aku yang paling mengerti tentang sebuah aksara, yang kamu buat sebagai alasan untuk tetap menjadikanku bayang kehidupanmu yang nelangsa.

Kita adalah sepasang besi yang ditempa menjadi rel kereta api di atas kerikil batu.
Yang saling membutuhkan, namun tidak mungkin bersatu.
Aku mungkin tidak terbuat dari tulang rusukmu yang hilang satu.
Namun jangan lupa, aku punya peran penting meskipun dalam ketidakbaikan yang melukaimu

Tidak salah memang, jika Tuhan tidak menggariskan takdirnya untuk kita. Dan aku yang paling mengerti hatimu seperti apa.
Dalam rasa nyaman yang kini kamu sudah mulai terbiasa, tidakkah bisa selipkan sedikit rindu untukku meski dipelukmu aku sudah tidak ada?